Saintifik dan Spiritual Hadapi Covid-19

Oleh: Prof. Khoiruddin Nasution-Guru Besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan KalijagaYogyakarta, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) & Program Magister [MSI-UII]

Dimuat di SKH. Kedaulatan Rakyat, Edisi Jum’at, 3 April 2020.

Ada kisah jaman sahabat yang penting kita tahu, dan boleh jadi menjadi dasar kita bersikap dan bertindak saat ini, pandemic global covid-19. Al-kisah, satu hari Khalifah Umar bin Khattab ra bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri/provinsi Syam (sekarang Damaskus). Mereka berhenti di daerah perbatasan sebelum memasuki Syam karena mendengar ada wabah Tha'un Amwas yang melanda negeri tersebut. Sebuah penyakit menular, benjolan di seluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, seorang yang dikagumi Umar ra, sang Gubernur Syam ketika itu datang ke perbatasan untuk menemui rombongan. Dialog antar para sahabat terjadi, apakah mereka masuk atau pulang ke Madinah. Umar meminta pendapat anggota rombongan. Mereka berbeda pendapat. Abu Ubaidah ra menginginkan mereka masuk, dan berkata mengapa kita lari dari takdir Allah SWT.

Lalu Umar ra menyanggah dan bertanya, jika kamu punya kambing dan ada 2 lahan, satu lahan subur sementara satunya kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Ke lahan kering adalah takdir Allah, demikian juga ke lahan subur adalah juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan pulang, kita berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain. Akhirnya perbedaan pendapat berakhir ketika Abdurrahman bin Auf ra mengucapkan hadis Rasulullah SAW. “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya (HR. Bukhari & Muslim). Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah.

Wabah berhenti setelah Amr bin Ash ra gubernur Syam melakukan upaya karantina. Sang gubernur berseru, wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung. Rakyatpun berpencar dan menempati gunung-gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar.

Pelajaran

Belajar dari peristiwa tersebut dapat diambil pelajaran. Pertama, konsep karantina yang diajarkan nabi Muhammad SAW sudah pernah dipraktek para sahabat. Tujuan karantina adalah dalam rangka menghentikan penyebaran penyakit. Konteks karantina kemudian dikembangkan sesuai tuntutan dan kebutuhan. Untuk konteks kita di Indonesia sekarang, bagi yang tidak butuh karantina atau isolasi adalah melakukan social distancing dan berdiam di rumah. Tujuannya adalah untuk menekan penyebaran Covid-19.

Kalau terpaksa keluar rumah karena kebutuhan yang tidak dapat ditinggal atau tidak bisa ditunda, di samping melakukan physical-distance, ada juga protokoler yang perlu dipatuhi. Pertama, tanamkan niat keluar karena Allah. Kedua, lengkapi diri dengan perlengkapan penangkal penyakit; masker, sarung tangan, hand sanitizer, sabun dan jaz hujan. Ketiga, berdoa dengan berserah kepada Allah. Doa yang sudah dijanjikan akan menjauhkan kita dari bala di antaranya berbunyi, ‘bismillahi tawakkultu ‘ala Allah, bismillah lâ yadurrusmuhu syai’un fil ardi wa lâ fissamâ’ wa huwasami‘ul ‘alim. Dijanjikan oleh Allah orang-orang yang membaca doa ini tiga kali sehari semalam akan terhindar dari bala dan bencana. Keempat, bersadaqah sebab sadaqah menolak bala. Kalau tidak bisa bersadaqah uang dapat diganti dengan beras atau dengan berbuat baik apa saja yang bisa dilakukan. Kelima, berangkat dengan tetap berzikir kepada Allah swt. Dengan doa, zikir dan sodaqah kita diberikan kekuatan, kemampuan, dan bantuan Allah untuk dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan kebutuhan.

Sepulang dari bepergian dilakukan juga protokoler sebagai berikut. 1. Buka sepatu di pintu, sebelum memasuki rumah. 2. Tuangkan/semprotkan alkohol desinfektan pada sepatu tersebut, pakaian, ponsel, kacamata, kunci, ballpen, perangkat kerja, komputer laptop, dan lainnya. 3. Buang semua tanda terima pembelian, kuitansi, bon-bos atau kertas-kerta yang bisa dibuang, kalau memang ada kertas-kerta itu penting sekali semprot dengan disinfektan. 4. Masuk rumah bertelanjang kaki langsung cuci tangan bersih-bersih dengan sabun. 5. Masuk ke kamar buka pakaian dan langsung tempatkan pakaian kotor di keranjang untuk siap dibawa ke mesin cuci. 6. Jangan menyentuh apa pun. 7. Jangan lantas duduk di kursi atau tempat tidur, leha-leha. 8. Langsung segera mandi keramas, gosok gigi, dan lain-lain. Sesudahnya barulah kita menyapa keluarga.

Semoga kita masuk pada kelompok yang bersikap dan bertindak dengan memadukan saintifik dan spiritual. Dengan dua kekuatan tersebut semoga kita termasuk manusia yang telah berusaha maksimal (ikhtiyar) dan buahnya terhindar dari Pandemic Covid-19. Dengan bertindak demikian juga kita termasuk menjalankan usaha secara rasional dan terukur, tidak abai tetapi juga tidak lebay.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler