Keluarga Besar UIN Sunan Kalijaga Halal Bi halal, Dihadiri Para Mantan Rektor dan Pensiunan

Prof. Dr. H. M. Atho Mudzhar

Keluarga besar UIN Sunan Kalijaga melaksanakan syawalan dan halal bi halal 1436 H / 2015 M, bertempat di gedung Multipurpose kampus setempat, Kamis, 23 Juli 2015. Acara yang dihadiri seluruh karyawan, dosen, para pejabat UIN Sunan Kalijaga, para mantan Rektor dan pensiunan tersebut mengangkat tema “Semangat Fitri Meraih Distingsi. Wakil rektor I, Prof. Sutrisno dalam pidato pembukaannya mengharapkan, acara halal bi halal ini bisa kembali mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan kinerja seluruh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga.Sementara mantan rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar yang hadir pada kesempatan ini menyampaikan uraian hikmah halal bi halal dengan tema “Spirit Fitri, Meraih Distingsi” antara lain menyampaikan bahwa, syawalan berarti bulan peningkatan. Sebagai civitas akademika, karyawan dan dosen keluarga besar UIN Sunan Kalijaga seharusnya menjadikan momentum syawalan ini sebagai sarana peningkatan etis kerja. Dalam paparannya Atho Mudzhar mengharapkan, spirit fitri ini dapat meningkatkan etos kerja guna meningkatkan kualitas pelayanannya terhadap masyarakat.

Selain itu, sebagai civitas akademika yang sudah membulatkan tekat untuk menghilangkan distorsi keilmuan agama dan umum, karyawan dan dosen UIN Sunan Kalijaga memiliki tanggung jawab moral yang tidak ringan. Oleh karenanya, spirit integrasi dan interkoneksi keilmuan di UIN Sunan Kalijaga harus terus diperjuangkan bersama

Menurut Atho Mudzhar, rendahnya pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah menjadikan tantangan tersendiri dalam mengawal spirit integrasi-interkoneksi keilmuan di UIN Sunan Kalijaga. Karena itu civitas akademika UIN Sunan Kalijaga harus terus terdorong untuk melakukan kajian-kajian yang mendalam.

sudah hampir 15 tahun UIN Sunan Kalijaga berjalan sejak berubah menjadi UIN tahun 2004, dengan perjuangannya melakukan integrasi ilmu. Sekarang ini masyarakat sudah mulai menanyakan mana hasil integrasi ilmu itu.

Maka tadarus al Qur’an yang dilakukan UIN Sunan Kalijaga dengan tak kenal lelah melalui upaya-upaya keras integrasi-interkoneksi keilmuan, akan bisa dilihat sudah ada atau belum integrasi keilmuan itu dan sudah atau belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia pengembangan keilmuan integrasi-interkoneksi itu, menurut Atho Mudzhar, dapat dilihat melalui 5 jalur. Jika salah satu saja bisa teridentifikasi, maka dapat dikatakan bahwa integrasi ilmu itu sudah terjadi dan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Semakin banyak jalur teridentifikasi maka semakin baik integrasi itu.

Dan kelima jalur itu adalah :

1. Integasi ilmu pada tataran filsafat atau tujuan ilmunya. Jika suatu ilmu telah bertujuan memelihara keberlangsungan dan kesejahteraan umat manusia, maka di situ sebenarnya sudah terjadi integrasi antara ilmu dengan agama. Karena diantara tujuan Syariah adalah memelihara nyawa dan keberlangsungan keturunan anak manusia. 2. Integrasi dalam substansi ilmunya. Suatu substansi ilmu dapat diberi muatan nilai-nilai Islam atau bahkan identitas Islam, terutama dalam ilmu-ilmu budaya dan ilmu – ilmu sosial, meskipun hal serupa sulit dilakukan terhadap substansi ilmu-ilmu kealaman atau eksakta. 3. Integrasi dalam penggunaannya. Jika dalam penggunaan suatu ilmu telah dibawa serta nilai-nilai atau praktek keagamaan maka ilmu itu telah terintegrasi dengan agama, seperti pembacaan lafaz Basmalah oleh dokter yang hendak melakukan injeksi atau operasi terhadap pasien. 4. Integrasi dalam diri pengembang ilmunya. Seorang peneliti Muslim misalnya, tentu tidak akan melakukan eksperimentasi cloning terhadap babi yang najis dan haram itu, karena nilai-nilai Islam yang dianutnya akan mengarahkannya ke topic atau proyek penelitian lain yang lebih suci. 5. Integrasi ilmu dengan cara restrukturasi ilmu inti dan ilmu bantunya. Setiap cabang ilmu pasti memiliki inti dan ilmu bantunya. Dengan mengubah atau menambah ilmu-ilmu Bantu itu, sebuah cabang ilmu dapat diberi dorongan kea rah integrasi ilmu. Demikianlah pentagon (segi lima) yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum atau untuk mengidentifikasi keberadaan elemen integrasi dalam suatu cabang ilmu, Demikian jelas Atho Mudzhar. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga)