Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Mengupas Makna Syawalan Sebagai Abdi Negara

Drs. Muhammad Damami, M.Ag., mengatakan, forum halal bi halal atau syawalan, setelah melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh bisa dijadikan forum refleksi diri dan saling mengingatkan untuk menjadi hamba Allah yang lurus. Lebih-lebih sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, kita dituntut untuk selalu hati-hati agar tidak terjerat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang melanggar ketentuan agama.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Damami di hadapan segenap karyawan dan dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dalam forum syawalan, bertempat di ruang pertemuan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, kampus UIN Sunan Kalijaga, Jum’at, 24 Juli 2015.

Lebih jauh pensiunan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam itu mengingatkan, ada baiknya kita mencontoh metamorphose ulat sampai menjadi kupu-kupu. Mereka tafakur pada alam semesta. Ketika masih menjadi ulat bentuknya menjijikkan. Ulat berjuang keras agar hidupnya terus berlangsung dan berlanjut menjadi kepompong. Ketika menjadi kepompong, menahan diri, memenjarakan diri agar bisa menjadi kupu-kupu yang indah yang bisa memberikan madu bagi kelangsungan hidup alam sekitarnya. Dalam hidup kita (menusia) diberi kebebasan penuh oleh Tuhan. Jika kita tidak mau melakoni metamorfase kepompong, kita akan terus menjadi ulat yang rakus dan tak memberi manfaat bagi alam sekitar.

Beruntung manusia diberi kewajiban oleh Tuhan untuk berpuasa ramadhan. Dengan puasa ramadhan kita diibaratkan seperti kepompong, menahan diri, memenjarakan diri, untuk diambil hikmahnya, dalam menjalani kehidupan di luar bulan puasa. Selama sebulan dalam puasa ramadhan, bumi ini dipenuhi dengan hamba-hamba Allah yang sedang prihatim menjalankan puasa ramadhan. Kewajiban puasa ramadhan selama 1 bulan dalam setiap tahun, tentu memberikan hikmah bagi perjalanan hidup sepanjang tahun.

Bila dikaitkan dengan profesi sebagai abdi negara, kata Damami, setiap hari kita dihadapkan pada pekerjaan dan masalah yang membutuhkan pemecahan dengan sebaik-baiknya. Dengan iklas menjalankan puasa ramadhan, akan melatih kesabaran, kedisiplinan, ketelitian dalam melaksanakakan setiap pekerjaan dan memecahkan setiap permasalahan yang menghadang. Sehingga kita akan menjadi orang-orang yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang. Sementara pegangan memecahkan masalah adalah do’a setiap saat. “Mari kita menjadi seperti kupu-kupu yang Indah, yang bisa memberikan madu bagi kehidupan, demikian ajak Damami. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Mengupas Makna Syawalan Sebagai Abdi Negara

Drs. Muhammad Damami, M.Ag., mengatakan, forum halal bi halal atau syawalan, setelah melaksanakan puasa ramadhan selama sebulan penuh bisa dijadikan forum refleksi diri dan saling mengingatkan untuk menjadi hamba Allah yang lurus. Lebih-lebih sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, kita dituntut untuk selalu hati-hati agar tidak terjerat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang melanggar ketentuan agama.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Damami di hadapan segenap karyawan dan dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dalam forum syawalan, bertempat di ruang pertemuan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, kampus UIN Sunan Kalijaga, Jum’at, 24 Juli 2015.

Lebih jauh pensiunan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam itu mengingatkan, ada baiknya kita mencontoh metamorphose ulat sampai menjadi kupu-kupu. Mereka tafakur pada alam semesta. Ketika masih menjadi ulat bentuknya menjijikkan. Ulat berjuang keras agar hidupnya terus berlangsung dan berlanjut menjadi kepompong. Ketika menjadi kepompong, menahan diri, memenjarakan diri agar bisa menjadi kupu-kupu yang indah yang bisa memberikan madu bagi kelangsungan hidup alam sekitarnya. Dalam hidup kita (menusia) diberi kebebasan penuh oleh Tuhan. Jika kita tidak mau melakoni metamorfase kepompong, kita akan terus menjadi ulat yang rakus dan tak memberi manfaat bagi alam sekitar.

Beruntung manusia diberi kewajiban oleh Tuhan untuk berpuasa ramadhan. Dengan puasa ramadhan kita diibaratkan seperti kepompong, menahan diri, memenjarakan diri, untuk diambil hikmahnya, dalam menjalani kehidupan di luar bulan puasa. Selama sebulan dalam puasa ramadhan, bumi ini dipenuhi dengan hamba-hamba Allah yang sedang prihatim menjalankan puasa ramadhan. Kewajiban puasa ramadhan selama 1 bulan dalam setiap tahun, tentu memberikan hikmah bagi perjalanan hidup sepanjang tahun.

Bila dikaitkan dengan profesi sebagai abdi negara, kata Damami, setiap hari kita dihadapkan pada pekerjaan dan masalah yang membutuhkan pemecahan dengan sebaik-baiknya. Dengan iklas menjalankan puasa ramadhan, akan melatih kesabaran, kedisiplinan, ketelitian dalam melaksanakakan setiap pekerjaan dan memecahkan setiap permasalahan yang menghadang. Sehingga kita akan menjadi orang-orang yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang. Sementara pegangan memecahkan masalah adalah do’a setiap saat. “Mari kita menjadi seperti kupu-kupu yang Indah, yang bisa memberikan madu bagi kehidupan, demikian ajak Damami. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).