Seminar Kondisi dan Prospek Kemampuan Pendidikan Tinggi Mengembangan Ilmu Pengetahuan , Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Dari Seminar Kondisi dan Prospek Kemampuan Pendidikan Tinggi Mengembangan

Ilmu Pengetahuan , Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah mengatakan, pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan agama, ilmu-ilmu dan studi keislaman, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tugas baru keilmuan saat ini adalah demi untuk meraih peradaban dan masyarakat baru yang lebih sejahtera, damai dan harmonis. Ilmu pengetahuan baru yang inovatif, kreatif dan transformatif hanya dapat diraih, jika para ilmuwan dan peneliti berani berfikir out of box. Berfikir out of box dari disiplin yang biasa dikuasainya dan digelutinya. Bukan untuk meninggalkannya, tetapi untuk mengembangkannya. Oleh karenanya, pendekatan multidisiplin keilmuan di lingkungan perguruan tinggi adalah sudah seharusnya untuk meraih tujuan kesejahteraan, kedamaian dan keharmonisan peradaban masyarakat kini dan ke depan.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga ini, saat menjadi pembicara dalam seminar “Kondisi dan Prospek Kemampuan Pendidikan Tinggi Mengembangan Ilmu pengetahuan”, bertempat di Convention Hall, kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis, 20 Agustus 2015. Forum ini terselenggara atas kerjasama Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerjasama dengan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Forum ini dihadiri para mahasiwa, kalangan akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan dari luar negeri. Selain Amin Abdullah, hadir pula pembicara antara lain : Prof. Dr. Mayling Oey-Gardiner dari AIPI, Rektor Universitas Sanata Dharma, Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., yang menyampaikan makalahnya dengan tema “Kondisi dan Prospek Pengembangan Ilmu pengetahuan di Pendidikan Tinggi dalam Perspektif Keilmuan, Kebijakan dan Praktik”. Prof. Dr. Bambang Purwanto (UGM) dan Prof. Dr. Noorhaidi Hasan (Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga) yang menyampaikan Makalahnya dengan tema “Tantangan dan peluang Membangun Jajaring dan Kolaborasi Riset”. Prof. Dr. Mien A. Rifai (AIPI) dan Dr. Hilman Latief (Ketua LP2M UMY) yang menyampaikan makalahnya dengan tema “Tantangan dan Peluang Pengembangan Ilmu pengetahuan dalam Riset dan Publikasi Hasil Riset”.

Menurut Amin Abdullah, Perguruan Tinggi Research sampai saat ini belum begitu tumbuh di tanah air. Salah satu sebabnya karena para peneliti dan dosen terlalu nyaman ada dalam dunia pendidikan tinggi yang bersifat pendidikan dan pengajaran. Titik tekan tugasnya hanya sebatas transfer of knowledge, bukan creation of knowledge dan skill. Model dan budaya berfikirnya, mentalitas keilmuannya hanya sampai pada batas menguji dan mengaplikasikan teori yang sudah diketahui, belum sampai penemuan hal-hal baru. Sementara, perubahan, penciptaan baru, kreasi, inovasi, transformasi hanya dapat diperoleh jika mentalitas ilmuwan dan keilmuannya bergeser ke context of discovery. Salah satu pintu masuk untuk mencapai context of discovery, jika ilmuwan berani berpikir out of box. Keluar dari zona aman yang bertahun-tahun dijalaninya. Jika para peneliti dan dosen memiliki mentalitas keilmuan baru, semangat dan spirit pendekatan keilmuan yang bersifat interdisiplin, multidisiplin, transdisiplin, maka akan mampu melihat, mengamati,, menganalisis, sesuatu dengan kaca mata dan cara pandang baru yang memungkinkan menciptakan dan menyumbangkan sesuatu yang baru. Hasil temuannya akan selalu fresh, contextual dan bukan hanya sekedar membaca, mengulang-ulang, tidak ketinggalan jaman. Tetapi akan selalu menghasilkan hal baru yang bermanfaat dan memberdayakan yang bisa disumbangkan kepada masyarakat luas.

Mien A. Rifai dalam makalahnya “Mutu Artikel dalam Berkala Ilmiah Indonesia-Pantulan Corak Kegiatan Penelitian di Perguruan Tinggi” antara lain menyampaikan, keluhan berbagai Penerbitan/Berkala ilmiah yang lolos akreditasi diantaranya adalah kekuarang naskah bermutu yang layak terbit, di tengah kemelimpahan skripsi sarjana, tesis magister dan disertasi doktor. Angin segar muncul ketika Dirjen Dikti mengeluarkan kebijakan tahun 2012, yang menggariskan kewajiban diterbitkannya skripsi, tesis dan disertasi. Pemberlakuan ketentuan ini diyakini akan menjauhkan kegiatan sia – sia para peneliti yang menghasilkan laporan tebal-tebal tetapi tak pernah diketahui masyarakat luas karena tidak dipublikasi. Dan akan menanbah ketersediaan bank naskah untuk diterbitkan. Di sisi lain, akan meningkatkan jumlah penelitian yang bermutu, karena penerbitan ilmiah menyaratkan hasil-hasil penelitian yang bermanfaat bagi upaya-upaya pemecahan permasalahan masyarakat luas. Persyaratan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM yang di luluskan perguruan tinggi untuk menyandang gelar akademik bermutu. Hal ini telah dipelopori oleh IPB, yang mengharuskan mahasiswanya menulis skripsi sarjana tidak lebih dari 3.000 kata, tesis magister 5.000 – 8.000 kata, disertsi dokoral 10.000 – 20.000 kata. Berbentuk naskah artikel yang disiapkan sesuai petunjuk penulisan Berkala Ilmiah. Alangkah baiknya jika lembaga penelitian atau perguruan tinggi di negri ini juga melakukan hal serupa IPB. Sehingga para peneliti tidak lagi berkewajiban membuat laporan penelitian tebal-tebal yang tidak jelas kegunaannya karena tidak dipahami masyarakat luas. Sebagai gantinya harus menerbitkan artikel ilmiah bermutu dalam Berkala mapan untuk membukukan keberhasilan pelaksanaan tugas akhir kesarjanaannya. Syukur-syukur kalau persoalan yang dipecahkan oleh kegiatan penelitian secara nyata terkait dengan masalah riil yang diperlukan untuk menaikkan produktivitas masyarakat lingkungannya, demikian harap Mien A. Rifai.

Sementara itu, Rektor Universitas Sanata Dharma dalam makalahnya “Indonesia Cerdas”, mengharapkan, untuk mengembangkan perguruan tinggi sehingga mampu mengatasi persoalan pembangunan nasional maupun persoalan peradaban bangsa, Pemerintah hendaknya menggunakan pendekatan baru yang lebih sesuai. Pertama, Pemerintah hendaknya memperjelas dan membedakan peran antara PTN dan PTS. Kedua, Pemerintah hendaknya memandang PTS sebagai mitra PTN yang harus difasilitasi dan bukannya dikendalikan. Karena PTS sejatinya membantu menutup keterbatasan PTN dalam upaya mencerdaskan bangsa. Ketiga, pendekatan pengembangan PT yang dilakukan Pemerintah haruslah lebih bersifat esensial yang sesuai dengan nilai-nilai dalam budaya akademik dan menjauhkan diri dari pendekatan yang bersifat administratif dan formalistik, demikian harap Johanes Eka Priyatma.

Noorhaidi Hasan menambahkan, ada banyak jalan untuk mengatasi pengembangan ilmu pengetahuan dan involusi riset di perguruan tinggi di negri ini. Disamping mengupayakan peningkatan kuntitas dan kualitas riset melalui intervensi manajerial, birokratis, dan administratif, juga perlu ditempuh kebijakan-kebijakan yang lebih substansial. Salah satunya adalah membangun budaya riset yang memungkinkan civitas akademika perguruan tinggi menempatkan riset sebagai prioritas tugas yang menopang peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran, serta pengabdian masyarakat. Dengan terbangunnya budaya riset, penelitian-penelitian yang menarik dan berwawasan dapat dikembangkan yang akhirnya bermuara pada peningkatan publikasi karya ilmiah civitas akademika perguruan tinggi di jurnal-jurnal internasional. Peningkatan budaya riset juga dapat dilakukan dengan kolaborasi riset berskala internasional. Kerjasama riset berskala internasional tidak hanya mencegah riset-riset individualistik yang terisolir dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teori-teori mutakhir semua bidang keilmuan, tetapi juga memungkinkan berlangsungnya riset-riset inter dan multidisiplin yang melibatkan para dosen, peneliti, mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan.

Pengalaman universitas-universitas unggul di Asia, Afrika dan Amerika Latin menunjukkan bahwa komitmen yang tinggi terhadap pengembangan riset memang merupakan kunci keberhasilan mereka mentransformasi diri menjadi universitas riset klas dunia. Komitmen tersebut mereka barengi dengan strategi untuk membangun budaya riset secara substansial. Keluar dari jebakan-jebakan birokrasi dan administrasi sambil mengembangkan kerjasama dan kolaborasi riset berskala internasional. Pemerintah dan seluruh pemengku kepentingan pendidikan tinggi di Indonesia telah lama menyadari kontribusi ilmuwan Indonesia yang kurang memadai dalam pengembangan ilmu pengetahuan berskala global sebagai akibat perhatian yang setengah hati terhadap riset. Kinilah saatnya bergerak bersama-sama mewujudkan perubahan, kata Noorhaidi Hasan. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).

Berita Terkait