Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Hasilkan Doktor ke -491

Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi pengembangan dan preventif. Paradigma baru ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal selokah/madrasah lainnya (pimpinan sekolah/madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak terkait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli, psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di sekolah/madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengembangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Pada kenyataannya terdapat beberapa model pelaksanaan bimbingan dan konseling yang terjadi di sekolah/madrasah, yang sebagaimana tercermin di MAN Yogyakarta III dan SMK Putra Bangsa. Perbedaannya terletak pada cara meletakan BK dalam kurikulum sekolah/madrasah.

Demikian dikatakan oleh Rahmad Hidayat dalam Ujian Promosi Doktor Terbuka di depan tim penguji pada tanggal 19 Januari 2016 di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam desertasinya yang berjudul “Pola Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum (Studi tentang pengembangan Orientasi Akademik Siswa di MAN Yogyakarta III dan SMK Dirgantara Putra Bangsa)” Rahmad ingin juga mengeksplorasi bangunan epistemologi kurukulum, pola integrasi dan konstribusi BK dalam pengembangan afeksi motorik-psikomotorik peserta didik.

Desertasi yang disusun oleh Rahmad Hidayat ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, dengan melakukan analisis terhadap bimbingan dan konseling dan korelasinya dengan struktur kurikulum isi dan kompetensi yang hendak dicapai. Data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam (indepth interview), dan dokumentasi.

Setidaknya ada dua temuan dalam desertasi Rahmad Hidayat ini: Pertama, secara epistemologi MAN Yogyakarta III mengikti pola sparated curriculum di mana BK bukan merupakan kurikulum inti yang diajarkan dan mendapat jam pelajaran secara mandiri. Sedangkan di SMK Putra Bangsa, telah terjadi integrasi kurikulum, di mana BK menjadi bagian integral dalam jam pelajaran yang wajib diikuti oleh semua peserta didik. Kedua, Pola BK di MAN Yogyakarta III dilaksanakan dalam bentuk pelengkap pendidikan (complementary education) di mana kegiatan bimbingan dan konseling tidak sepenuhnya menjadi bagian intrakurikuler akan tetapi berupa kegiatan layanan. Sedangkan di SMK Putra Bangsa kegiatan BK bersifat curriculer, dan student centered), karena masuk dalam jam pelajaran.

Ketua Tim Penguji Promosi Ujian Terbuka Doktor, Prof. Dr.H. Machasin, MA. mewakili tim penguji pada sesi penyampaian hasil ujian, memberikan selamat sekaligus menyampaikan predikat kelulusan, Rahmad Hidayat yang merupakan dosen di IAIN Curup Bengkulu, lulus dengan nilai “sangat memuaskan”, Rahmad Hidayat merupakan doktor ke 491 yang dihasilkan oleh Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (humas-uin)