UIN Suka:Dukung Perdamaian Melalui International Peace Symposium

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini media kita seringkali menyuguhkan berbagai berita seputar perilaku intoleran dan diskriminatif di berbagai bidang kehidupan, termasuk di bidang agama. Hal ini tidak bisa lepas dari semakin memudarnya pemahaman anak bangsa akan urgensi nilai luhur pancasila dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menanggapi persoalan di atas Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Tasyakur Seabad Jamaah Ahmadiyah Indonesia menyelenggarakan International Peace Symposium bertema “The Implementation of Pancasila in the Freedom of Religion as the Inspiration for the World” di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga,Sabtu(29/10).

Simposium ini menghadirkan keynote speaker Prof. Dr. H. Machasin (Dirjen Bimas Islam Kemenag RI) dan Maulana Azhar Haneef, Shd (AMC United State of America) serta pembicara Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A.Ph.D (Rektor UIN Sunan Kalijaga), Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA(Komisioner HAM Organisasi Konferensi Islam), Mln. Mirajudin Shd (Jemaat Ahmadiyah Indonesia), Dr. Yayah Khisbiyah,MA (Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta), Ahmad Suaedy, MA (Peneliti Wahid Institute), Ahmad Najib Burhani, MA., Ph.D (Peneliti LIPI) dan Maulana Ainul Yaqeen Shd (Komunitas Ahmadiyah Malaysia).

Acara ini dibuka oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A.Ph.D. Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh lembaga sosial, masyarakat umum, organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU), akademisi, mahasiswa serta praktisi pendidikan.

Prof. Dr. H. Machasin mengatakan banyak daerah di Indonesia terdapat kebiasaan dan ajaran kemasyarakatan yang merupakan sikap positif terhadap kepelbagaian dan kehidupan bersama secara harmonis di antara warga yang berbeda-beda afiliasi keimanan dan/atau kesukuannya. Seperti ajaran kemasyarakatan yang ada di Sulawesi Utara dan Maluku bahwa semua orang bersaudara yang diungkapkan dengan istilah “katong bersaudara”. Di jawa tengah dan Jawa Timur ada istilah sambatan dan gotong royong, di Ambon muncul istilah siwalima dan di Sulawesi Barat terdapat istilah sola sunggang.

Machasin menambahkan di Maluku juga terdapat ikatan pela dan gandong. Pela berarti ikatan antara seseorang dengan tentangganya, sementara gandong berarti ikatan kekerabatan atau ikatan darah. Tidak peduli apakah tetangga kita beragama apa dan bersuku apa, kita terikat dengannya dalam menyelenggarakan kehidupan bersama dalam suka dan duka.

“ Sesuai UUD Tahun 1945 Pasal 28 E meyebutkan setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, serta Pasal 29 Ayat (2) menerangkan, Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” tutur Machasin.

Hal senada juga di jelaskan oleh perwakilan dari Jemaat Ahmadiyah, Maulana Azhar Haneef, Shd bahwa menurutnya semangat perdamaian sebaiknya tidak berhenti di acara ini saja. Namun juga bisa disebarluaskan kepada seluruh dunia.

Menurut Maulana Azhar Haneef walaupun dalam keyakinan masyarakat memiliki perbedaan, namun kita ialah makhluk dengan satu pencipta (creator). Maka perdamaian menjadi keharusan bagi kehidupan. Maka acara kali ini perlu menjadi perhatian bagi seluruh peserta maupun tamu undangan yang hadir. (tri-ch/humas UIN Suka)