PUBLIC LECTURE “ANTICORRUPTION MOVEMENT IN CANADA”

Tindak korupsi yang telah megakar dan membudaya di tengah masyarakat tidak mudah untuk dihilangkan. Kesempatan, kebutuhan, toleransi, rasionalisasi merupakan unsur-unsur yang memicu munculnya tindak korupsi. Efek negative dari tindak korupsi sangat buruk, baik secara material, immaterial, bahkan korban jiwa. Pada masa ini generasi muda dan sosial media memiliki peran penting dalam penolakan atau menentang tindak korupsi yang membudaya di kalangan pebisnis, pemerintah dan masyarakat pada umumnya di seluruh dunia.

Gerakan menentang korupsi harus melibatkan semua pihak secara bersamaan, baik akademisi, kepolisian dan unsur masyarakat lain, secara lokal, nasional bahkan internasional. Mahasiswa merupakan unsur generasi muda yang memiliki peran penting dalam menentang dan meminimalisir tindak korupsi dan penyuapan yang dapat meruntuhkan dinding demokrasi. Dengan demikian mahasiswa dapat menjadi menjadi ujung tombak perubahan yang lebih baik.

Demikian beberapa pemaparan yang disampaikan oleh Sgt. Petrice Poitevin, sebagai Senior Investigator Royal Canadian Mounted Police yang didampingi oleh staf Kedutaan Besar Kanada Fajar R. Harisusanto dalam Public Lecture: Anticorruption Movement in Canada. Kuliah umum ini disampaikan di depan para sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga pada hari Selasa, 15 November 2016, di ruang teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga.

Indonesia sebagai negara yang tingkat korupsinya dikenal cukup tinggi perlu berkaca kepada negara lain yang tingkat korupsinya sangat minim, seperti Kanada. Indonesia perlu menyelami bagaimana Kanada berjuang untuk meminimalisir tindak korupsi yang terjadi di semua aspek masyarakat. Investigasi terhadap para pelaku bisnis swasta yang terindikasi adanya tindak korupsi di Kanada sangat intens dilakukan untuk memberikan efek jera bagi pelaku bisnis yang lain. Salah satu efek dari tindakan antikorupsi adalah runtuhnya reputasi perusahaan yang melakukan tindak korupsi sehinga perusahaan tersebut tidak mendapat kepercayaan lagi dari masyarakat.

Kegiatan kuliah umum yang diselenggarakan oleh Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan Kedutaan besar Canada ini dibuka oleh Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Dra. Labibah Zain, MLIS, dan dihadiri oleh 130 orang akademisi dari dalam dan luar UIN Sunan Kalijaga. Dalam sesi diskusi banyak sekali peserta yang ingin mengajukan pertanyaan, namun karena waktu yang terbatas menyebabkan tidak semua peserta yang antusias mengikuti acara ini dapat menyampaikan pertanyaan kepada narasumber. (ist/humas)