FKIST Fakultas Sains dan Teknologi Sukses Selenggarakan Innovation and Research Competition 2 dan Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir

Forum Kajian Islam dan Sains Teknologi (FKIST) Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sukses menyelenggarakan serangkaian agenda Kalijaga Innovation and Research Competition 2017 (KIST 2). Event ini melaksanakan 2 agenda. Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional dan Seminar Nasional. Puncak agenda KIST2 berlangsung 24-26/2/2017, dengan diselenggarakanya presentasi Grand Final LKTIN KIST 2 dan Seminar Nasional FKIST 2017.

Grand final LKTIN KIST 2 berlangsung di Ruang Teatrikal, kampus Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Jumat (24/2), dihadiri 10 finalis dari 9 Universitas, yakni: USU, IPB, ITB, UGM, UNY, UNJA, ITS, UNPAD dan UI. Dalam laporannya saat Grand inal, ketua panitia Lomba Karya Tulis Ilmiah, Mazlan, antara lain menyampaikan, Sebelum Grand Final, telah masuk ke panitia KIST 2, sejumlah 124 karya riset para mahasiswa terbaik perwakilan Perguruan Tinggi se - Indonesia. Setelah melalui seleksi Tim Juri yang terdiri dari : Indaruji Setyadi, M.Sc., Jumailatus Solihah, S.Si., M. Biotech, Idhan Syah Alam, M.Sc., Karmanto S.Si., M.Sc. terpilih 10 karya riset terbaik. 10 karya riset terbaik ini merupakan karya-karya terbaik mahasiswa Indonesia. “Karya-karya ini merupakan karya-karya riset aplikasif yang bisa dikembangkan lebih lanjut dalam rangka mengatasi permasalahan di Indonesia,” kata Mazlan.

Wakil Dekan III, Dr. Ja’fat Luthfi menambahkan Bagi FKIST, 124 karya riset yang masuk, lebih lebih yang masuk 10 besar merupakan kekayaan akademik yang luar biasa. Ini bagian dari upaya mengembangkan eksperimental science. Melalui event-event seperti ini pihaknya berharap, bisa memotivasi 10 Prodi di Fakultas Sains dan Teknologi ini untuk konsisten menggali keilmuan berbasis eksperimen.

Mewakili Tim Juri, Karmanto, M.Sc. menyampaikan, dalam perlombaan kalah dan menang adalah hal yang biasa. Selalu ada yang terbaik diantara yang baik" ujar Pak Karmanto, M.Sc selaku juri saat memberi pesan motivasi.

Hasil penilaian dari grand final LKTIN KIST2 diumumkan Minggu (26/2) bersamaan dengan Seminar Nasional Pengambangan Energi Nuklir Bidang Kesehatan. bertempat di Convention Hall, yang merupakan rangkain dari agenda KIST 2. Diantara 10 karya tulis yang dipresentasikan di hadapan tim juri, Tim IPB yang terdiri dari Irfan Abdul Aziz, Rizky Ilmiyana, Budiarno berhasil meraih juara I dengan judul “Gel Teknik: Aplikasi Smartphone Investasi Berbasis Syari’ah Produk Petemakan Dengan Sistem Mobile Apps”. Juara II diraih ITS dengan karya risetnya berjudul “Inovasi peningkatan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya menggunakan Integrated Solar Energy Harvesier (ISEH) sebagai sumber listrik rumah tangga, dengan Tim yang terdiri dari Muhammad Nafis Ismail, Arif Rachman Hakim, Herviyandi Herizal. Juara III diraih Tim dari UI yang terdiri dari Hafsah Afifah Tamimi, Brilyana Bela Islam, Ayik Abdillah, dengan karya yang berjudul “Pengolahan Air Lindi Aneorobik Digrester Menggunakan Mikroalga Chioreka Velgaris Sebagai Solusi dalam Mengurangi Kadar N.

Sementara itu seminar nasional dengan tema “Aplikasi Teknologi Nuklir dalam Dunia Kesehatan” bertujuan untuk memberikan wawasan kepada akademisi ataupun non akademisi bahwa teknologi nuklir juga memiliki manfaat dan peran yang banyak di berbagai bidang, salah satunya di bidang kesehatan. Forum ini menghadirkan pembicara; Nita Handayani, M.Si (Dosen fisika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, yang juga peneliti fisika nuklir dan biofisika), Dr. Suharyana, M.Sc. (Dosen UNS dan peneliti fisika reaktor neutronik dan fisika medis) dan Dr. Susilo Widodo, M.Eng. (Kepala PSTA BATAN -Badan Tenaga Nuklir Nasional- Yogyakarta).

Nita Handayani menjelaskan bahwa kedokteran nuklir merupakan cabang dari ilmu kedokteran yang mempelajari tentang proses fisiologi dan biokimia yang terjadi di dalam tubuh manusia dengan memberikan perunut radioaktif terbuka (unsealed radioactive substances). Zat tersebut mengandung farmaka (obat-obatan) yang diberi label radioisotop, biasa disebut “radiopharmaceuticals.” Ada Jenis untuk diagnosa dan ada jenis untuk terapi.

Dijelaskan, teknologi nuklir dapat digunakan untuk mendiagnosis adanya kelainan dalam tubuh seseorang tanpa harus membelahnya. Sementara proses kerjanya dipadukan dengan peralatan, seperti : - Gamma Camera; untuk menentukan lokasi tumor dalam tubuh (Bone Scan, Lung Scan, Thyroid Scan, Kidney Function, Wolle Body Scan, Perfusion Scan). - Single Proton Emission Tomography. Alat ini memiliki kelebihan dibanding Gamma Camera, yakni; meningkatkan kotras citra, lokalisasi spesial yang bagus, meningkatkan fungsi deteksi abnormalitas, meningkatkan fungsi kualifikasi. Namun masih ada juga kelemahannya yakni; resolusi spesial yang kurang bagus.- Pet-CT Scan; fungsinya sebagai - ceck up deteksi dini kanker, membedakan/menentukan studium kanker dengan tepat, - mencari sumber kanker primer dan penyebarannya, - memantau dan mengevaluasi hasil pengobatan operasi, kemo terapi dan radio terapi,- mengidentifikasi tumor ganas, jinak, serta tingkat keganasannya, - mengukur dengan tepat lingkup penyinaran radio terapi ke sasaran tumor, - menentukan posisi tumor.

Penanganan kanker dilakukan melalui alat, - Modalitas Imaging Diagnostik dan Radioterapi, - Proton Terapi (terapi dengan radiasi berkas proton untuk menghancurkan sel kanker yang fokus pada area tumor sehingga tidak merusak jaringan sehat. Semua itu tercipta berkat riset yang berkelanjutan, demikian jelas Nita.

Dr. Suharyana menyinggung mengenai peluang dan tantangan fisikawan medis, berdasarkan Perka BAPETEN. Ditetapkan bahwa, setiap rumah sakit yang memiliki fasilitas radiologi wajib menyediakan tenaga fisika medik yang memenuhi syarat. “Ketentuan ini diberlakukan mulai tahun 2013,” ujar Dr. Suharyana. Artinya terdapat peluang yang luas untuk para fisikawan medik. Namun saat ini keberadaan tenaga fisikawan medis profesional masih sangat terbatas. Banyak rumah sakit yang memiliki fasilitas radiologi namun belum memiliki fisikawan medis. Ini peluang besar bagi lulusan Prodi Fisika untuk studi lanjut bidang Fisika Medis.

Dr. Susilo Widodo menambahkan, bagaimana peran BATAN dalam aplikasi Iptek nuklir di bidang kesehatan, “Tugas pokok dari satuan kerja Pusat teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi(PTKMR) BATAN adalah melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang dosimetri, biomedika, teknik nuklir kedokteran, dan pelaksanaan pelayanan metrologi radiasi serta pelayanan pengendalian keselamatan kerja dan kesehatan,” ujar Dr. Susilo Widodo. Penelitian dan pengembangan pemanfaatan teknik nuklir dalam kedokteran terdiri dari diagnostik secara in vitro, in vivo dan terapi. Selain itu, BATAN juga memberikan bantuan teknis dalam promosi dan diseminasi nuklir dalam bidang kedokteran. [AAM, Weni Hidayati)]