UIN Sunan Kalijaga Selenggarakan Seminar Nasional “Pancasila Rumah Semua Anak Bangsa” Dan Launching Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara

Film Dokumenter Jihat Selfie karya Noorhuda Ismail (alumni UIN Sunan Kalijaga) menggambarkan bagaimana anak muda Indonesia tertarik pada ideologi transnasional, bergabung dengan ISIS di Irak dan Syiria. Mereka sama sekali tidak merasa terikat dengan ideologi kebangsaan di tanah airnya sendiri. Bahkan kini fenomena gerakan anti Pancasila terus menguat. Seperti digambarkan dalam aksi massa 212, 313 dan parade khilafah Hisbut Tahrir Indonesia. Aspirasi untuk mengganti Pancasila harus diwaspadai karena dapat merusak taman permadani yang bernama Indonesia.

Para Founding Father menyadari dan memahami keragaman Indonesia baik secara agama (Multi Religius) maupun budaya (Multi Culture). Keragaman tersebut dijahit dengan Pancasila menjadi taman permadani yang Indah dan beraneka warna yakni Indonesia. Pancasila menjamin agar Indonesia tetap menjadi rumah yang nyaman bagi semua warganya yang beragam, apapun agama dan budayanya. Dalam membangun rumah besar dalam bingkai NKRI, Para Tokoh Islam kala itu rela mengorbankan kepentingan personal dan kelompoknya untuk menerima Pancasila sebagai azas tunggal. Kini ketika banyak umat Islam yang ingin mengganti NKRI dan Pancasila menjadi Negara Khilafah, UIN Sunan Kalijaga merasa memiliki tanggungjawab besar untuk mempertahankan tetap tegaknya NKRI dan menggelorakan Pancasila sebagai sendi-sendi kegidupan seluruh warganya.

Hal tersebut disampaikan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A.,Ph.D., di hadapan para wartawan media cetak dan elektronik dalam jumpa pers, bertempat di ruang pertemuan Geduang PAU kampus setempat, Senin, 7/8/17. Jumpa pers diselenggarakan terkait akan diselenggarakannya Seminar Nasional Bertajuk “Pancasila Rumah Semua Anak Bangsa” dan Lounching Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara, Rabu, 9/8/17 di Convention Hall, kampus setempat. Jumpa pers juga terkait dengan peresmian Gedung baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi) dan pemberian nama gedung – gedung di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Antara lain: Gedung Pusat Administrasi Universitas diberi Nama Gedung Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Convention Hall dengan nama Gedung Prof. R.H.A Soenarjo, SH., Gedung UPT. Perpustakaan dengan nama Gedung Prof. H.A. Mukti Ali, M.A., dan Gedung Multipurpose dengan nama Gedung Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah (8/7/17). Lebih lanjut Prof. Yudian Wahyudi menjelaskan, sebagai Perguruan Tinggi Islam, pihaknya merasa penting untuk memperjuangkan tetap tegaknya NKRI dan Pancasila dengan terus berupaya mencari pembenaran berdasarkan nilai-nilai Islam dalam Al Qur’an dan Hadis. NKRI dan Pancasila bila tidak dibela dari kalangan umat Islam akan berat. Maka UIN Sunan Kalijaga segera akan melounching Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara. Walaupun di beberapa perguruan tinggi lain sudah lama ada, menurut Prof. Yudian Wahyudi tidak ada gaungnya karena tidak memiliki dalil yang kuat bahwa NKRI dan Pancasila adalah paling tepat. Sementara UIN Sunan Kalijaga punya dalil itu untuk dikaji secara mendalam dan diimplementasikan, yakni Al Qur’an dan Hadis dalam bingkai Keilmuan yang Integratif-Interkonektif.

Pada saatnya nanti, UIN Sunan Kalijaga juga akan membangun penguatan Pancasila melalui kerjasama-kerjasama dengan berbagai elemen; sekolah-sekolah, pesantren, lembaga-lembaga pemerintah, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, sampai ke masyarakat umum dari lapisan bawah sampai yang teratas. Malalui kerjasama-kerjasama ini nantinya akan banyak melahirkan generasi penerus bangsa yang mencintai NKRI dan Pancasila. Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A.,Ph.D., merasa usahanya ini tidak main-main karena yang dihadapi adalah kelompok radikal dan kelompok yang ingin mendirikan negara Khilafah dengan argumen ke-Islaman juga. Maka dalam Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara ini nanti akan dilakukan kajian-kajian yang berkelanjutan untuk menumbangkan argumen ke-Islaman yang dipakai kaum radikal, demikian papar Prof. Yudian Wahyudi.

Sementara itu dalam Seminar Nasional yang menampilkan tokoh-tokoh Islam Nasionalis seperti Jendral (Purn) Wiranto, KH. Solahuddin Wahid, Dr (HC) Zulkifli Hasan, Yudi Latif, Ph.D., dan Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A.,Ph.D. Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A.,Ph.D., ini nanti akan dikupas tuntas nilai-nilai filosofis, historis, sosio-antropologis Pancasila, kontekstualisasi Pancasila sebagai working ideology agar selalu hidup dan menyinari kesadaran perilaku sosial masyarakat Indonesia, dan jurus-jurus counter ideologi atas berbagai kelompok keagamaan yang berupaya mendelegitimasi Pancasila dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).