Menteri Agama RI Resmikan Gedung FEBI dan Nama-Nama Gedung di Kampus UIN Sunan Kalijaga

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin meresmikan Gedung baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), UIN Corner dan Nama-Nama Gedung di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 8/8/17. Peresmian ditandai dengan pembukaan tirai penutup nama pada Gedung PAU yang diberi Nama Gedung Prof. K.H. Saifuddin Zuhri dan pengguntingan pita pada UIN Corner oleh Menenteri Agama didampingi Dirjen Pendidikan Tinggi Islam, Khamaruddin Amin dan Rektor UIN Sunan Kalijaga.

Penamaan gedung-gedung di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menggunakan sejumlah tokoh sebagai nama empat gedung di kampus tersebut. Keempat nama tersebut disesuaikan dengan kontribusi tokoh tersebut terhadap keilmuan dan perkembangan universitas Islam di Indonesia. Salahsatunya Prof. KH. Saifuddin Zuhri yang juga ayahanda Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogja Yudian Wahyudi menjelaskan lima tokoh tersebut antara lain, Prof. KH. Saifuddin Zuhri sebagai nama Gedung Pusat Administrasi Universitas (PAU) atau rektorat, Convention Hall diberikan nama Prof. RHA. Soenarjo. Kemudian gedung perpustakaan dinamai Gedung Prof. HA. Mukti Ali dan gedung serbaguna atau multipurpose dengan nama Gedung Prof. HM. Amin Abdullah.

Saifuddin Zuhri merupakan Menteri Agama yang diangkat pada 17 Februari 1962. Pada masa Soekarno, beliau menjabat sebagai Sekjen PBNU merangkap Pimred Harian Duta Masyarakat, anggota parlemen sementara dan anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Sebagai Menag pada Masa Kabinet Kerja III dan IV, Kabinet Dwikora I, Drikora II dan Kabiner Ampera I.

“Beliau memiliki andil besar dalam dunia pendidikan Islam. Saat beliau menjabat Menag, pendidikan Islam berkembang pesat, IAIN berkembang hingga sembilan propinsi,” ungkap Yudian, Senin (7/8/2017).

Pada masa perjuangan, ayahanda Menag RI ini merupakan Komandan Devisi Hizbullah Jawa Tengah bersama-sama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) turut dalam pertempuran Ambarawa. Ketika memimpin pergerakan Hizbullah, Saifuddin Zuhri kerap mendapat hadiah tanah sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat, namun lahan itu tidak dimiliki secara pribadi melainkan dijadikan bangunan pesantren.

Yudian menambahkan, sedangkan Prof RHA Soenarjo merupakan Rektor IAIN Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Humumiyah sebagai cikal bakal dari UIN Suka dan UIN Sahid Jakarta. Pada masa pergerakan, Soenarjo menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda dan aktif sebagai pengacara yang membela para aktivis pergerakan, sekaligus menjadi penasehat panitia Kongres Pemuda II pada 1928 kemudian melahirkan Sumpah Pemuda.

“Saat Indonesia merdeka, beliau menjabat sebagai menteri luar negeri perios 1953 hingga 1955,” ungkap dia.

Kemudian penamaaan Mukti Ali untuk gedung perpustakaan dinilai cocok. Selama hidupnya, menjabat sebagai Menag hingga 1978 dan dikenal sebagai penggagas kerukunan antar umat beragama. Konsep itu berhasil menciptakan harmonisasi dalam kebhinekaan dari Sabang sampai Merauke. Selain itu Mukti Ali juga dikenal sebagai perintis Islam Liberal dengan pemikiran yang membuka lebar perkembangan Islam modern.
“Beliau juga dikenal sebagai pencetus Ilmu Perbandingan Agama, yang berusaha mengkomparasikan agama-agama untuk menemukan nilai universalitas yang sama dari semua agama,” imbuh dia.

Prof. Yudian Wahyudi menambahkan, Prof. Amin Abdullah menjadi satu-satunya nama tokoh yang masih hidup dan dijadikan sebagai nama gedung serbaguna. Ia menjabat sebagai Rektor UIN Suka dua periode pada 2002 hingga 2010, sekaligus yang memperjuangkan berubahnya IAIN menjadi UIN.

“Karya terbesarnya konsep keilmuan integrasi interkoneksi antara ilmu agama dan umum menjadi tidak dikotomi lagi, tetapi saling menyapa dan melengkapi, sehingga pengembangan keilmuan menjadi komprehensif memecahkan problem-problem kehidupan kekinian” ungkapnya. Saat ini Amin Abdullah juga menjadi anggota Parampara Praja yang juga penasehat Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

Selain itu diresmikan Gedung Baru FEBI. Gedung ini didirikan sebagai jawaban atas tantangan mesyarakat akan penyediaan sumber daya manusia di bidang ekonomi Islam. Proses pembangunan gedung tahap I ini dibiayai dengan sumber dana Surat Berharga Syariah Negara. Dirancang terdiri dari lima lantai. Empat lantai digunakan sebagai ruang kelas, ruang dosen serta bagian atministrasi atau tata usaha fakultas, serta satu lantai sebagai tempat parkir yang berada di basement. Sementara UIN Sunan Kalijaga Corner merupakan simbul sekaligus ucapan selamat untuk setiap tamu yang berkunjung ke kampus ini. Selain itu juga ditujukan sebagai sarana bagi tamu yang ingin mengabadikan moment kunjungan di kampus tercinta ini, demikian papar Prof. Yudian Wahyudi (Weni Hidayati/ Foto: Doni TW-Humas UIN Sunan Kalijaga).