Badrun Alaena; Nahdlatul Ulama Konsisten Perjuangkan Pancasila dan NKRI

UIN Sunan Kalijaga tambah satu Doktor lagi. Bertambahnya satu Doktor tentunya akan semakin memperkuat pengembangan akademik di kampus putih ini. Dia adalah Dr. Badrun Alaena, MSI. (53 tahun). Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga ini berhasil meraih gelar Doktor setelah mempertahankan karya Disertasinya yang berjudul “Nahdlatul Ulama dan Politik Kebangsaan (Studi Periodisasi Sejarah NU di Indonesia 1945-2002). Bandrun mempertahankan hasil riset Disertasinya di hadapan Promotor dan Tim Penguji yang dipimpin Prof. Drs. Yudian Wahyudi, Ph.D., bertempat di ruang Promosi Doktor Program Pascasarjana, kampus setempat, Rabu, 6/9/17. Kini UIN Sunan Kalijaga diperkuat dengan 199 jumlah Doktor. Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga 28 orang Doktor.

Ditemui selepas sidang promosi Doktor, putra kelahiran Ciamis ini memaparkan, riset disertasinya mengungkap peran NU dalam konteks sejarah nasionalisme dan politik kebangsaan yang dapat dilihat dari dinamika kesejarahan NU. Menurut Badrun hasil analisa data sejarah yang berhasil dia himpun menunjukkan bahwa dalam kiprahnya yang dinamis setiap periode, NU lahir dan memberi pengaruh kuat pada masyarakat sejak era penjajahan, era transisi sampai kemerdekaan, hingga masa reformasi. Kiprah NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak semata mata mengembangkan cita – cita agama Islam di Indonesia, melainkan NU juga menghadapi perubahan-perubahan sosial dan politik di negeri ini.

Dijelaskan, karya disertasi Badrum memaparkan karakteristik gerakan NU dalam kehidupan sosial keagamaan dan sosial politik, peran-peran sosial politik NU dan dinamikanya, peran-peran gerakan kontributif NU terhadap perkembangan gerakan nasionalisme di Indonesia, melalui metodologi penjelasan sejarah yang ditawarkan Kuntowijoyo. Sementara metode yang digunakan deskriptif – analitik, kerangka pendekatan historis bibliografis dengan tahapan-tahapan; heuristik, kritik, auffasung (interpretasi) dan historiografi, kata Badrun.

Menurut Badrun, pokok-pokok pikiran yang bisa dipetik dari analisis data sejarah dalam karya riset Disertasinya ini diantaranya adalah; bahwa hubungan antara NU dengan politik kebangsaan di Indonesia dibagi menjadi empat periode. Yakni; Periode menjelang kemerdekaan dan pasca emerdekaan, fase orde lama, fase orde baru dan periode reformasi. Pada periode menjelang kemerdekaan, NU ikut berperan dalam merumuskan dasar-dasar negara kebangsaan (Pancasila dan UUD’45). Era Orde Lama, NU berperan besar dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi nasional. Pada era ini NU bersama ABRI berperan menyelamatkan ideologi Pancasila sebagai ideologi nasional dari rongrongan komunisme. Pada era Orde baru, NU berkomitmen kepada bangsa dan negara dalam menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam berorganisasi, yang kemudian diikuti Ormas-Ormas lain. Sementara di Era Reformasi, NU mendukung gerakan Nasonalisme Baru Indonesia. Yakni; menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam koridor demokrasi, kebersamaan, penegakan HAM, menjaga pluralitas bangsa, keadilan sosial, dan adanya jaminan bagi setiap warga negara untuk dapat menggunakan hak-haknya baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, budaya, maupun agama.

Inilah yang menjadi makna nasionalisme baru yang selalu diperjuangkan NU di tengah peran-peran besar kesejarahannya sejak negara dan bangsa ini berdiri tahun1945 sampai saat ini. Analisis Disertasi ini juga menunjukkan bahwa; adanya konsistensi NU dalam memperjuangkan Pancasila, Bhineka Tinggal Ika, NKRI dan UUD’45, yang disebut dengan empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara, demikian jelas Badrun.(Weni Hidayati/ Foto: Doni TW-Humas