Dalam Rangka Memacu Akreditasi A Semua Prodi dan Pembukaan Program S2, Fakultas Sain dan teknologi “Workshop dan FGD Konsorsium Keilmuan FST”

Dalam Rangka Memacu Akreditasi A Semua Prodi dan Pembukaan Program S2, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan “Workshop dan FGD Konsorsium Keilmuan FST.” Forum ini menghadirkan Nara Sumber para Dosen Sains dan teknologi UIN Sunan Kalijaga yang baru saja menyelesaikan studi Program Doktornya, yakni; Sri Utami Zuliana, Ph.D. (Prodi Matematika), Dwi Agustina Kurniawati, Ph.D. (Prodi Teknik Industri)Maria Ulfah Siregar, Ph.D (Prodi Teknik Informatika) Cahyono Sigit Pramudyo, D.Eng. (Prodi Teknik Industri). Forum ini juga menghadirkan Ahli Biomechanical dan Orthopedic dari Jerman (Senior Expert Service) Bernd Udo Wiechert. Ia ditugaskan oleh Pemerintah Jerman menjadi Senior Expert yang ditugaskan melakukan lawatan ke negara-negara dunia III termasuk Indonesia, untuk melakukan riset untuk mengembangkan keilmuannya di berbagai perusahaan dan perguruan tinggi. UIN Sunan Kalijaga menjadi salah satu pilihannya. Bernd Udo akan berada di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga satu bulan untuk melakukan kolaboratif keilmuan, berbagi pengalaman akademik dan riset dengan para dosen setempat, untuk menghasilkan inovasi keilmuan Saintek.

Wakil Dekan I, Agung Fatwanto, Ph.D., dalam sambutan pembukaannya antara lain menyampaikan, dalam forum ini akan mendialogkan rencana penyusunan peta jalan, setelah 12 tahun Fakultas Saintek menapaki usianya. Kini bagaimana mengembangkan konsep keilmuan Integratif-Interkonektif. Selama 12 tahun berjalan ini, implementasi di ranah proses pembelajaran dan riset yang Integratif-Interkonektif belum jelas arahnya. Diskusi ini untuk mempertegas arah implementasi konsep keilmuan Saintek berdasarkan kluster keilmuan Sains, Pendidikan sains dan Teknologi, melibatkan seluruh Dosen dan pimpinan,demikian kata Wakil Dwkan I.

Diskusi diawali presentasi Cahyono Sigit Pramudyo, D.Eng.tentang Trigger dari integrasi dan interkoneksi, hasil pengembangan studi Doktornya di Thailand. Menurut Sigit, Makalah bertujuan untuk mengungap kesesuaian tujuan penelitian bidang teknik industri dengan nilai-nilai Al-Quran.

Teknik industri: mengimplementasikan dan mengintegrasikan orang, material, informasi, perlengkapan, dan energi. Kurikulum harus mencakup hal-hal tersebut. Keilmuan teknik industri harus mengintegrasikan dan mengkoneksikan elemen-elemen dalam teknik industri tersebut.

Cahyono memaparkan kurikulum Teknik Industri di UIN yang sangat banyak, bahkan terdapat ilmu sosial di dalam kurikulum teknik industri. Area penelitian teknik industri yang berkesesuaian dengan islamic values: optimisasi, manajemen pengetahuan, sistem terintegrasi, sistem rantai pasok untuk produk halal. Bidang penelitian berfokus pada optimalisasi sistem, contoh menyesuaikan jumlah produk dengan permintaan sehingga tidak ada produk yang sia-sia (pemborosan). QS Al Israa’ 27 yang berkaitan dengan larangan Islam terhadap pemborosan. Manajemen pengetahuan; bagaimana mengelola pengetahuan dan informasi. Contoh ketika ada orang ahli keluar dari perusahaan, maka perusahaan akan rugi karena kehilangan sosok yang ahli. Jika dikalkulasi maka perusahaan akan perlu satu orang lebih untuk menggantikan sosok ahli tersebut. Islamic valuesnya: seorang pemimpin yang akan membuat kebijakan memerlukan pengetahuan dan informasi dari pihak lain. Sesuai dengan QS Al-Mujaadillah 11 yang menerangkan bahwa derajat orang akan diangkat jika berilmu. Sistem terintegrasi, mengintegrasikan komponen-komponen sistem untuk saling berintegrasi mencapai satu tujuan. Dua orang yang tidak bersinergi tidak bisa disebut 2, justru akan mengacaukan perusahaan. QS Al-Hujraat 13 yang menerangkan bahwa orang itu diciptakan berbeda-beda. Manajemen rantai pasok untuk produk halal.

Dipandu Rahmat Resmiyanto, M.Sc., tiga pembicara berikutnya ; Agus Purwanto, D.Sc., Drs. Alwar,M.Sc., Ph.D., Gloria Virginia, S.Kom., MAI., Ph.D (Wadek Fakultas Teknik UKDW), antara lain memaparkan bagaimana desain Pembelajaran sains di PT bernuansa keagamaan. Pondasi agama adalah Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin, dibreakdown ke fakultas dan prodi). Mengintegrasikan keilmuan dan agama adalah Komitmen menjadikan ilmu pengetahuan dan agama berjalan beriringan. Memasukkan nilai keislaman dalam setiap prodi, menjadi tanggungjawab PT Islam agar bisa melahirkan kholifah-khalifah, yakni memiliki profesionalitas pada bidang keilmuannya dan memiliki tanggungjawab ke-Islaman yang akan dipertanggungjawab di sisi Allah SWT di akherat kelak.

Kurikulum mengarah ke KKNI untuk saat ini paling ideal mendukung konsep keilmuan yang integratif-interkonektif. KKNI berpusat pada Uli Albab. Terlepas dari apa yang ada dalam kurikulum KKNI, mahasiswa diwajibkan mengikuti ko-kurikuler baca tulis Al-Quran, kepemimpinan, dll. Integrasi Sains dan Al-Quran, implementasinya, setiap bentuk pembelajaran di semua Prodi harus mencari sumber pengetahuan di Al-Quran, sunnah, alam semesta, dan hubungan manusia dengan manusia dan alam. Jadi semua mahasiswa disarankan selalu membaca al Qur’an dan meresapi arti (makna) dari ayat-ayat al Qur’an, serta mengambil benang merah antara pesan al Qur’an dengan mata kuliah dijalani.

Implementasi pembelajaran di kelas, setiap dosen masuk mengajar disarankan baca Al-Quran dan tausyiah, minimal 5 menit. Memperdalam ilmu agama sehingga dikotomi pengetahuan semakin bisa diminimalisir. Perkembangan keilmuan bahkan terkadang bisa bertentangan dengan nash, namun barangkali hal tersebut karena kelemahan peneliti. Karena jika kita mendalami al Qur’an, sesungguhnya setiap ilmu pengetahuan ada disebutkan dalam ayat-ayat al Qur’an. Setiap bidang ilmu memiliki ayat-ayat yang berkaitan dengannya. Misalnya; Atom disebutkan dalam Al-Quran, diumpamakan sebesar dzarah (QS An-Nissaa’ 40, QS Az-Zalzalah 7-8, QS Saba’ 22, QS An-Nur 43). Al Quran menyebutkan bahwa banyak besi sangat diperlukan dalam tubuh mausia, dan hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian kekinian. Maka FGD ini diharapkan bisa lebih memperdalam dan mempertajam korelasi antara ayat-ayat al Qur’an dengan bidang-bidang keilmuan. Melalui integrasi interkoneksi keilmuan diharapkan mempelajari keilmuan, didalamnya terjabar 4 komponen tanggungjawab : (Menaati Allah, Melangkah dengan integritas, Melakukan yang terbaik, Melayani dunia), berbekal pembekalan softskill (spiritualitas, integitas, profesionalitas). 4 komponen tanggungjawab ini juga ada di PT Non-Islam seperti di UKDW.

Berbagai pertanyaan muncul di sesi tanya jawab, seperti: PT Islam dan Non – Islam saat ini sedang mengimplementasikan Integrasi agama dan keilmuan. Bagaimana visi diturunkan dalam penelitian dan pengabdian masyarakat karena PT punya tugas tri dharma? Dari narasumber memperoleh jawaban; menyederhanakan administrasi, memperbaiki dan mempermudah proses teknisnya, dan membangun budaya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, memacu dosen dan mahasiswa berprestasi dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, dengan landasan nilai-nilai Islam yang rahmat. Semua prestasi yang dicapai mahasiswa dan dosen diberikan reward.

Selain sesi tanya-jawab, berbagai pandangan muncul di forum ini, diantaranya; Science harus disampaikan dengan menarik karena materi sains biasanya sudah susah Pembelajaran sains memang harus didukung dana yang kuat, tetapi pengajar tidak boleh kehilangan esensi mengajar sains. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan kreatifitas. Kreatifitas tersebut bisa dicari dengan alat-alat yang mudah dijangkau. Cara belajar sains yang cocok salah satunya adalah cara belajar motorik, yaitu dengan menulis. Misal membuat target menulis 10 halaman perhari baru kemudian akan menemukan nikmatnya belajar sains. Bagaimana mengembangkan sains dan teknologi sampai pada tataran memproduksi barang-barang yang diperlukan bangsa ini, sehingga tidak lagi mendatangkan dari luar negeri dan membiasakan masyarakat mencintai produksi sendiri. Maka mahasiswa perlu pula dipahamkan seni. Karena dengan seni, sains akan bisa menghasilkan produk-produk teknologi.

Memahamkan tentang Tauhid untuk mencegah agar ilmuwan yang dihasilkan tidak mengarah ke atheis. Tauhid menjadi penengah antara filsafat dan sains. Mistik dan seni ditengahi tasawuf. Fiqh menjadi penengah anara teknologi dan etika. Banyak hal yang dibahas dalam sains yang termuat dalam nash. Kitab suci menuliskan tanda-tanda yang bisa dibuktikan melalui sains. Belajar teknologi dan sains bukan berarti belajar menganai ilmu dari kafir, karena dalam alam semesta dan nash-nash juga sudah disebutkan mengenai teknologi dan sains. Mahasiswa dan dosen harus kembali meneliti sains dan teknologi yang termuat dalam kitab suci. Artinya ayat-ayat dalam kitab suci bisa menjadi pemicu untuk melakukan penelitian selanjutnya. Saintis Islam harus memahami bahasa Arab untuk menggali inspirasi penelitian dalam Al-Quran. Paradigma baru dalam mengembangkan keilmuan, Al-Quran sebagai sumber insipirasi penelitian, dan teori yang sudah tercipta tidak perlu dibuang. Epistemologi merupakan salah satu pilar ilmu, yaitu mengenai dampak dari sebuah ilmu. Yaitu dengan apa, cara apa, dan sumber apa suatu ilmu itu diraih. Yaitu ditulis dengan bahasa yang sederhana dan menarik, karena sains sudah susah.

Perlu ada peninjauan ulang mengenai penelitian-penelitian sehingga menemukan kepuasan baik secara sains dan agama, dan itu memang menjadi tugas PT bernuansa keagamaan. Mengintegrasikan dan menginterkoneksikan agama dan sains adalah kerja peradaban yang tidak bisa selesai dalam waktu yang singkat. Demikian antara ,lain yang terungkap dalam workshop dan FGD Fakultas Sains dan Teknologi, yang akan dijadikan acuan pengembangan keilmuan selanjutnya (Thoriq/Weni-Humas)