CISForm Peduli Dalam Penanggulangan Terorisme Di Indonesia

Narasumber memberi materi pada kegiatan workshop CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Penanggulangan dan pencegahan aksi terorisme di berbagai daerah di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh kelompok masyarakat sipil (LSM) atau pemerintah dengan sejumlah program dan kegiatan terutama generasi muda yang sangat rentan terpapar ideologi ekstrimisme.

Dalam rangka memfasilitasi berbagai pengalaman dan pengetahuan terkait penangan tindakan ekstrimisme, Center For The Studi Of Islam And Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PSTPG UIN Syarif Hidayatullah Jakarta meyelenggarakan workshop dengan tema “Penguatan Jaringan Masyarakat Dan Pemerintah Dalam Penanggulangan Terorisme”, di Hotel Grand Zuri Yogyakarta, Senin (29/01/2018).

Forum ini memaparkan beberapa materi pokok seperti tantangan radikalisme, penguatan penanggulangan terorisme dan best practice penanganan terorisme dengan narasumber Dr. Najib Azcka (PSKP UGM), Dr Nostalgiawan Wahyudi (PSTPG UIN Jakarta), Alimatul Qibtiyah, M.A., Ph.D (CISForm UIN Sunan Kalijaga), KH. Abdul Muhaimin (FKPT Yogyakarta), AKBP Sinungwati, SH., M.I.P (Polda DIY), Dr. Muhammad Wildan (CISForm UIN Sunan Kalijaga), Dr. M. Fajar Sodik (Ngruki Solo), Widodo Kainan (Dapoer Bistik Solo) dan Eko Prasetyo (SMI UII).

Direktur CISForm UIN Sunan Kalijaga Dr. Muhammad Wildan menuturkan saat ini kami sedang menyelesaikan serial video pendek untuk menanggulangi aksi terorisme. kampanye ini rencananya ada 40 film animasi yang terbagi dalam lima tema religi yakni hijrah, khilafah, jihad, toleran dan tauhid. “Semuanya akan kami upload ke youtobe untuk masyarakat khususnya kaum muda,” tutur Wildan.

Muhammad Najib Azca menyampaikan perhatian terhadap potensi terorisme belum begitu disadari anak muda. Mereka rentan terhadap merebaknya ajaran-ajaran radikal. Kondisi ini yang harus menjadi perhatian serius semua pemangku kepentingan.

Najib menambahkan, dalam kasus Islam Radikal terbagi menjadi tiga kategori, yakni Jihadisme, Vigilantisme dan Syariatisme. Ketiganya memiliki tingkatan yang berbeda dalam pemikiran dan tindakannya. "Namun demikian ketiganya perlu diwaspadai. Sebab sasarannya jelas pada anak muda. Pola rekrutmennya juga melalui media sosial. Bahkan, rentan pula terjadi pada pekerja migran perempuan seperti kasus di Hongkong beberapa waktu lalu saat TKI terindkasi ISIS," jelasnya.

Sementara Dr Nostalgiawan Wahyudi dari Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global (PSTPG) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjelaskan, program pemberdayan ekonomi bagi generasi muda menjadi salah satu langkah penting untuk meminimalisir menyebarnya paham radikal. Ada tiga kelompok besar menurut Nostalgiawan yang perlu mendapat perhatian dengan pemberdayaan tersebut.

"Pertama untuk bekas napi teroris (napiter) yang butuh pemberdayaan ekonomi dan proses deradikalisasi agar tidak kembali ke jalan sesat. Selanjutnya untuk pemuda yang butuh pemberdayaan ekonomi sebagai bagian pencegahan. Caranya, dapat dengan membuka lapangan kerja. terakhir bagi pelajar/mahasiswa butuh pemberdayaan pendidikan," imbuhnya.

Sementara Alimatul Qibtiyah MA PhD dari CISForm menegaskan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia merupakan Islam tengahan di antara tarik ulur paham kanan dan kiri. Sehingga semestinya Islam Indonesia menunjukkan jati dirinya untuk meladeni paham-paham ekstrim dan radikal.

Selain itu, Alimatul juga mengingatkan jika perempuan juga mulai rentan terkena imbas paham radikal. Hal tersebut sudah terbukti dengan sejumlah fakta peran perempuan dalam kasus-kasus terorisme yang berhasil diungkap petugas.(Ch/humas)