Kupas Makna Ingsun Dalam Paham Tasawuf Siti Jenar, Aris Fauzan Raih Doktor

Aris Fauzan, S. Ag., MA., (43 tahun) mengatakan, Ingsung, yang dalam bahasa Jawa berarti kawula, kula, abdi, dalem, ulun, nglulun, Ingwang, mami, kita, ingong, ngong, inyong, dan nyong. ternyata punya makna yang mendalam dalam pahan tasawuf Syekh Siti Jenar. Pengguna kata ingsun dalam konteks Serat Siti Jenar Ingkang Tolen dapat dikelompokkan dalam 4 golongan. Pertama, pengguna ingsun adalah para guru rohani di hadapan para muridnya. Kedua, pengguna ingsun dengan lawan bicaranya, yang keduanya mempunyai derajad sama atau diantara keduanya terlibat persoalan konfliks. Ketiga, ingsun digunakan sebagai ucapan simbolik bagi kalangan pelaku rohani yang mencapai pengalaman puncak spiritual. Dalam ungkapan Serat Siti Jenar Ingkang Tolen tertulis angraosi panunggalan (merasai/menghayati kebersamaan). Keempat, ingsun sebagai ungkapan untuk menjelaskan tentang hakekat Tuhan. Secara hirarkhis ontologis, Tuhan sebelum menciptakan alam semesta beserta isinya, Dia adalah Ingsun.

Hal tersebut diungkapkan Staf Pengembangan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ini, setelah melakukan riset terhadap Serat Siti Jenar Ingkang Tolen Karya Mas Hadiwijaya. Karya riset mengangkat judul “Konsep Ingsun Dalam Paham Tasawuf Siti Jenar (Telaah Terhadap Siti Jenar Ingkang Tolen Salinan Mas hadiwijaya) dipresentasikan untuk memperoleh gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Selasa, 17 Desember 2013, bertempat di Convention Hall kampus UIN Sunan Kalijaga. Di hadapan tim penguji antara lain : Prof. Dr. H. Mundzirin Yusuf, M. Si., Dr. H. Mohammad Damami, M. Ag., Dr. Maharsi, M. Hum., Prof. Dr. H. Alwan Khoiri, MA., Prof. Dr. Marsono, SU., (promotor merangkap penguji), Dr. H. Syaifan Nur, MA., (promotor merangkap penguji), promovendus lebih lanjut memaparkan, ingsun dalam Serat Siti Jenar Ingkang Tolen merupakan ungkapan orang merdeka atau penguasa. Dalam ajaran tasawuf Syekh Siti Jenar, ingsun dipahami sebagai ungkapan dalam dua pengertian. Pengertian pertama ingsung dipahami sebagai ungkapan pengalaman rohani kebersatuan antara manusia dengan Tuhan (manunggalaing kawula Gusti). Dalam istilah tasawuf Islam, pengucapan ingsun terjadi ketika seseorang mengalami ulil atau ijtihad. Dalam pengertian kedua, ingsun digunakan untuk menyebut hakekat Tuhan (realitas Tuhan). Ingsun adalah aku yang absolud, yang tidak pernah mati. Bakhan Ingsun menjadi salah satu nama Tuhan itu sendiri. Penyebutan ingsun absolut (realitas Tuhan) ini kaitannya dengan asal usul awal penciptaan alam semesta. Ingsun Tuhan merupakan awal yang pertama-tama sebelum alam semesta ini diciptakan. Karena itu orang yang mengucapkan ingsun untuk dirinya mempunyai konsekuensi sosiologis, teologis dan mistis, kata Aris.

Dijelaskan, pengucapan ingsun dalam paham tasawuf Syekh Siti Jenar menimbulkan sejumlah konsekuensi, Secara sosiologis, pengucapan ingsun di kalangan masyarakat sudra, seperti pengikut Syekh Siti Jenar dinilai tidak pantas (bisa dituduh telah menyatakan dirinya Tuhan). Secara teologis, mereka (para pengikut Syekh Siti Jenar) dianggap telah melakukan perbuatan syirik dan zindiq. Secara mistik, ungkapan ingsun menjadi representasi ungkapan kebersatuan antara seorang pelaku mistik dengan Tuhan. Aku Tuhan bertemu dengan aku manusia yang terucap secara bersamaan dalam lisan manusia.

Pahan tasawuf Syekh Siti Jenar mengandung konsekuensi tokoh Syeh Siti Jenar mengalami nasib yang tidak baik. Namun ajaran kebatinan (tasawuf) Syekh Siti Jenar tidak pernah hilang sampai sekarang. Bahkan di era yang serba modern ini, banyak terbit buku-buku yang sebagian besar berusaha untuk menafsirkan kembali dalam artian positif terhadap ajaran/pahan tasawuf Syekh Siti Jenar. Secara kelembagaan perkembangan paham tasawuf Syeh Siti Jenar memang sulit dilacak. Tetapi sebagai pahan keagamaan ia terus berkembang secara sporadis. Fenomena perkembangan pahan tasawuf Syeh Siti Jenar ini bukan hanya dikalangan terpelajar, tetapi juga dikalangan masyarakat awam. Mudahnya perkembangan paham tasawuf Syekh Siti Jenar di kalangan awam karena yang diajarkan Syekh Siti Jenar adalah sesuatu yang sudah ada dalam diri manusia. Hanya saja pahan ini bagi sebagian kalangan yang mempertahankan kelas sosial atau kasta, ajaran ini dianggap membahayakan, karena berusaha mendudukkan manusia adalah sederajad.

Namun, walaupun pengaruh tasawuf Siti Jenar dan ajarannya, telah menginspirasi gerakan politik maupun pemikiran keagamaan sejak zaman penjajahan sampai sekarang, sampai kapanpun hanya akan mendapat dukungan sedikit kalangan. Karena Paham tasawuf Syekh Siti Jenar telah memicu perbedaan paham di kalangan masyarakat dan menjadi isu yang membahayakan bagi perkembangan Islam di Indonesia, kata promovendus (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).