Duta Besar Indonesia Untuk Teheran Memotivasi Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Di Embargo Amerika, Peradaban Iran Tetap Maju Pesat

Dalam rangka memberi penyegaran kepada mahasiswa, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan kuliah umum, menghadirkan duta besar Indonesia untuk Teheran, Dian Wirengjurit, bertempat di Convention Hall, kampus UIN Sunan Kalijaga, Senin, 21 April 2014. Di hadapan para mahasiswa UIN Sunan kalijaga, Dian Wirengjurit memberikan motivasi agar punya mimpi menjadi diplomat-diplomat ulung yang mampu membawa Indonesia menjadi besar di mata dunia. Kemampuan berdiplomasi bisa diolah semenjak menjadi mahasiswa, kata Dian. Tugas tugas Diplomat seperti representasi (mewakili negara), negosiasi (melakukan apapun demi kebesaran dan mana baik negara), investigasi (mencari tahu kondisi negara tempat bertugas), reporting, monitoring dan sebagainya, bisa dilatih dengan banyak belajar, banyak berkiprah sejak di bangu kuliah, sehingga setelah lulus telah memiliki banyak wawasan tentang negara-negara di dunia, mental yang mapan dan rasa percaya diri yang kuat.

Dalam forum tersebut Dian Wirengjurit juga memaparkan pengalamannya sebagai Dubes yang bertugas di Iran. Menurutnya, pengalamannya bertugas di Iran, akan memberikan wawasan kepada para mahasiswa tentang kondisi dan kemajuan peradaban Iran yang sesungguhnya saat ini. Selama ini 99% orang yang belum pernah ke Iran, berpandangan bahwa masyarakat Islam di Iran adalah identik dengan kekerasan. Mindset masyarakat dunia termasuk Indonesia telah dibentuk oleh opini dari media Barat. Pandangan seperti ini akan berbeda 180 derajad dengan pandangan meereka yang pernah tinggal di Iran. Mereka ini berpandangan, Iran adalah negara yang damai, semua jalan di sana mulus, listrik terang benderang dari kota sampai ke desa-desa. Kebutuhan air panas maupun dingin terpenuhi sampai ke desa-desa. Para ahli di sana, cara berpikirnya luar biasa. Perang Irak-Iran yang berlangsung selama 8 tahun, tidak membuat Iran melemah. Sanksi embargo terhadap Iran sejak tahun 1979, sebenarnya juga tidak membuat Iran tidak berdaya. Kebanggaan sebagai sebuah peradaban dan pandangan yang kukuh jangan sampai didikte asing, membuat bangsa Iran kuat sampai saat ini. Walaupun tidak bisa melakukan transaksi apapun dengan Amerika.

Dijelaskan, tenaga ahli pesawat Iran, baik sipil maupun militer, banyak yang berasal dari Indonesia, dengan manajerial yang baik, dapat membuat pesawat Iran sampai saat ini tetap terbang. Sementara industri pesawat terbang Indonenesia sendiri bangkrut karena pemerintah Indonesia tidak bisa mengurus. Di bidang otomotif, dengan pemberlakuan embargo, kendaraan Eropa harus keluar. Tetapi Iran tetap bisa survive dan melahirkan produksi Momnas Iran.

Dengan contoh – contoh paparan realitis tentang Iran, Dian berharap, Indonesia bisa mengisi peluang bisnis yang tersedia di Iran. Sanksi embargo memang mengerikan, tapi bagi sebagian negara lain (di luar Amerika), embargo bagi Iran, bisa disikapi sebagai peluang bisnis. Misalnya Indonesia. Negri kita kaya non-migas, seperti kelapa sawit, karet dan sebagainya, Iran butuh kelapa sawit untuk produksi minyak, butuh karet untuk ban Mobnas mereka, ini peluang bisnis Indonesia di Iran. Peluang bisnis Indonesia di Iran sangat besar. Iran Tahu negri kita mayoritas Muslim, jadi mereka menganggap Indonesia adalah sahabatnya. Mereka selalu bilang, Indonesia punya apa? Indonesia maunya apa? Ini peluang bisnis bagi Indonesia, karena Iran pasti akan memberi kemudahan-kemudahan bagi Indoneia untuk mengembangan bisnis disana. Kita tidak boleh terjebak dengan pemberitaan media dari Barat. Misalnya, wanita harus berpakaian terselubung di sana. Sementara kenyataannya, wanita Iran berpenampilan dan perpikiran simpel dan gampang bergaul. Antar madzab agama juga tak pernah ada konflik di sana. Misalnya, 98% di Iran adalah Syi’ah, namun tidak pernah terdengar ada serangan Syi’ah di Iran terhadap umat minoritas, baik oleh media Barat maupun media lokal Iran, demikian papar alumni UI ini.