Telaah Model Wakaf Produktif, Siti Achiria Raih Doktor

Siti Achiria, SE., MM., (41 tahun) mengatakan, aset wakaf akan dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam menopang kelancaran kehidupan sosial-ekonomi, apabila dikelola secara produktif. Pengelolaan wakaf secara produktif juga akan mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum. Salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang bisa ditunjang oleh pengelolaan harta wakaf produktif adalah pengembangan pendidikan.

Temuan tersebut terungkap setelah Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Yogyakarta ini melakukan riset kepustakaan ditunjang riset lapangan yang bersifat kualitatif tantang pengelolaan wakaf. Hasil riset putra kelahiran Yogyakarta ini dirangkum menjadi karya disertasi untuk meraih gelar Doktor Bidang Ekonomi Islam dengan mengangkat judul “ Model Wakaf Produktif Pada Sektor Jasa Pendidikan di Indonesia “ dan dipertahankan di Convention Hall kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu, 26 April 2013. Di hadapan tim penguji antara lain : Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA., Dr. H. Agus Muh. Najib, M. Ag., Drs. Achmad Tohirin, MA., Ph.D., Dr. Ibnu Qizam, SE., M. Si., Akt., Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA., (promotor merangkap penguji), Drs. Akhsyim Afandi, MA., Ph.D., (promotor merangkap penguji), promovendus memaparkan, untuk menelaah bagaimana implementasi pengelolaan wakaf untuk pengembangan pendidikan di Indonesia, pihaknya telah melakukan riset terhadap 3 yayasan wakaf yang bergerak di sektor jasa pendidikan, yakni: Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Yayasan Badan Wakaf Universitas Sultan Agung Semarang dan Yayasan Badan Wakaf Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Menurut Siti Achiria, hasil riset di ketiga yayasan badan wakaf tersebut menunjukkan bahwa, wakaf produktif pada sektor jasa pendidikan dapat dipahami sebagai sebuah bisnis berbasis wakaf yang menfokuskan pengelolaannya pada sektor jasa pendidikan. Bisnis pendidikan ini pada dasarnya milik masyarakat yang merupakan bagian dari distribusi kekayaan melalui wakaf dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Bisnis ini bertujuan menyelenggarakan jasa pendidikan sebagai produk utama dan boleh jadi memiliki produk pengembangan pada sektor bisnis non-pendidikan. Surplus yang dihasilkan dari jasa pendidikan dan non pendidikan berbasis wakaf ini, seterusnya akan dikembangkan demi kemajuan dan keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan. Dan untuk mencapai produktifitas tinggi yang maslahah dalam mengembangkan pendidikan, di dalamnya melibatkan SDM yang berperan sebagai nazhir, yang memiliki keahlian sebagai pengusaha dan ada yang berperan sebagai penyelenggara pendidikan. Sementara, karena pada dasarnya yayasan badan wakaf ini adalah milik masyarakat, maka ada transparansi laporan keuangan, perkembangan dan alokasi surplusnya yang bisa diaudit oleh masyarakat dan unsure yang berwenang dalam perwakafan di Indonesia.

Dijelaskan, wakaf produktif pada sektor jasa pendidikan atau bisnis pendidikan berbasis wakaf ini dibedakan menjadi 2 model: Model pertama, bisnis pendidikan sebagai mauqus ‘alaih. Model ini merupakan bisnis pada sektor jasa pendidikan yang dananya ditampung dari hasil pengelolaan wakaf oleh nazhir yang tidak terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Model kedua disebut dengan bisnis pendidikan sebagai nazhir. Model ini merupakan bisnis pada sektor jasa pendidikan yang dana utamanya ditopang langsung dari hasil pengelolaan asset wakaf yang dilakukan oleh nazhir yang berada dalam satu naungan dengan penyelenggara pendidikan.

Jika dikaitkan dengan model pengelolaan wakaf produktif seperti paparan di atas, menurut promovendus, ketiga yayasan yang menjadi obyek risetnya, bisa dikategorikan bisnis pendidikan berbasis wakaf model kedua. Yakni bisnis pendidikan sebagai nazhir. Dengan karakteristiknya sebagai berikut : 1. Status kepemilikannya adalah milik masyarakat dengan pondasi makaf. 2. Tujuan bisnisnya adalah mengelola aset wakaf untuk menyelenggarakan pendidikan dan kebutuhan masyarakat lainnya. 3. Potensi bisnis dan lingkungan fisik terbuka luas dan terdukung, pengelolaanya sangat dipercaya oleh pemberi wakaf. 4. Preoduk yang dikembangkan sangat dibutuhkan masyarakat baik yang sektor pendidikan maupun yang non-pendidikan. 6. Kualitas produk diprioritaskan, sehingga kemanfaatannya benar-benar terwujud. 7. Promosi yang dilakukan tidak sebatas promosi produk dengan terus meningkatkan kualitas, namun juga promosi untuk mendatangkan pewakaf-pewakaf baru ataupun investor sebagai penanam sahan pada bisnis berbasis wakaf. 8. Modal berasal dari aset wakaf dan non-wakaf melalui pengembangan kegiatan fundraining dan finding. 9. Distribusi yang dilakukan memungkinkan masyarakat mudah mengakses jasa pendidikan yang diselenggarakan. 10. Konsumennya adalah masyarakat umum sebagai bagian penting bagi keberlangsungan bisnis. 11. Harga relatif terjangkau karena merupakan bagian dari bisnis manfaat bagi kepentingan sosial. 12. Pelaporan dilakukan oleh pengurus kepada pengawas, Pembina, pewakaf, masyarakat dan pemerintah. 13. Mentargetkan perolehan laba meskipun tidak selalu menganut maksimalisasi profit. 14. Alokasi laba digunakan untuk mauquf ‘alaih maupun untuk pengembangan investasi bisnis yang lain, demikian papar promovendus. (Weni Hidayati-Humas UIN Suka).