Teliti Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pembelajaran PKN, Rusnita Hainun Raih Doktor Di UIN Suka

Dra. Rusnita Hainun, M. Pd., (56 tahun) mengatakan, pendidikan karakter telah lama diimplementasikan di Indonesia. Tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan banyak pihak. Salah satu sebab kegagalannya dalam melaksanakan pendidikan karakter adalah pembelajaran karakter yang dikembangkan di sekolah-sekolah yang tidak fokus dan belum relevan dengan kebutuhan masa depan bangsa. Ada delapan belas karakter yang dikembangkan oleh Kementerian pendidikan. Jika sekolah-sekolah tidak menentukan prioritas yang disesuaikan dengan kondisi siswa di suatu wilayah tertentu, maka pembentukan karakter terhadap siswa di suatu sekolah tertentu, hasilnya juga akan mengambang. Maka hendaknya sekolah-sekolah menentukan prioritas tertentu dalam upaya pembentukan karakter siswa, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang diharapkan, di wilayah sekolah yang bersangkutan.

Untuk menguji statemen ini, Dosen yang juga menjabat sebagai dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini, melakukan riset terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah yang melakukan terobosan dengan menetapkan prioritas pendidikan karakter. Yakni SMA Negeri 4 Kota Bangkulu. Sekolah ini menetapkan 4 pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam semua mata pelajaran terutama dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN), yakni : religius, Jujur, Ramah dan Bertanggungjawab. Hasil riset putra kelahiran Meranjat ini dirangkum dalam karya disertasi untuk meraih Doktor bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dengan mengangkat judul “Pembentukan Karakter Siswa Di Sekolah (Studi Kasus Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri 4 Kota Bengkulu). Karya Disertasi ini dipertahankan di hadapan tim penguji antara lain : Dr. Muqowim, M. Ag., Dr. H. Tasman Hamami, MA., Dr. H. Maksudin, M. Ag., Silvy Dewayani, Ph.D., Prof. Dr. H. Sutrisno, M. Ag., (promotor merangkap penguji), Prof. Hj. Darmiyati Zuchdi, Ed.D., (promotor merangkap penguji), bertempat di Convention Hall, kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis, 29-1-2015.

Dihadapan promotor dan tim penguji, promovendus memaparkan, SMA Negeri 4 Kota Bengkulu mengembangan ke empat pendidikan karakter di atas dengan melalui berbagai pendekatan. Baik melalui pengembangan kebijakan sekolah yang mendukung pendidikan karekter, terintegrasi dalam semua mata pelajaran, terutama mata pelajaran pendidikan PKN. Dan dengan merevitalisasi kegiatan ekstra – kurikuler. Sementara pendekatan dalam risetnya melalui pendekatan kualitatif-naturalistik. Sehingga ibu 6 putra dari suami Dr. Khairil, M.Pd., ini berhasil mengungkap antara lain : SMA Negeri 4 Kota Bengkulu melaksanakan pembelajaran karakter secara komprehensif, baik pada level makro. Meso dan mikro dalam mengembangkan 4 karakter (religous, jujur, bersahabat dan tanggungjawab).

Pada level makro, sekolah merumuskan visi dan misi sekolah berkarakter, menyusun kurikulum pendidikan berkarakter dan mengembangan guru berkarakter. Ketiga kebijakan ini terbukti membantu terciptanya kondisi sekolah yang menunjang proses pembelajaran terutama pelajaran PKN dalam mewujudkan karakter siswa. Pada tingkat meso, sekolah membangun kultur dan penerapan metode komprehensif pendidikan karekter. Seperti menciptakan suasana religius (membiasakan shalat berjamaah), membuka kantin kejujuran, mengkondisikan busana siswa yang sopan, perilaku santun. Metode komprehensif berupa inkulkasi nilai, keteladanan, fasilitasi nilai, pengembangan ketrampilan akademik dan sosial, serta ketrampilan mengatasi masalah. Pada tingkat mikro, pelaksanaan pembalajaran karakter pada setiap mata pelajaran dan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Sementara penilaian pembelajaran PKN lebih menekankan pada aspek sikap dan perilaku, dengan melakukan observasi, portopolio, penilaian diri dan penilaian sejawat.

Menurut promovendus, pelajaran PKN di SMA Negeri 4 Kota Bengkulu cukup berhasil dalam meningkatkan karakter siswa. Karakter religius, bisa dilihat dari meningkatnya kualitas dan kuantitas beribadah ritual siswa. Siswa yang mulanya ogah-ogahan melakukan salat wajib dan salat sunah, menjadi terbiasa menjalankan shalat wajib tepat waktu. Selain itu juga menjadi rajin melaksanakan shalat sunat. Ini menjunjukkan bahwa siswa menjadi terbiasa berperilaku religius, tidak sekedar tahu tentang religius. Kebiasaan bersikap jujur para siswa juga terlihat misalnya ketika siswa menemukan barang yang bukan miliknya, akan mengembalikan kepada pemilik atau menyerahkan kepada sekolah. Contoh ini menunjukkan bahwa model pembelajaran karakter di SMA Negeri 4 Kota Bengkulu berhasil meningkatkan perilaku jujur para siswa. Pada level membentuk karakter bersahabat, pembelajaran PKN belum sesuai yang diharapkan. Terbukti sekolah ini masih diwarnai perselisihan, perpecahan, keributan dan tawuran antar siswa. Sehingga diperlukan evaluasi model pembelajaran yang lebi persuasif lagi untuk mengembangkan karakter bersahabat para siswa. Sementara dalam upaya mengembangan karakter bertanggungjawab para siswa, model pendidikan karakter di SMA Negeri 4 Kota Bengkulu bisa dikatakan efektif, terbukti semua siswa semakin rajin melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan dari guru. Di samping itu semua siswa terlihat berani mempertanggungjawabkan semua yang dilakukan di sekolah.

Dijelaskan, ada keseimbangan tiga ranah pembentukan karakter, antara moral knowing, moral feeling dan moral action yang dilakukan di SMA Negeri 4 Kota Bengkulu. Keseimbangan tiga ranah ini, berhasil membentuk para siswa menjadi taat beribadah, jujur, bersahabat dan bertanggungjawab. Cara ini menjadi solusi bagi kegagalan penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah – sekolah pada umumnya. Pendidikan karakter dengan hanya mengandalkan pengetahuan tentang karakter (moral knowing) akan menjadikan siswa mengetahui tentang nilai-nilai karakter. Namun karakter tersebut tidak hidup dalam kepribadiannya.

Oleh karenanya promovendus berharap, pembentukan karakter hendaknya menjadi mainstreaming kebijakan sekolah. Jika mengharapkan pembentukan karakter dapat berhasil. Selain itu kultur sekolah juga sangat menentukan terbentuknya karakter yang kuat para siswanya, mengingat komunikasi antara guru dan siswa dalam situasi informal terkadang lebih terkesan bagi siswa dari pada komunikasi formal di kelas. Moral feeling dan moral action lebih mudah terbentuk melalui pembiasaan kegiatan sehari-hari di luar kelas antara guru dengan para siswanya, dari pada kegiatan formal di dalam kelas, demikian jelas Rusnita Hainun. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).