ASEAN MUSLIM LEADERS MEETING

Masyarakat Muslim di kawasan ASEAN diharapkan bisa meningkatkan jalinan kerja-sama yang lebih baik lagi. Apalagi diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ini berimbas pada perdagangan bebas serta konstelasi politik dan budaya.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Muhyidin Junaidi menyampaikan hal tersebut dalam High Level Meeting of ASEAN Muslim Leaders Toward ASEAN Economic Community, di Gedung Pusat Administrasi, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa, 10 Februari 2015.

Acara ini dihadiri Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. Akh. Minhaji, Ph.D., dan perwakilan pemimpin Muslim negara-negara anggota ASEAN, Arab Saudi dan Afrika. Muhyidin mengatakan, pertemuan ini juga untuk saling berbagi informasi dan wawasan bagaimana membangun persahabatan lebih harmonis lagi. Apalagi belakangan ini, komunitas Muslim di dunia, termasuk di ASEAN sedang mendapat sorotan negatif.

“Indonesia sebagai negara besar di ASEAN, dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, juga mendapat sorotan dari dunia, bagaimana menerapkan nilai-nilai moralitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan berbegara lebih baik lagi,” kata Muhyidin.

Prof. Minhaji mengatakan, diberlakukannya MEA 2015 menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Termasuk komunitas Muslim di Indonesia. Mau tidak mau, siap tidak siap, MEA harus dihadapi dengan bijaksana, juga menjadi peluang.

Karenanya, UIN Sunan Kalijaga, sebagai lembaga pendidikan tinggi sudah bersiap diri bersaing secara sehat dengan perguruan tinggi asing guna mencetak generasi andal di bidangnya. Bahkan, kerjasama luar negeri terus digiatkan untuk menuju kampus kelas dunia (World Class University). (tim humas UIN Sunan Kalijaga)