Fakultas Dakwah dan Komunikasi Seminarkan Buku Biografi Intelektual Cak Nur

Fakultas Dakwah dan Komunikasi bekerjasama dengan Nurcholish Majid Society adakan seminar dan bedah buku karya M. Wahyuni Nafis yang berjudul ‘Cak Nur Sang Guru Bangsa’ Biografi Intelektual Nurcholish Majid, 11 Februari 2015 bertempat di Gedung Teatrikal Fakultas setempat. Dalam acara ini turut mengundang Prof. Drs.H. Akh. Minhaji, MA, Ph.D (Rektor UIN Suka), Ibu Omi Komaria Majid (Istri Cak Nur), M. Wahyuni Nafis (Penulis Buku), dan Ulil Absahar Abdala (ICRP).

Wakil Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan, Dr. Waryono, dalam pembukaannya menyampaikan bahwa gagasan Islam moderat yang digagas oleh Cak Nur dapat menjadikan jawaban bagi dakwah saat ini. Hal ini dikarenakan Negara Indonesia adalah plural yang terdiri dari bermacam-macam suku, budaya dan agama, sehingga dakwah yang disampaikan harus berwawasan keindonesiaan. “Jangan sampai dakwah yang kita lakukan menyinggung dan menyakiti hati orang lain” tutur Waryono.

Wahyuni Nafis memaparkan, Nurcholish Majid atau lebih dikenal dengan Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya. Nurcholish Madjid kecil semula bercita-cita menjadi masinis kereta api. Namun, setelah dewasa malah menjadi masinis dalam bentuk lain, yaitu menjadi pengemudi lokomotif yang membawa gerbong bangsa.

Kesadaran politik Nurcholish muda terpicu oleh kegiatan orang tuanya yang sangat aktif dalam urusan pemilu. Politik praktis mulai dikenalnya saat menjadi mahasiswa. Ia terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat, tempat Nurcholish menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Pengalamannya bertambah saat menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI selama dua periode berturut-turut dari tahun 1966-1969 hingga 1969-1971. Ia pun menjadi presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT) periode 1967-1969.

Ulil Absahar Abdala menambahkan bahwa, Cak Nur merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus didalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa. Sebagai tokoh pembaharu dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Nurholish Madjid sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaharuan Islam di Indonesia. Pemikirannya diaggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

“Cak Nur adalah orang yang sederhana dan apa adanya. Didalam kehidupannya selalu memberlakukan sifat jujur dan tegas didalam memegang prinsip hidup”, tutur Omi Komaria. Cak Nur selalu mengajak rekan-rekannya untuk selalu pada jalur kebenaran dan tidak segan-segan untuk memutus pertemanan jika rekannya melenceng dan berbuat kotor. Dalam mendidik anak-anak, Cak Nur selalu memberikan teladan contoh yang selanjutnya akan ditiru oleh anaknya secara otomatis tanpa memaksakan kehendak anak. (Doni TW-Humas)