PSW UIN Sunan Kalijaga Bekerjasama dengan Kedutaan Besar Iran di Indonesia, Selenggarakan Konferensi Internasional tentang Wanita dan Keluarga

PSW UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan Islamic Culture and Relations Organisation di bawah naungan Kedutaan Besar Iran di Indonesia menyelenggarakan Konferensi Internasional bertajuk Perempuan dan Keluarga. Forum ini dibuka Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, MA., Ph.D., dan menghadirkan pembicara dari kedua negara (Indonesia dan Iran) antara lain : Prof. Dr. Amin Abdullah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga mewakili Muhammadiyah), Prof. Dr. Reza Berenjkar (Vice Director of Darul Hadis, Professor of Islamic Philosophy), Dra. Siti Syamsiatun, MA., Ph.D., (Direktur ICRS), Prof. Dr. Hadi Sadegi (Supreme Count of Republic Islam Iran, Professor of Islamic Philosophy), Prof. Dr. Sayet Ahmad Habib Nejad (Parlementary Research Deputy, Member of The Senate of University Tehran), Dr. Ema Marhumah, M. Pd., (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga mewakili MUI Yogyakarta), Dr. Hamim Ilyas, MA (dari Majelis Tarjih Muhammadiyah), Euis Nurlaelawati, MA., Ph.D., (mewakili NU), Muhrisun, M.SW, Ph.D, (Children’s Rights Activist, Lecturer in Syari’ah and Law at UIN Sunan Kalijaga), Prof. Dr. Mohammad Taqi Sobhaninia (Vice Rector Hadist University, Akhlak Lecturer).Forum ini juga dihadiri Duta Besar Iran untuk Indonesia dan Wakil Mahkamah Agung Iran.

Menurut Wakil Rektor bidang Kelembagaan dan Kerjasama, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA., ditemui di sela-sela diskusi, antara lain menjelaskan, dalam forum ini dikaji pemikiran Mazhab Syafi’I dan Ja’fari sebagai sebuah mazhab yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kebudayaan dan pembentukan sistem hukum, termasuk dalam kaitannya dengan isu perempuan dan keluarga pada kedua negara. Mazhab Syafi’i sangat berpengaruh di Indonesia, sementara Mazhab Ja’fari sangat berpengaruh di Iran.

Dijelaskan Ruhaini, dalam Islam dipahami pentingnya sistem keluarga untuk pertumbuhan dan kesempurnaan manusia yang menjadi tujuan penciptaannya. Keberadaan sistem keluarga sebagai sebuah kebutuhan ruhani dan jasmani manusia. Bukan sebatas komitmen biasa maupun sistem kepemilikan yang saling menginginkan dominasi (antara laki-laki dan perempuan). Pentingnya keluarga dan perannya dalam perkembangan dan kesempurnaan manusia, juga banyak ditekankan dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadis. Kitab-kitab fikih mazhab juga benyak menjelaskan hak dan kewajiban serta tantangan yang dihadapi keluarga, lebih-lebih di era kontemporer saat ini.

Menurut Ruhaini, dalam forum ini juga dipaparkan, dalam konteks masyarakat kontemporer saat ini, perlunya disadari bahwa umat Islam penting menelaah perspektif sosiologis, antropologis dan filsafat dalam kajian Islam. Melalui perspektif sosiologi, antropologi, maupun filsafati, dalam kajian Islam, kata Ruhaini, akan diperoleh pemahaman prinsipal bahwa penciptaan manusia, baik laki-laki dan perempuan, diciptakan dari bahan dasar yang sama. Oleh karenanya, baik laki-laki maupun perempuan di muka bumi ini sesungguhnya memiliki hak dan tanggungjawab yang sama sebagai hamba dan khalifatullah yang harus menyelenggarakan kehidupan yang baik di bumi ini. Kesadaran kesamaan hak dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan, bukan sekedar perebutan dominasi, sangat bermanfaat bagi upaya mengatasi krisis multidimensi yang dialami umat manusia saat ini.

Untuk memperoleh pemahaman tersebut, dalam forum ini didialogkan juga kitab-kitab klasik dengan perkembangan dan dinamika keluarga saat ini dikaitkan dengan peran ganda perempuan dalam keluarga dan peran sosial perempuan yang semakin terbuka di era kini. Hal ini diperlukan dalam Islam era kini, Karena kitab-kitab klasik kala itu disusun, dimana masalah hak dan kesetaraan belum mendapatkan porsi yang memadahi.

Sementara Duta Besar Iran untuk Indonesia dalam sambutannya antara lain mengatakan, dialog Indonesia –Iran semacam ini bagi Iran sangat penting. Iran dan Indonesia memiliki persamaan pandangan tentang Islam, yakni ingin selalu mengembangan Islam yang penuh rahmat bagi semua umat di bumi ini. Hal ini dimulai dari keluarga dan yang berperan sangat penting bagi baik dan tidaknya sebuah keluarga adalah eksistensi seorang ibu (perempuan). Oleh karenanya perempuan dalam perspektif Islam memiliki kedudukan khusus. Eksistensi perempuan dalam keluarga menjadi penguat bangunan keluarga, baik secara pisik, psikologis, sosialisasi dan pendidikan anak.

Bila dirunut dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, Iran juga telah menjalin hubungan mutualistik yang sudah ratusan tahun. Hubungan mutualistik ini perlu terus dibina melalui dialog-diualog ilmiah semacam ini. Menurut Duta Besar Iran, terkait dengan urusan perempuan dan keluarga, Iran dan Indonesia perlu terus menggali persamaan persepsi melalui kajian al Qur’an dan hadis, yang merupakan sumber yang paling soheh. Dialog-dialog ilmiah seperti ini, bagi Iran dan Indonesia akan mencegah dan menanggulangi pengaruh buruk dari pandangan pemikiran Barat tentang perempuan dan bangunan keluarga. Pandangan Barat yang menyesatkan misalnya, semakin terbukanya peran sosial perempuan di ranah publik, menjadikan perempuan bisa dipersepsikan untuk meraih tujuan-tujuan kebendaan,uang atau materi tertentu yang sesungguhnya merendahkan martabat perempuan. Ini tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menghormati keberadaan perempuan, demikian dijelaskan Duta besar Iran.

Minhaji menanbahkan, ajaran-ajaran dalam kitab klasik terdahulu mengenai perempuan dan keluarga, perlu didialogkan dengan persoalan-persoalan era kini. Hasil dari dialog dalam forum ini diharapkan bisa menjadi masukan dari pembaharuan hukum seperti, UU Hak Asasi Manusia, UU Perlindungan Anak, UU Penghapusan Kekerasan dalam Keluaraga. Dengan dialog yang produktif dalam forum ini, juga diharapkan diperolehnya pemaknaan baru yang berfungsi untuk menggerakkan progresifitas nalar dalam rangka pembaharuan sistem hukum di Indonesia maupun di Iran. (Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).