Sumar’in Usia 30 Tahun Raih Gelar Doktor

Sumar’in, SEI., MSI., (30 tahun) mengatakan, ketatnya penyaringan perusahaan untuk menentukan layak dan tidaknya sebuah perusahaan yanglistingdi daftar Efek Syari’ah (DES) diduga hanya berdampak pada level pasar primer. Ketika masuk dalam pasar skunder praktik, praktikgharardanmaysirsulit untuk dihindari. Karena masih besarnya indikasi spekulasi terlihat dari volatilitas harga yang cukup tinggi di pasar modal syari’ah. Hal ini menjadikan harga saham tidak lagi ditentukan dari kondisi fundamental dan informasi perusahaan. Argumentasi di atas juga menunjukkan orientasi investor bukanlahlong investment, tetapi lebih mengindikasikanmargin trading.
Temuan tersebut bisa diungkap Dosen IAIN Sultan M. Syarifuddin Sambas ini, setelah pihaknya melakukan riset dengan studi kasus yang mengambil fokus di Pasar Saham pada rentang tahun 2008-2012 (lima tahun). Sebelum melakukan riset, Sumar’in terlebih dahulu telah menetapkan permasalahan “Apakah Perdagangan di Pasar Modal Syari’ah bisa diindikasikan terjadi spekulasi!” Karya riset putra kelahiran Sekura ini dipresentasikan untuk meraih gelar Doktor bidang Ekonomi Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, dengan mengangkat judul “Pengujian Indikasi Spekulasi perdagangan Saham Di Bursa Efek Jakarta”. Karya riset Disertasi ini dipertahankan di hadapan tim penguji : Drs. Akhsyim Afnadi, MA., Ph.D., Prof. Dr. H. Muhammad, M. Ag., Dr. H. Slamet Haryono, SE., M. Si., Akt., Prof. Dr. H. Abd. Salam Arief, MA., Prof. Dr. H. Hadri Kusuma, MBA., (promotor merangkap penguji), Dr. H. Syafiq Mahmadah Hanafi, M. Ag., (promotor merangkap penguji), bertempat diConvention Hall,kampus UIN Sunan Kalijaga, Selasa, 24 Maret 2015.
Di hadapan promotor dan tim penguji, promovendus memaparkan, ia telah melakukan riset kuantitatif dengan pendekatan eksplanasi. Melalui risetnya ini, promovendus berhasil mengungkap bahwa sesungguhnya aktivitas spekulasi masih ditemukan di pasar saham syari’ah. Meskipun dalam waktu cepat (periode 3 sampai 5 hari sebelum dan sesudah pengumuman deviden). Hal ini juga memberikan penjelasan bahwa,Islamic Ethical Invesmentbelum diterapkan secara utuh oleh investor di pasar modal syari’ah.
Hasil penelitiannya juga menjelaskan bahwa sesungguhnya mekanismescreeninghanyalah mampu untuk menseleksi perusahaan yanglistingdi saham syari’ah. Namun dengan mekanisme ini tidak mampu untuk mengurangi atau menghilangkan aktivitas spekulasi pada investor syari’ah. Hadirnya DSN-MUI terkait mekanisme transaksi di pasar modal syari’ah yang melarang spekulasi,gharardanmaysirmestinya dilanjutkan pada kebijakan yang lebih kongkrit untuk meredam fluktuasi harga yang cepat,margin tradingdanabnormal returnyang ekstrim dalam satu periode. Baik oleh DSN-MUI sendiri, maupun oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dijelaskan, berdasarkan hasil risetnya ini, demikian promovendus, mekanismeminimum holding periodmerupakan salah satu alternatif kongkrit yang dapat dijadikan sebagai cara untuk mengurangi tingginya spekulasi di pasar modal syari’ah. Temuan dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuh hari merupakan periode yang tepat sebagai batas minimalholding periodsaham. Hal ini sebagai bentuk kongkrit, dan komitmen investor untuk berinvestasi padalong investmentyang merupakan identitas dariIslamic Ethical Invesment.
Alternatif lain untuk mengurangi tingginya spekulasi adalah bagaimana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyusun mekanisme penilaian asset yang transparan dan jelas pada setiap perusahaan. Serta nilai harga saham yang wajar, yang selanjutnya diinformasikan pada pasar. Selain itu dapat juga dengan menerapkan pajak yang tinggi minimal 20 persen setiap bulan atau setiap transaksi pada pendapatancapital again.(Weni Hidayati-Humas UIN Sunan Kalijaga).