Menegakkan Keunggulan-Membangun Kapasitas (Menuju World Class University) (Bagian ke-2 dari 3 tul

World Excellence: Penguatan Karakter Manusia

Disamping membentuk sumber daya kompeten dan kompetitifbagi sektor-sektor strategis, membentuk karakter kemanusiaan merupakan kontribusi signifikan perguruan tinggi. Dunia dihadapkan pada kontestasi politis-ideologis dan sosio-kultural yang berpotensi menciptakan krisis kemanusiaan. World excellence dunia pendidikan juga diarahkan membentuk karakter manusia sesuai prinsip UNESCO yang tidak semata diarahkan pada how to know dan how to do tetapi yang terpenting adalah how to live together. Karakter kemanusiaan ini merupakan modal sosio-kultural bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia. Karakter ini dapat dibentuk melalui transformasi nilai-nilai budaya, dan terlebih agama, menjadi etika-etika sosial yang melandasi prinsip kewargaan modern (modern citizenship) tentang kesetaraan, keadilan, nir- kekerasan, penghormatan hak asasi manusia dan ‘public goods’ lainnya (Bikhu Parech, 2008).

UIN Sunan Kalijaga memiliki peluang membangun world excellence dari disiplin ilmu yang telah dimiliki serta disiplin ilmu baru yang dikembangkan. Kekayaan khazanah keislaman harus ditransformasikan dalam kajian-kajian etika-etika sosial yang unggul dalam membentuk karakter kemanusiaan paripurna ( Fazrul Rahman, 1981) yang ‘compatible’ terhadap globalisasi yang menciptakan ruang-ruang tanpa batas, multi-kultural dan pluralitas kehidupan. Keunggulan tersebut harus dicapai melalui beberapa langkah, diantaranya:

  1. Keunggulan kajian dan riset yang hanya dapat dicapai melalui karakter yang disebut oleh Gramsi sebagai ‘organic intelectuals” yang dibentuk dari ‘passionate engagement’ dari intelektualisme dan aktifisme ( Lerian, 1982). Karakter ini akan menggerakkan ‘ghirah’ dan ‘komitmen pada nilai’ (value commitment) mencapai ‘karya unggulan’ dan bukan sekedar memenuhi persyaratan adminstrasi yang pragmatis. Penguatan pusat-pusat studi dengan ‘voluntarary engagement’ menjadi ‘ujung tombak’ pengembangan ‘center of excellence’ kajian-kajian unggulan yang diakui secara internasional melalui Jurnal internasional dan teknologi informatika.
  2. Perguruan tinggi, termasuk UIN harus menjamin ‘kebebasan akademik’ yang mendorong pada passionate engagement diatas. Universitas harus dibebaskan dari berbagai tekanan, baik fisik maupun psikis, yang menghalangi pengembangan keilmuan dana pengetahuan yang bertanggung jawab.
  3. Passionate engagement diatas akan membentuk tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang berdedikasi tinggi karena tidak sekedar melaksanakan pekerjaan pengajaran tetapi melakukan ‘advokasi’ value-commitment yang diyakininya sebagai ‘way of life’ nya sendiri.
  4. Demi menjaga stamina ‘passionate engagement’ para civitas academica, perguruan tinggi harus berupaya menyediakan fasilitas ‘berkarya’ seperti perpustakaan dan laboratorium yang memadai. Seperti universitas lainnya, UIN Sunan Kalijaga menghadapi kendala pendanaan yang dibutuhkan dalam membangun WCU. Namun ibarat pepatah Jawa ‘ gawe jeneng, jenang teko’ (buatlah nama maka ‘bubur’-rezeki akan datang), masalah pendanaan yang selama ini melilit perguruan tinggi akan dapat teratasi apabila semua pihak (mahasiswa, dosen, pegawai dan pejabat) memiliki komitmen untuk ‘gawe jeneng’ dengan membangun reputasi universitas yang unggul. Pendanaan pemerintah dan kerjasama dengan berbagai pihak, ibarat ‘jenang’ akan berdatangan kemudian.

Langkah-langkah diatas inilah yang menurut Philip G Albach (dikutip oleh Rio Armanda Agustian, 2013) dibutuhkan dalam mencapai WCU yang pada gilirannya dapat menyumbangkan sumber daya manusia yang kompeten, relevan dengan tuntutan zaman.

Siti Ruhaini Dzuhayatin (WR. III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Berita Terkait

Berita Terpopuler