TOLERANSI HARGA MATI

Oleh: Dr. Hamdan Daulay, M.Si. M.A. Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Penyerangan gereja Santa Lidwina di Sleman, Yogyakarta pada hari Minggu 11 Februari 2018 sungguh tindakan biadab. Kerukunan yang sudah terjaga baik selama ini di Yogyakarta ternoda dengan tangan kotor orang tak bertanggungjawab dan anti Pancasila. Padahal selama ini Yogyakarta terkenal sebagai kota yang rukun, toleran, kota budaya, kota pelajar dan bahkan disebut sebagai “Indonesia mini” karena potret kerukunan Yogyakarta di tengah pluralitas yang ada, baik perbedaan agama, suku dan budaya. Barangkali karena kesejukan, kerukunan dan toleransi yang cukup baik selama ini di Yogyakarta menjadi target polititk bagi tangan-tangan jahil untuk membuat “prahara” dengan mengusik kerukunan umat beragama. Tentu masyarakat Yogyakarta sangat cerdas dan tidak akan terprovokasi dengan tindakan konyol yang dibuat oleh kelompok anti damai. Bagi masyarakat Yogyakarta toleransi adalah harga mati, sehingga akan selalu berpikir jernih terhadap berbagai tindakan provokasi.

Tindakan intoleransi (tidak toleran) terhadap kelompok lain, karena perbedaan agama, etnis dan budaya, tentu harus disikapi dengan pikiran yang jernih. Apalagi menyangkut simbol-simbol agama, begitu mudah menyulut emosi yang terkadang sangat sulit untuk dikontrol. Kedewasaan berpikir dan semangat nasionalisme yang tinggi harus dikedepankan untuk mengurai persoalan yang cenderung mengusik kerukunan beragama di tengah masyarakat. Jangan sampai ada kelompok lain yang sengaja memprovokasi masyarakat, sehingga menimbulkan kondisi yang lebih runyam lagi. Umat beragama yang cinta damai selalu memiliki kesabaran yang tinggi, di tengah berbagai tindakan kotor yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang ingin menciptakan prahara untuk kepentingan politik yang telah mereka targetkan dengan tindakan menghalalkann segala cara.

Kasus-kasus intoleransi yang terjadi di tengah masyarakat dari waktu ke waktu semakin banyak, dan kalau tidak segera diatasi dengan baik, akan bisa menjadi “bom waktu” yang akan mengoyak persatuan dan semangat nasionalisme berbangsa dan bernegara. Demikian pula dengan kasus penyerangan gereja Santa Lidwina di Sleman, menjadi ujian serius bagi umat beragama dalam menjaga kerukunan dan toleransi yang sudah terpelihara dengan baik selama ini. Tokoh-tokoh agama diharapkan bisa meningkatkan dialog agar jangan samapi terjebak dengan provokasi yang senagaja diciptakan untuk membuat kekacauan dan merusak kerukunan yang sudah terjaga selama ini. Di tahun politik saat ini berbagai cara akan dilakukan oleh petualang-petualang politik, mulai dari adu domba umat beragama, merusak tempat ibadah hingga munculnya “orang-orang gila” menyerang ulama.

Indonesia adalah sebuah mozaik dalam kategori apapun, baik keyakinan agama, karakter budaya, identitas etnik, pola-pola adat, rasa dan ungkapan bahasa, warisan sejarah, pilihan golongan, afiliasi politik, tampilan karakter dan lain-lain. Lazimnya sebuah mozaik, jika direnungkan sesaat, di dalam diri Indonesia tercermin apa yang pernah diucapkan seorang antropolog Perancis, Claude Levi-Strauss (1995), yang mengatakan bahwa keragaman ada di belakang, di depan, dan bahkan di sekelilimng kita. Dengan demikian , bagi Indonesia keragaman dalam berbagai hal itu memang sebuah realitas, sama sekali bukanlah hal yang baru. Atas nama keragaman itu, Indonesia sesungguhnya adalah taman yang luar biasa indah, sehingga berada di dalamnya penuh dengan dinamika dan tantangan.

Bangsa Indonesia yang plural, baik dari aspek agama, budaya, aliran, etnis dan lain-lain, bisa menjadi potensi kerukunan dan juga bisa menjadi potensi konflik. Manakala persoalan pluralitas ini dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi kerukunan. Sebaliknya manakala persoalan pluralitas ini tidak dikelola dengan baik, akan bisa menjadi potensi keresahan dan konflik di tengah masyarakat. Di sinilah dibutuhkan pendekatan dialog yang baik, agar bisa memberi kesejukan bagi umat, sehingga bisa memperkokoh keutuhan dan persatuan bangsa. Dialog yang baik di tengah perbedaan yang ada, akan bisa memberi kesejukan, bukan justru mempertajam perbedaan, menonjolkan eksklusivisme, dan bahkan membuka potensi konflik di tengah masyarakat.

Akhirnya, kasus penyerangan gereja Santa Lidwina Sleman, Yogyakarta, hendaknya jangan sampai menjadi bom waktu yang akan mengoyak kerukunan umat beragama yang sudah terpelihara dengan baik selama ini. Semua pihak harus berpikir jernih dengan semangat toleransi yang tinggi untuk segera mencari solusi terbaik. Pemerintah juga harus bertindak cepat dan tegas agar kasus ini tidak semakin meluas dan membara. Dengan demikian, bagi warga Yogyakarta memiliki komitmen yang sama bahwa toleransi adalah harga mati.

artikel ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat Tanggal 13 Februari 2018

Berita Terkait

Berita Terpopuler