LABeL Gelar Seminar Internasional “Agama”, “Beragama”, and “Tidak Beragama” di Timur dan Barat.

Laboratorium Agama dan Budaya Lokal (LABeL) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema “Agama”, “Beragama”, and “Tidak Beragama” di Timur dan Barat. Seminar ini terselenggara atas kerjasama LABeL dengan Asosiasi Studi Agama Indonesia (ASAI), Pascasarjana Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Laboratorium Studi Quran dan Hadits (LSQH) dan Jurnal Religi Program Studi Agama – Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, di ruang smart room Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Rabu(26/7) kemarin.

Pada seminar ini menghadirkan enam pembicara yang berasal dari empat negara dan berbagai disiplin keilmuan. Sebagai narasumber Prof. Edith Franke (Jerman), Prof. Morny Joy (Kanada), Prof. Nelly Van Dorn (Amsterdam), Dr. Ahmad Muttaqin, M.A., Dr. Inayah Rohmaniyahm, S.Ag., M.Hum., M.A., Dr. Abdul Mustaqim, S.Ag., M.Ag. Masing-masing pembicara menyampaikan problematika keberagamaan dan keragaman yang saat ini menjadi perhatian publik.

Prof. Edith Franke menyampaikan bahwa agama di Indonesia memiliki dimensi politilis yang cukup kental. Ia membahas mengenai pemahaman agama dan bukan agama dalam konteks Indonesia, dengan mengawali isu Ateis, “beragama” atau “tidak beragama”, dan “belum beragama”.

Sementara Morny Joy asal Universitas Calgary Canada menyampaikan topik terkait masalah hak asasi permpuan dan agama. Menurutnya, Post-Kolonialisme dan modernitas membentuk paradigma baru yang mengabaikan hak asasi manusia baik hak untuk beragama (dalam konteks agama lokal), terlebih hak bagi perempuan.

Dr. Ahmad Mutaqin menuturkan pada situasi ini terdapat problem utama etnosentic paradigm, oleh karena itu ia menawarkan perlu adanya redefinisi “agama”.Muttaqin membagi hasil risetnya tentang Komunitas Dayak Kaharinagn Loksado yang menjadi Capital indigenus people baik bagi pemerintah maupun aktivis NGO.

Pada sesi kedua lebih Prof. Nelly van Doorn berusaha menjelaskan proses rekonstruksi studi Islam di Barat. Sebagai seorang dosen yang mengajar Islam di ia berusaha mengubah perspektif mahasiswa Barat yang kini mengalami homopobhia terhadap Islam (teroris).

Dr. Abdul Mustaqim memaparkan terkait rekonstrusi pemahaman Islam yang ada di Indonesia (UIN Sunan Kalijaga). Mustaqim membagi hasil risetnya tentang penafsiran kitab pegon (Jawa) “Faad al-Rahmah karya KH. Soleh Darat yang merupakan satu-satunya karya kitab Pegon yang ditulis menggunakan metode Irfani dan Burhani. Hal senada disampaikan Dr. Inayah Rohamniyah yang memaparkan agensi perempuan, yakni mengingatkan pentingnya merekonstrusi agama dengan melibatkan persepektif perempuan.

Acara seminar ini diharapakan mampu melahirkan kajian-kajian baru, menghasilkan makna baru yang lebih luas mengenai definisi apa itu agama. Agama yang hakiktanya merupakan fitrah bagi manusia untuk menciptakan kemaslahatan bagi seluruh umat, namun ketika diturunkan di bumi memiliki banyak interpretasi tergantung siapa yang melakukanya.

(Zaim/Efrida LABeL-habib/humas)