Tiga Bayangan: Pentas Pra-produksi Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sebagai tempat sumber ilmu pengetahuan dan pencetakan kader intelektual muda, kampus yang di dalamnya ada komunitas teater seharusnya memberi lampu terang sebagai pencerah bagi masyarakat di sekitarnya. Keberadaan teater kampus merupakan wujud kepedulian akan pelestarian seni dan budaya daerah.

Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sudah ikut serta dalam upaya edukasi masyarakat lewat pementasan teater dengan tema “Tiga Bayangan” di Gelanggang Mahasiswa UIN Suka, Sabtu (2/4) kemarin. Pertunjukan ini merupakan sebuah proyek penciptaan teater pra-produksi Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pimpinan Produksi Suryadin Abdullah mengatakan, pertunjukan ini mengangkat tentang waktu. Keberadaan teater kampus yang istimewa karena perkembangan wacana dan di sana sangat komplek dengan banyaknya mahasiswa yang beragam. “Pertunjukan ini merupakan awal agenda kegiatan pentas produksi, dan sebagai cerminan uin bagaimana membangun kampus untuk peduli terhadap seni dan kebudayaan” tutur Suryadin.

Suryadin menambahkan pementasan ini diperankan oleh 11 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Proyek ini menekankan pada pencarian dan penjelajahan ide, konsep, dan bentuk artistik panggung. “Kami tidak menyangka seluruh tribun akan penuh sesak dengan penonton, dan itu artinya masyarakat umum khususnya mahasiswa sudah sadar kondisi sekarang ini “ kata Suryadin.

Pada pentas Tiga Bayangan, Teater Eska mempersembahkan tiga repertoar dari tiga sutradara yang disatukan dalam satu panggung. Masing-masing repertoar berjudul “Jamais Vu” dengan sutradara Jauhara N. Azzadine, “Neosamting (Blues Tanpa Minor Harmonik)” yang disutradarai Muhamad Saleh, dan “Persoalan Hidup dan Beberapa Pertanyaan Payah” garapan sutradara Lailul Ilham.

Tiga repertoar ini menawarkan sudut pandang dalam melihat kenyataan sosial kita hari ini. Tawaran tersebut merupakan bentuk upaya mendialogkan antara gagasan pertunjukan dengan kenyataan yang sedang berlangsung di sekitar kita. Sudut pandang tersebut bermuara pada relasi disiplin seni teater dan keterlibatan kita sebagai manusia. Di panggung, Teater Eska tidak hanya mempertontonkan akting, namun juga tebaran wacana atas isu-isu yang akrab di sekitar kita.

Dalam “Jamais Vu” misalnya, ia mengambil spirit absurdisme dalam khazanah filsafat dan seni di Barat. Sementara repertoar “Neosamting (Blues Tanpa Minor Harmonik)” mengetengahkan sebuah pergulatan panjang dan melelahkan manusia dalam menciptakan sesuatu yang baru. Adapun karya Lailul Ilham yang berjudul “Persoalan Hidup dan Beberapa Pertanyaan Payah” ini hendak menampilkan ketimpangan sosial di masyarakat.(ch/humas)