Alumni S2 dan S3 UIN Suka Yogyakarta Angkatan X, 25 Tahun Berpisah, Kumpul Lagi Jalin Ukhuwah

Setelah 25 tahun berpisah meniti karier masing, masing, alumni Program S2 dan S3 IAIN/UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan X tahun 1992-1994 berkumpul lagi dalam reuni perdana, di Gedung Asrama Haji DIY, Sabtu, 17/3/18.

Menurut ketua panitia reuni, Prof. Dr. H. Abd. Rahman Assegaf, reuni perdana yang mengangkat tema “Studi Islam di Indonesia, Peluang dan Tantangan” dihadiri 19 alumni bersama keluarganya. Reuni juga dihadiri para mantan dosen mereka, diantaranya: Prof. Noeng Muhajir dan Prof. Syafi’i Maarif. Juga hadir Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, Ph.D., dan Dirjen Haji dan Umroh, Prof. Dr. H. Nizar.

Lebih lanjut Prof. Assegaf menyampaikan, Di sela sela ramah tamah, dan agenda wisata di DIY, para alumni ini mengagendakan musyawarah pembetukan organisasi profesi. Mengenai bentuknya; ikatan, pusat atau asosiasi, nanti hasilnya akan diputuskan dalam musyawarah tersebut. Tetapi sudah ada ide awal nama wadah para alumni, yakni: Asosiasi Akademisi Studi Islam Indonesia.

Para alumni ini dalam perkembangan karirnya telah banyak melahirkan ide-ide yang dituangkan dalam tulisan buku, karya ilmiah dan lain-lain, yang telah tersebar luas, melalui wadah alumni yang segera dibentuk sebagai ikatan profesi ini, nantinya akan dikelompokan karya- karya mereka dalam berbagai bidang, seperti, hukum, pendidikan dan sebagainya.

Melalui acara ini diharapkan akan terjalin ikatan keilmuan yang akan menambah perhatian terhadap kajian Islam untuk menampung semua aspirasi dari berbagai kalangan kelompok umat beragama dan ormas, baik Muhammadiyah, NU maupun lainnya untuk dapat dipertemukan. Sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih banyak lagi bagi pengembangan studi Islam di Indonesia, demikian harap Abd. Rachman Assegaf.

Sementara itu tiga guru besar yang hadir dalam forum ini memberikan arahannya. Prof. Yudian Wahyudi menyampaikan, agar studi Islam dapat berkembang pesat di Indonesia, kuncinya adalah selalu dan terus memberi suport kepada Pemerintahan yang syah. Karena dukungan pemerintah sangat menentukan terhadap pengembangan studi Islam.

Prof. Noeng Muhajir menyampaikan, kita harus selalu menanamkan kepercayaan bahwa Islam itu hebat. Cikal bakal pengembangan ilmu pengetahuan barasal dari Islam yakni: dimulai dari Islam Andalusia melalui Universitas Cordoba, yang dikembangkan oleh keturunan Abu Sofyan. Dari sini berkembang 4 ilmu pengetahuan, yakni; Fisika, Astronomi/Falak, Matematika dan Kedokteran. Dari 4 bidang itu berkembangkan tradisi keilmuan menjadi banyak bidang keilmuan sampai sekarang.

Dari ilmu pengetahuan bersambung pada pengembangan teknologi. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai era kini bisa bersifat memudahkan dan mensejahterakan kehidupan, namun juga bisa merusak tatanan kehidupan dan kelestarian alam semesta ini. Maka peran penting Islam adalah terus mengawal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar terarah pada pengembangan keilmuan dan teknologi yang humanistik.

Sementara Prof. Syafi’i Maarif mengharap agar Islam bisa mengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan baik, maka umat Islam harus menjaga kekompakannya dalam segala perbedaan yang ada, mendudukkan al Qur’an sebagai al Furqon dan meniadakan anggapan tentang riya’. Karena kalau kita masih dihantui oleh perasaan riya’ (takabur dan sombong) akan menghambat umat Islam untuk berinovasi (Weni).