Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Ikuti Kuliah Dosen Tamu Dari Georg-August University

Mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendapatkan ilmu dari dosen Georg-August University, Prof. Dr. Fritz Schulze di gedung Prof. RHA. Soenarjo, SH, Jum’at(9/3). Pada kesempatan tersebut materi yang Fritz Schulze berikan terkait Paradigma Ilmu Sosial dalam Penelitian Sejarah.

Kuliah umum ini tidak hanya menyuguhkan materi tinjauan pemahaman dan pembahasan terhadap konsep paradigma itu sendiri, tetapi juga pendalaman pemahaman tentang format, pendekatan, metode penelitian ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta kontribusinya terhadap perkembangan teori sejarah masyarakat dunia.

Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Prof. Dr. H. Alwan Khoiri, M.A. menuturkan perkuliahan dengan dosen tamu sangat penting untuk mendongkrak penilaian akreditasi. Jika akreditasinya bagus secara umum, juga akan mengangkat fakultas, dosen dan mahasiswa. “Kegiatan ini jarang ada, karena itu semoga dilaksanakan secara rutin sehingga dapat bermanfaat bagi sivitas akademika,” tutur Alwan.

Alwan berharap mahasiswa untuk memperhatikan pada kuliah ini. Materi yang diperoleh bisa dikembangkan agar tidak seperti katak dalam tempurung, agar kita punya wawasan atau pengetahuan yang luas dan bisa diaplikasikan pada masyarakat kita. Semoga bisa digelar kuliah dosen tamu dengan narasumber dari dosen PTKIN yang ada di Indonesia.

Fritz Schulze menjelaskan Ilmu sosial tidak begitu berpengaruh pada perubahan zaman ini, apa yang berubah adalah pandangan sejarawan. Sejarah dunia mengakui bahwa sejarah bukanlah sejarah satu wilayah, Barat, dan pinggirannya. Sejarah dunia mengasumsikan bahwa ada lebih dari satu peradaban yang harus diperiksa dengan hak mereka sendiri.

Lebih lanjut Fritz menambahkan sejarah global masih berbicara tentang peradaban. Perkembangan sekarang ini berbeda, karena sebelum pergeseran paradigma peradaban itu sendiri banyak ragamnya. Sekarang sejarah global mengasumsikan peradaban teknologi ilmiah. Ini telah merambah ke pluralitas budaya lokal dan membawa semua budaya lokal ke dalam satu alam semesta “Jika ada satu peradaban global maka harus ada satu komunitas ilmiah global”, kata Fritz . (Khabib/humas)