Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Meluncurkan Portal MESSIA

Perkembangan Kajian Timur Tengah (KTT) di Indonesia belum menjadi studi yang konprehensip bahkan diminati oleh peneliti atau dunia akademis. Untuk memperkenalkan prospek Konsentrasi Kajian Timur Tengah di masa yang akan datang, mahasiswa Pascasarjana Kajian Timur Tengah (KTT) UIN Sunan Kalijaga meluncurkan website Middle Eastern Studia Islamia (MESSIA).

Acara peluncuran website tersebut disertai pelaksanaan kuliah umum dengan tema “Readers Strategy and The Hostile Media:Upaya Menentukan Sikap” yang menghadirkan pembicara Trias Kuncahyono (Wakil Pemimpin Redaksi Kompas), Dr. Ibnu Burdah, MA(Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Reza Bakhtiar Ramadhan (Peneliti Middle Eastern Studia Islamia) di gedung Prof. RHA. Soenarjo UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa(27/3).

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Noorhaidi Hasan, M.A, M.Phil, P.hD. menuturkan generasi muda sekarang agar mencoba melihat kondisi luar negeri misal daerah timur tengah. Karena di sana bisa menjadi studi yang menarik untuk dikaji. “ Langkah ini sebagai inisiasi mengembangkan Kajian Timur Tengah (KTT)”, tutur Noorhaidi.

Noorhaidi menyambut baik peluncuran portal pemberitaan wilayah Timur Tengah agar nanti bisa berkembang. Kita harus optimis, ketika kajian Timur Tengah di Indonesia sudah tidak jelas arahnya. MESSIA dapat mengangkat isu yang sekarang update agar tidak stagnan dan mengalami kemunduran atau bahkan hilang dari jejak.

Sementara itu Trias Kuncahyono dalam menyampaikan materi menjelaskan fenomena Musim Semi Arab yang terjadi di Timur Tengah pada tahun 2011 mewariskan beragam persoalan di sejumlah negara di kawasan. Persoalan itu antara lain perang saudara, stagnasi ekonomi dan menguatnya kelompok ekstrimis. Berbagai persoalan itu diyakini tidak mudah diurai dan diselesaikan karena berkait berbagai faktor.

Lanjut Trias menambahkan selain perang saudara di Suriah, Libya dan Yaman, kekuatan kelompok radikal dan ekstrimis di beberapa wilayah Timur Tengah justru mengalami penguatan. “Warisan lain dari Musim Semi Arab adalah peningkatan kompetisi antara kekuatan politik dan sektarian yang ada di Timur Tengah. Yang paling nyata, pertarungan politik Arab Saudi dan Iran”, Kata Trias.

Ibnu Burdah menilai, beragam persoalan yang terjadi di Timur Tengah sesuai Musim Semi Arab tidak akan mudah diurai dan diselesaikan. Salah satunya adalah siapa yang menguasai militer merekalah yang menjadi pemimpin.“Usaha untuk mencapai proses perdamaian di Suriah gagal karena terjadi saling jegal di antara negara-negara besar yang terlibat” kata Burdah.

Pimpinan Redaksi MESSIA Firmanda Taufiq mengatakan, persoalan yang terjadi di Timur Tengah juga diwarnai oleh “perang informasi” di antara sejumlah media massa, baik media lokal maupun media internasional. (Khabib/Humas)