Qoid Abdillah, Sering Wakili UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Di Ajang International

Qoid Abdillah, biasa dipanggil Qoqo. Mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Sosial Humaniora, UIN Sunan Kalijaga ini punya hobi mengikuti konferensi internasional di negara-negara lain. Untuk mewujudkan hobinya ini, Qoqo rajin menulis paper dan dikirim ke panitia-panitia call far paper even-even internasional. Meskipun sering gagal, Qoqo tidak pernah patah semangat. Tak Cuma itu, Qoqo-pun sering mengikuti ajang kompetisi. Menurut Qoqo, kegagalannya mengikuti ajang konferensi internasional biasanya disebabkan 2 hal. Makalahnya tidak lolos seleksi atau lolos seleksi tetapi dia tidak punya dana yang cukup untuk berangkat. Tetapi karena semangat yang tinggi untuk bisa berperan dalam kegiatan internasional, Qoqo-pun gigih mengumpulkan uang sendiri dengan bekerja apa saja yang bisa ia kerjakan di sela sela kuliah dan kegiatan di kampus.

Kegemarannya berpartisipasi di ajang internasional di diawali dari keikutsertaanya mendaftar beasiswa studi lanjut ke Qatar selepas ia lulus SMU di Ponpes Modern Gontor. Di sesi wawancara Qoqo tidak lolos. Tetapi melalui ajang ini, ia mendapatkan jejaring baru. Memiliki banyak teman dari berbagai negara sebagai wadah untuk saling sharing informasi untuk mengembangkan diri. Dan lewat diskusi-dikusi via group peserta kompetisi beasiswa studi lanjut ke Qatar inilah, Qoqo teropsesi untuk bisa berperan dalam dialog-dialog internasional. Mulailah ia menulis beberapa paper dan dikirim ke berbagai kepanitiaan konferensi internasional.

Sembari menunggu hasilnya, ia mematangkan diri dengan aktif dalam organisasi kampus, menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fishum dan anggota UKM devisi Bahasa Arab UKM SPBA. Di sela-sela kuliah dan aktifitas kampus, Qoqo menyempatkan menjadi sopir taksi online (nge-grab) berbekal mobil dari orang tuanya. Ia juga kerja part-time sebagai tenaga pemasaran salah satu usaha catering di Yogyakarta. Semua itu dilakukan, agar ia bisa mengumpulkan dana untuk mewujudkan obsesinya untuk berperan di kancah internasional. Karena Qoqo tidak ingin tergantung dari orang tuanya meskipun orang tuanya secara ekonomi berkecukupan.

Kegigihannya menulis paper dan mengirimnya ke panitia call for paper, membuahkan hasil. Beberapa paper lolos seleksi dalam waktu yang bersamaan dan membutuhkan dana yang tidak sedikit, karena panitia tidak menanggung seluruh biayanya. Qoqopun telah cukup mengumpulkan dana untuk menambah anggaran pemberangkatannya ke luar negeri dari anggaran yang disediakan panitia.

Lawatan ke luar negeri yang pertama, Qoqo berkesemapatan mewakili Indonesia bersama dua rekannya Kharisma Wardhadul (dari Fakultas Syariah) dan Hangganie Kirada dari Fakultas Isoshum, ketiganya membawa nama UIN Sunan Kalijaga dalam forum “ international and Malaysian Global Innovation and Creativity Center (MAGIC),” 21-23 April 2016. Sebelumnya di awal tahun 2016 juga, Qoqo mendapatkan undangan pertukaran mahasiswa ke Eropa, tetapi ia tidak bisa berangkat karena belum memiliki anggaran tambahan yang cukup.

Forum MAGIC merupakan program resmi konsultan pendidikan internasional dalam rangka membangun jaringan internasional, meningkatkan keterampilan, pertukaran, dan kegiatan sukarela, dibawah tanggungjawab Perdana Menteri Malaysia. Forum yang diluncurkan oleh Barack Obama saat masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ini bertujuan mengasah keterampilan berkomunikasi dan bernegosiasi di tingkat global, mengasah jiwa wirausaha dan teknik-teknik mengumpulkan modal usaha, bertemu mentor dan pembinaan pribadi oleh para ahli di bidangnya dari berbagai negara maju. Menurut Qoqo, dirinya banyak mendapatkan pengalaman dan wawasan global, serta mengasah kematangan kepribadiaannya. Forum ini juga memacu dirinya untuk selalu gigih melakukan apapun yang sifatnya positif. Karena apapun yang kita lakukan di luar kampus adalah pengalaman-pengalaman baru yang tidak ada dalam perkuliahan, yang tentunya sangat bermanfaat dalam proses pendewasaan hidup, kata Qoqo.

24 s/d 27 November 2016, Qoqo berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia mewakili Delegasi Indonesia dalam Asia Pasific Future Leader Conference. Di even mengangkat tema “Menjalin Jejaring di Era Digital Abad 21 – Siap Menjadi Pemimpin Masa Depan” ini, Qoqo menjadi kontributor aktif pada sesi konferensi, lokakarya, diskusi kepemimpinan masa depan, menciptakan jaringan internasional dalam rangka melahirkan sosok pemimpin masa depan, di hadapan peserta konferensi yang terdiri akademisi dan wirausaha muda perwakilan negara-negara Asia-Pasific, serta dari Malaysian Turism Center. Di even ini juga didiskusikan mengenai pendidikan era digital, , kepemimpinan, budaya, kewirausahaan dan meningkatkan kesadaran pentingnya melahirkan banyak tenaga ahli untuk memajukan kawasan Asia Pasific.

April 2017 Qoqo mendapat undangan untuk menjadi volunteer ke Beijing, Cina, berdasarkan paper yang ia kirim di Zhengzhou University Beijing. Tetapi tidak bisa berangkat karena tidak memiliki dana yang mencukupi.

Setelah itu, Qoqo kembali mendapatkan undangan untuk menjadi pembicara di forum Kongres Mahasiswa Internasional di Universitas Maltepe, di bawah koordinator Prof. Dr. Betul Cotuksoken, 10 s/d 12/5/17. Di forum ini Qoqo berangkat bersama 11 orang lainnya sebagai perwakilan dari Indonesia. Kesebelas orang itu diantaranya mewakili UIN Sunan Kalijaga, UGM, UII, Ibnu Quldum.

Di forum yang mengangkat tema “New Opportunities in Teaching” ini Qoqo mempresentasikan paper yang mengupas tentang Teknologi untuk Pendidikan dan bagaimana seorang guru bisa membangkitkan motivasi semua murid untuk meraih mimpi-mimpinya, di hadapan para mahasiswa (calon pendidik) perwakilan dari berbagai bangsa. Di forum ini juga Qoqo banyak mendapat pengalaman tentang masalah-masalah pendidikan di setiap negara peserta konferensi. Qoqo beserta para peserta lain juga berkesempatan praktek mengajar di sekolah-sekolah di Turki.

Di tahun 2018 ini, Qoqo masih memiliki 3 agenda lawatan luar negeri. Yakni; undangan mengikuti konferensi perdamaian Israel-Palestina di Belanda , pertukaran mahasiswa ke Amerika , dan Simposium BEM seluruh dinia di Rusia pertengahan tahun ini. Pada simposium Bem di Rusia, dipastikan Qoqo akan berangkat mewakili BEM Psikologi UIN Sunan Kalijaga bersama delegasi dari Indonesia yang lainnya. Oleh karenanya ia sudah mulai mengumpulkan uang, agar pada saatnya tiba, tambahan anggaran untuk berangkat bisa mencukupi, akunya.

Tak hanya aktif memburu even-even di luar negeri, selama masa kuliahnya di Yogyakarta, Qoqo aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di luar perkuliahan. Seperti; menjadi volunteer pengajar di sekolah inspirasi Yogyakarta (2017), bergabung dengan Telkomsel Yogyakarta dalam kegiatan Youth Project 2017, menjadi volunteer kuliah tak gentar Dompet Duafa (2017), menjadi guru privat matematika untuk anak anak SD di Kaffah College (2016), menjadi duta generasi berencana Kanwil BKKBN DIY (2015), mewakili UIN Sunan Kalijaga dalam competisi debat nasional bahasa Arab di kampus UNJ jakarta (2015), marketing dan sponsorship pada festifal bahasa dan budaya UIN Sunan Kalijaga (2014).

Itulah Qoid Abdillah. Mahasiswa semester 10 ini patut menjadi contoh mahasiswa lain. Ia menjalani masa perkuliahannya dengan aktif melakukan kegiatan-kegiatan positif untuk mengasah kematangan pribadinya, sekaligus banyak berperan dalam kancah kegiatan di luar kampus baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional, meskipun harus banyak mengeluarkan keuangan dari kantong pribadinya. Namun ia merasa puas, masa mudanya banyak terisi pengalaman-pengalaman berharga yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah. Teruskan hobimu ya Qoqo, semoga menjadi jembatan kesuksesanmu di masa mendatang (Weni-Humas).