Mahasiswi FEBI UIN Suka Wakili BI dalam ISEF 2016

Neneng Ela Fauziyyah, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) terpilih sebagai perwakilan Bank Indonesia Kategori Mahasiswa dalam kegiatan besar Bank Indonesia yang diberi nama ISEF (Indonesia Shari’a Economic Festival) yang ke-3. Kegiatan ini berlokasi di Surabaya, Jawa timur tepatnya di Grand City, Surabaya. Grand Opening dilaksanakan pada hari Kamis, 25-30 Oktober dan dibuka oleh Menteri Ekonomi, Darmin Nasution.

Dengan mengangkat tema “Leading Roles in The Development of Islamic Economics and Finance to Archieve Prosperity of The Nation”, kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Shari’a Forum dan Shari’a Fair. Shari’a Forum yang dikemas dalam bentuk International dan Nasional seminar, workshop, serta high level panel discussion berlangsung mulai tanggal 25-28 Oktober 2016. Rangkaian ini dihadiri oleh perwakilan dari negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), kementerian, lembaga keuangan bank dan non-bank, pelaku pasar keuangan, pelaku usaha, serta dosen dan mahasiswa.

Pada hari pertama yaitu Selasa, 25 Oktober 2016 diisi oleh workshop terkait dengan tiga inisiasi di bidang ekonomi dan keuangan syariah yaitu peluncuran Islamic Financial Market Code of Conduct, model Sukuk Linked Waqaf, serta pembentukan Satuan Tugas Akselerasi Ekonomi Syariah (Satu Akses) di wilayah Jawa Timur.

Islamic Financial Market Code of Conduct adalah sebuah pedoman dalam bertransaksi di pasar keuangan syariah. Selama ini, antara keuangan konvensional dengan keuangan syariah masih sulit dibedakan, tetapi dengan peluncuran pedoman ini seperti adanya unsur etika dan moral dalam bertransaksi secara syariah, kewajiban untuk patuh terhadap fatwa Dewan Syariah Nasional, serta aspek kemaslahatan bagi sektor riil dan masyarakat, akan memudahkan para pelaku keuangan syariah dalam bertransaksi secara syariah. Kemudian sebuah inovasi Sukuk yaitu model Sukuk Linked Waqaf digagas untuk mengoptimalkan aset Wakaf dengan Sukuk. Model ini akan diterapkan oleh BUMN sebagai lembaga penerbit. Sukuk BUMN ini diharapkan dapat menambah koleksi Sukuk dan menarik minat para investor untuk mendukung pasar keuangan syariah. Selain itu, diluncurkan juga Satuan Tugas Akselerasi Ekonomi Syariah (Satu Akses) sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Surabaya 2014. Satgas ini merupakan wadah yang dibentuk untuk mengakomodasi percepatan dan program ekonomi syariah di Jawa Timur.

International seminar dan The 2nd Journal of Islamic Monetary Economics and Finance (JIMF) dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Oktober dengan mengusung tema “Integrating Islamic Commercial and Social Finance to Strengthen Financial System Stability”. Acara hari kamis, dibuka dengan pidato yang disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W Martowardojo yang membahas tentang ketidakseimbangan antara perkembangan instrumen keuangan komersial dengan upaya pembiayaan sosial melalui zakat dan wakaf. Padahal keduanya juga memiliki peran penting dari segi potensinya jika dikembangkan dan dikelola dengan baik. Apalagi ditinjau dari kontribusinya pada kemakmuran sosial dan ekonomi bangsa. Zakat dan wakaf juga dapat bertindak sebagai stabilisator serta penyangga terhadap guncangan ekonomi.

Seminar yang mengundang pembicara Internasional yang berasal dari Bahrain, Qatar serta Bank Indonesia merupakan salah satu upaya untuk mem-follow up pemikiran di atas. Dalam bentuk plennary seassion, International Seminar ini dimoderatori oleh Dr. Dadang Muljawan. Hadir sebagai pembicara yakni Dr. Ugi Suharto dengan judul “Financial Instability Hypotesis (FIH) of Minsky: Contextualizing the Roles of Islamic Commercial and Social Finance”, Prof. Dr. Monzer Kahf membawa judul “Renovation Islamic Economy Brings to Finance Sector” serta Dr. Ascarya yaitu tentang “Integration of Islamic Commercial and Social Finance in Micro/Small Scale”.

Dr. Ugi Suharto menjelaskan tentang sebuah hipotesis ketidakstabilan keuangan yang dikeluarkan oleh Hyman Philip Minsky, seorang ekonom amerika. Minsky menyatakan bahwa teori pertama dari hipotesis ini adalah ekonomi memiliki rezim keuangan yang stabil dan tidak stabil. Teori kedua dari Minsky yaitu hipotesis ketidakstabilan keuangan merupakan akhir dari periode kemakmuran yang berkepanjangan, ekonomi akan singgah dari hubungan finansial yang membuat sistem menjadi stabil ke hubungan finansial yang membuat sistem tidak stabil. Berdasarkan teori tersebut, keuangan syariah yang komersial dan sosial sebagai instrumen stabilitas perlu ditumbuhkan bersamaan. Islamic Finance is Real Economy Finance dibahas oleh Prof. Monzer Kahf. Keuangan syariah tidak hanya menjunjung aspek komersial tetapi juga harus mengutamakan keseimbangan nilai dan moral dalam setiap transaksinya. Kemudian Dr. Ascarya, menjelaskan dalam mengintegrasikan antara islamic commercial dan social financetidak hanya dilakukan oleh perbankan saja tetapi juga lembaga yang mikro seperti BMT. BMT dengan dua bagian Baitul Maal dan Baitu Tamwil sudah membagi antara sisi komersial dan sosial. Sehingga jika dikembangkan dan didorong dengan lebih baik lagi, berawal dari keuangan skala mikro dapat berpengaruh pada keuangan nasional.

Dalam Public Lecture yang diisi oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani serta Prof. Monzer Kahf. Sri Mulyani memberikan kuliah umum tentang Kontribusi Keuangan Syariah dalam Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Bu Menteri menyatakan bahwa capaian program Millenium Development Goals (MDGs) memang sudah baik, namun MDGs masih menyisakan pekerjaan rumah seperti kemiskinan yang belum teratasi maksimal, masih banyak anak-anak kecil yang putus sekolah, tingkat kematian balita di bawah usia 5 tahun masih banyak, ketersediaan air bersih dan sebagainya. Hal ini kemudian menjadi latar belakang dari disusunnya program lanjutan yaitu SDGs yang ingin menyingkirkan kemiskinan, kelaparan, kekurangan air bersih, kesehatan yang baik, pendidikan yang berkualitas sampai pada kedamaian dan keadilan. Prinsip-prinsip tersebut sudah sejalan dengan RPJMN Indonesia untuk tahun 2015-2019. Di sisi lain, keuangan syariah sedang berkembang sangat pesat. Tidak hanya sisi komersial saja, sisi sosial juga berpotensi cukup besar. Jika ini dimaksimalkan tentu keuangan syariah dapat bersinergi dengan program-program SDGs dalam mengatasi segala permasalahan yang masih ada. Kuliah umum ini dilanjutkan dengan pembahasan dari Prof. Monzer Kahf tentang “Fundamental of Islamic Finance”.

Bagian lain dari ISEF 2016 adalah Shari’a Fair yang berlangsung sejak tanggal 27 – 30 Oktober. Shari’a Fair menampilkan kolaborasi kegiatan hasil dari kerjasama Bank Indonesia dengan pihak-pihak yang mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Di lantai dasar Grand City, Surabaya berderet stand-stand yang terdiri dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, produk UMKM industri kreatif, pesantren, serta produk-produk hasil daerah di Indonesia. Selain sebagai sarana pengenalan produk-produk, shari’a fair juga dapat menjadi jembatan bagi pelaku UMKM untuk bertemu dengan para calon investor atau lembaga keuangan serta pembeli yang potensial. (nng/Doni TW-humas)