Reproduksi Pengetahuan Berbasis Anak Muda

Begitu banyaknya model kreatifitas dan pengetahuan kaum muda menjadikan generasi ini haus akan informasi.Untuk itu Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan seminar series bertemakan “Reproduksi Pengetahuan Berbasis Anak Muda”, Rabu (29/3) kemarin.

Seminar kali ini bersamaan dengan kehadiran Direktur PTKI Kemenag RI, Prof. Dr. Nizar Ali.Akhmad Ramdhon, S.Sos., MA dan Achmad Uzair, MA., Ph.D. Bertempat di ruang sidang lantai II FISHUM,

Nizar Ali menyampikan materi tentang kebijakan arah pengembangan akademik PTKIN. Ia menegaskan bahwa beberapa elemen di Perguruan Tinggi harus mendapat dukungan. Seperti pentingnya dukungan dari pihak Dekan kepada Kaprodi.“Dekan harus memberi support kepada pemimpin akademik. Karena, tenaga pengajar yang unggul menjadi salah satu ciri-ciri universitas kelas dunia,” Jelasnya.

Menurut Akhmad Ramdhon, pembelajaran bagi mahasiswa tidak hanya cukup di ruang kelas saja. Pembelajaran di luar kelas menjadi sangat penting. Karena, mahasiswa akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih banyak dari pada hanya duduk dan mendengarkan dosen di dalam kelas.

Ramdhon juga menjelaskan bahwa hasil dari praktek pembelajarannya di luar kelas di UNS tempat ia mengajar menghasilkan banyak karya. Selain karya ilmiah seperti buku, ia bersama mahasiswanya akhirnya mendirikan kampungnesia. Dimana, kajian mengenai kehidupan kampung-kampung yang berada di pusat kota menjadi konsentrasi utama mata kuliah yang diajarkannya. Beberapa media sosial baik IG, Twitter, FB (@kampungnesia) ia mafaatkan untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan dan karya mahasiswa.

Sementara itu, Achmad Uzair lebih menjelaskan bagaimana generasi milineal bisa menafaatkan kecanggihan teknologi. Mengingat, abad 21 dengan kecanggihan teknologi membuat masyarakat dan anak muda di dalamnya tidak bisa mengendalikan diri. Salah satu dampak yang paling terlihat ialah paniknya moral masyarakat demokrasi dengan adanya isu Hoax.

“Hoax bukan hanya kesenjangan fakta dan opini. Tetapi makin terlihat sejak berkembangnya internet. Internet juga bagian dari digital capitalism. Maka, solusi untuk mengatasi Hoax, semata-mata bukan hanya dengan deklarasi komunitas anti Hoax saja, namun yang lebih penting ialah kesdaran akan adanya digital capitalism. Sehingga dengan kesadaran itu, masyarakat menggunakan media sosial dengan bijak,” Ujarnya. (tri-chabib/humas)