Senin, 6 November 2017 18:50:56 WIB Dilihat : 70 kali
Prof. Dr. Ir Jazi Eko Istiyanto, M.Sc.,IPU menyampaikan materi di depan mahasiswa

Perkembangan teknologi yang kian pesat banyak bermanfaat salah satunya bagi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). BAPETEN menyadari pentingnya teknologi informasi (TI) dalam melakukan pengawasan terhadap berbagai fasilitas tenaga nuklir dan tempat yang diduga terdapat zat radioaktif. Selain itu sejak tahun 2016, BAPETEN memanfaatkan TI untuk mempermudah pengurusan izin bagi perusahaan yang ingin mengoperasikan fasilitas tenaga nuklir.

Oleh karena itu, BAPETEN menggelar seminar nasional bersama mahasiswa Prodi Teknologi Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga. Mengusung tema Implementasi Sistem Keamanan Nuklir Berbasis Cyber Security, BAPETEN mengajak para mahasiswa mempelajari sistem keamanan nuklir berbasis teknologi informasi untuk mencegah manipulasi data yang bisa merugikan masyarakat, Senin (6/11).

Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Prof. Dr. Ir Jazi Eko Istiyanto, M.Sc.,IPU mengatakan ancaman berbasis teknologi informasi yang kian marak saat ini tentunya menjadi perhatian tersendiri bagi BAPETEN. Potensi ancaman pemanfaatan tenaga nuklir saat ini tidak hanya sebatas tindakan pencurian atau sabotase secara fisik seperti dirty bomb yaitu bom konvensional yang dicampur zat radioaktif, tetapi juga indikasi pencurian atau sabotase melalui jaringan komputer dari instalasi nuklir dan bahan nuklir serta fasiltas sumber radioaktif.

Jazi menjelaskan BAPETEN dan instansi pemerintah yang terkait akan melakukan pengawasan dan pencegahan zat radioaktif atau bahan nuklir masuk dan keluar wilayah Indonesia secara ilegal. Salah satu upayanya pemasangan alat Radiasi Portal Monitor (RPM) di pelabuhan dan bandar udara internasional. RPM berguna menunjukkan adanya zat radioaktif atau bahan nuklir.

"RPM ini akan mendeteksi setiap kontainer atau mobil dan orang secara individu yang membawa zat radioaktif. Jika alarm berbunyi, itu menunjukkan ada zat radioaktif atau bahan nuklir. Sistem monitor keamanan ini dibuat secara on line, dan membutuhkan biaya yang cukup besar” tutur yang juga Guru Besar Ilmu Komputer UGM.

Akan tetapi, dikatakan Jazi, yang menjadi permasalahan jumlah RPM saat ini masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah fasilitas pelabuhan dan bandar udara di Indonesia. Kemudian pihaknya bersama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Universitas, dan Lembaga Elektronika Nasional (PT LEN) untuk mengembangkan RPM hasil anak negeri.

Selain itu, Bapeten memasang alat Radiation Data Monitoring System (RDMS) untuk mengawasi radiasi di suatu daerah. "Sekarang, kita baru memasang RDMS di beberapa tempat yang diketahui ada sumber radiasi yang besar atau fasilitas nuklir besar seperti, Puspitek Serpong, reaktor nuklir di Bandung dan Yogyakarta," ujarnya. Tahun ini, pihaknya menjalin kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Jazi berharap alat tersebut terpasang di seluruh stasiun BMKG dan nantinya BMKG tidak hanya memberitahukan mengenai kondisi cuaca. Akan tetapi, juga tingkat radiasi di daerah tersebut.

Agung Fatwanto, Ph.D., Wakil Dekan bidang Akademik, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, yang mendampingi pembicara pada forum tersebut menambahkan, pihaknya sangat mendukung adanya pembangunan awarnes di kalangan Mahasiswa tentang keselamatan penggunaan nuklir. "Nuklir ini dibenci tapi dirindukan, dan kami menilai bahwa aspek cyber securitynya itu sangat perlu sebagai antisipasi penggunaan teknologi nuklir. Karena itu kami bakal bahas dalam topik perkuliahan cyber security khususnya dalam keamanan nuklir," ungkap Agung Fatwanto (KHABIB/HUMAS UIN SUNAN KALIJAGA).

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Liputan
Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom