MASJID INCORPORATED

Oleh: Waryono Abdul Ghafur.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

18. hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. at-Taubah [9]: 18)

Pengantar: Makna Substantif dan Peran Masjid

Masjid merupakan istilah Arab yang terbentuk dari kata sa-ja-da. Salah satu kata yang terbentuk dari akar kata tersebut adalah sujud dan masjid. Secara etimologis, sa-ja-da atau sujud adalah meletakkan kening ke atas permukaan bumi dan merendahkan diri dengan maksud menghormat. Praktek sujud seperti ini merupakan bentuk perbutan tertinggi yang dilakukan oleh seseorang dihadapan yang dihormatinya. Karena itu, sujud seperti ini hanya boleh dilakukan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, Allah mengingatkan:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

37. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.(QS. Fusshilat [41]: 37)

Sebab, sujud sebagaimana digambarkan di atas merupakan bentuk pernyataan ketaatan yang utuh seorang hamba kepada Yang Disembahnya. Sujud seperti ini karenanya melibatkan tiga anggota tubuh manusia yang sering melambagkan sikap sebaliknya dari kerendah-hatian, yakni sombong, yaitu kaki, tangan dan kepala. Bila seseorang sudah bisa menundukkan hatinya, sehingga tidak sombong, maka ketiga anggota badannya tersebut dengan sendirinya akan memperlihatkan kesopanan dan perilaku baik lainnya. Itulah mengapa misalnya dalam al-Qur’an ditegaskan:

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman [31]: 18)

Sujud merupakan perilaku yang menggambarkan kerendah-hatian atau kekalahan pelakunya dihadapan ‘liyan’ yang dihormati, disembah atau yang mengalahkannya dan tentu dihadapkan dengan makhluk, Allah adalah yang Maha Kuasa, yang ‘mengalahkan’. Karena itu, baik atas kesadaran atau terpaksa, semua makhluk bersujud kepada-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. ar-Ra’d [13]: 15

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

15. hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.

Dalam pengertian dasar itulah, kata masjid terbentuk. Masjid artinya adalah tempat sujud. Namun dari pengertian dasar itu diketahui pula bahwa masjid bukan sekedar tempat sujud, tapi segala tempat untuk melakukan beragam aktivitas yang mengandung ketaatan, kepatuhan dan ketundukan kepada Allah yang terangkum dalam kata ibadah, baik mikro (mahdoh) maupun makro (ghairu mahdoh). Maka, dalam pengertian asal dan luasnya, masjid muncul dalam berbagai bentuk; bisa kampus, kantor, rumah, tanah lapang, dan lain-lain.

Dalam pengertian tersebut Nabi pernah bersabda: Di mana saja engkau berada, jika waktu shalat tiba, dirikanlah shalat, karena di situ pun masjid (HR. Muslim). Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh bumi adalah masjid. Artinya, di mana saja mendirikan shalat atau ibadah lainnya (kecuali di beberapa tempat yang ditetapkan agama seperti kuburan atau toilet), maka sah shalatnya. Secara lebih luas, seluruh planet ini bisa menjadi tempat beribadah kepada Allah. Siapa pun boleh bersujud di atas rumput, di atas pasir, di atas gunung, ataupun di ladang jagung. Karena merupakan sarana untuk mencapai Tuhan, maka planet kita ini penting untuk dilindungi.

Dari kajian di atas, setidaknya kita mendapatkan dua ajaran pokok mengenai masjid, yaitu masjid adalah semua tempat pengabdian kepada Allah yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan jauh dari sifat angkuh dan masjid adalah symbol spirit yang menguatkan betapa sangat dekatnya hubungan manusia dengan alam, sehingga dari masjid dapat dimulai gerakan ramah dan memelihara alam.
Dengan demikian jelas bahwa Islam adalah agama yang pada hakikatnya berhubungan dengan lingkungan, dan seorang Muslim karenanya harus bisa menjadi bagian pembela bumi atau alam secara keseluruhan. Sejalan dengan itu, saya sepakat dengan gagasan "Din Hijau /green din", yakni sebuah gagasan yang mendorong beragama yang menguatkan sinergi antara agama dan lingkungan.

Pengertian masjid seperti di atas kini mulai memudar, diantaranya karena kuatnya pengertian masjid secara fiqhi, yaitu sebuah bangunan tempat shalat atau ibadah kaum Muslim. Dari pengertian inilah dapat ditelusuri mengapa masjid semakin jauh dan dijauhi oleh masyarakat dan kehilangan peran sosialnya. Pengertian itu juga dengan sendirinya telah membatasi makna ibadah dan karenanya bila ada kegiatan masjid yang tidak secara eksplisit mengandung makna ibadah, sebagian masyarakat atau takmir melarangnya, seperti seminar dan lain-lain. Padahal sejarah mencatat, masjid memiliki multifungsi. Quraish Shihab setidaknya mencatat sepuluh peran atau fungsi masjid pada zaman Nabi, yaitu tempat ibadah, tempat pendidikan, tempat member santunan social, tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial-budaya, tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya, tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, aula dan tempat menerima tamu, tempat menawan tawanan, dan tempat penerangan atau pembelaan agama) (Quraish: Wawasan al-Qur’an, 1996; 462).

Memang menurunnya fungsi masjid ini seiring dengan bedirinya institusi khusus yang mengurus persoalan social-kemasyarakatan. Namun, meski hal itu sudah tumbuh dengan pesat sebagai konsekuensi perkembangan social, tidak salah kalau masjid masih memerankan diri sebagai tempat yang mengurusi bukan hanya persoalan ibadah tapi juga social. Sebab, realitas social menunjukkan, perkembangan social yang muncul dari masjid berbeda buahnya dengan perkembangan social yang tidak muncul dari masjid. Sebagai contoh, lembaga pendidikan kita yang tidak memiliki spirit masjid, ternyata tidak membuat peserta didiknya taat aturan, tapi malah menjadi pelanggar aturan dan bahkan menjadi salah satu dari problem social.

Atas dasar kenyataan tersebut, kini masjid mulai dikembangkan dan dikembalikan lagi multifungsinya bagi masyarakat. Sudah ada beberapa eksperimen yang dilakukan agar masjid bukan saja mewadah aktivitas vertical tapi juga horizontal, yakni sebagai community center. Masjid sebagai community center adalah masjid yang melayani, tidak saja kebutuhan spiritual yang berhubungan dengan Allah, tapi juga masjid yang peduli pada kesejahteraan ekonomi dan social masyarakat sekelilingnya. Namun untuk mengembalikan fungsi ini tidak mudah, karena pamor masjid sudah kalah dengan institusi baru tersebut dan kuatnya pemahaman fiqhiyah di atas. Ditambah dengan adanya problem klasik bagi masjid, yaitu minim atau tiadanya dana pengembangan.

Untuk bagaimana mengembalikan fungsi masjid sesuai dengan spiritnya, ada baiknya kita tengok terlebih dahulu beberapa tipologi masjid. Dari tipologi ini setidaknya akan diketahui masjid mana yang perlu digerakkan untuk penggalangan dananya.

Tipologi Masjid

Masjid meski secara substantive sama, tapi dalam konteks pengelolaan dan pendanaannya ternyata berbeda-beda, tergantung pada tipe masjid. Sesuai keputusan Menteri Agama No. 391 tahun 2001, ada enam tipe masjid. Pertama; masjid Negara: masjid di tingkat pemerintahan pusat dan seluruh dananya dibiayai Negara. Masjid seperti ini tentu saja tidak dibuat repot untuk mencari dana untuk keberlangsungan masjid dan kegiatannya. Di Indonesia hanya ada satu, yaitu masjid Istiqlal. Kedua; masjid nasional, yakni masjid di tingkat propinsi yang diajukan Gubernur setempat kepada Menteri Agama agar menjadi masjid nasional. Masjid dengan tipe ini hampir ada di seluruh propinsi yang mayoritas masyarakatnya muslim. Masjid nasional ini juga tidak membuat pengelolanya sibuk mencari dan menggalang dana, karena sudah dianggarkan dalam APBD, meski dapat saja mencari dana tambahan. Ketiga; masjid raya. Berbeda dengan masjid tipe kedua, masjid tipe ketiga ini berdiri atas usulan Menteri Agama kepada Gubernur setempat. Masjid tipe ini juga mendapat anggaran dari Negara, sehingga tidak memerlukan penggalangan dana secara sistematis. Keempat; masjid agung yang berada di tingkat kabupaten atau kota. Masjid agung ini juga lebih banyak mendapat perhatian dari pemerintah setempat, meski tidak seperti tipe tiga masjid sebelumnya. Masjid tipe keempat ini sudah banyak melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya, termasuk dalam mencari dana untuk kemaslahatannya. Kelima; masjid besar yang beroperasi di tingkat kecamatan. Dan keenam; masjid Jami’, masjid yang berpusat di tingkat kelurahan atau desa. Kedua masjid terakhir ini banyak dikelola oleh masyarakat.

Sedangkan dari segi pengelolaan, ada empat tipe masjid, yaitu pertama; masjid pemerintah, yaitu masjid yang para pengelolanya ditunjuk oleh pemerintah. Misalnya Masjid Jakarta Islamic Center yang ada di Kramat Tunggak. Kedua; masjid swasta, yaitu masjid yang pengelolaannya oleh lembaga swasta, seperti masjid-masjid yang berada di lingkungan perusahaan, misalnya masjid Bimantara yang berada di gedung Menara Kebon Sirih. Masjid ini didanai oleh Yayasan Bimantara. Ketiga; masjid kampus. Masjid kampus ini, sama seperti masjid swasta, merupakan fenomena baru di masyarakat akademik, terutama kampus umum. Masjid kampus pertama adalah masjid Salman di ITB Bandung. Masjid inilah yang mengilhami adanya masjid lain di lingkungan kampus. Masjid kampus, meski tidak sepenuhnya didanai oleh kampus, tapi tidak seperti masjid masyarakat umum. Dan Keempat; masjid masyarakat umum. Masjid seperti ini yang paling banyak jumlahnya dan masjid tipe ini yang tampaknya relevan untuk didiskusikan bagaimana keberlangsungannya.

Tafsir atas an-Ya’muru>: Cara Menggalang Dana Masjid

Menurut data KODI (Koordinasi Dakwah Islam) tahun 2002, di Indonesia ini terdapat 700an ribu masjid. Bahkan ada satu kota di Inonesia, yakni Mataram yang dijuliki “Kota Seribu Masjid”, karena saking banyaknya jumlah masjid di sana. Kuat dugaan, banyaknya jumlah masjid tersebut karena diilhami oleh hadis Nabi yang menyatakan: “Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridoan Allah, maka Allah akan membangun pula untuknya sebuah rumah di surge” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun yang ironis, jumlah masjid yang banyak tersebut sudah kehilangan relevansinya, karena tidak sejalan dengan pengertian dasar masjid, sebagaimana dikemukakan di atas, yaitu sebagai basis gerakan ketaatan dan pelayanan serta penjagaan alam. Irrelevansinya masjid, bakan bukan saja dalam pengertian luasnya tapi juga dalam pengertian fiqhinya.

Untuk meminimalisir disfungsinya masjid sebagai sarana hablum minallah dan hablum minannas, ada baiknya menelisik makna “memakmurkan” masjid dan tujuan didirkannya. Sebagaimana dikemukakan dalam cuplikan ayat di awal tulisan ini bahwa yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…… Pertanyannya, apa pengertian memakmurkan itu? Rasyid Ridlo dalam al-Manar menjelaskan bahwa secara bahasa, memakmurkan masjid adalah terus menerus dan konsisten beribadah di dalamnya atau berkhidmah kepada masjid dengan cara memperbaiki, membersihkan masjid dan lainnya. Termasuk dalam kategori memakmurkan masjid adalah menziarahinya atau yang sekarang dikenal dengan wisata religi, seperti berkunjung ke masjid Kubah Emas di Depok. Memakmurkan adalah antonim dari al-khi/arab (merobohkan). Karena itu memakmurkan masjid berarti memelihara atau merawat masjid, sehingga terjaga keutuhannya dan terpelihara dengan baik (Ridlo, al-Manar, X;2005: 198).

Sementara itu Abdullah Yusuf Ali menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan memakmurkan masjid adalah 1) membangun atau memperbaiki, 2) memelihara sesuai martabatnya, 3) mengunjungi untuk keperluan ibadah, 4) diisi dengan cahaya, kehidupan dan kegiatan (Ali, Qur’an , 1993: 443). Masjid bukan hanya didirikan tapi juga bagaimana dipelihara dan diisi dengan berbagai kegiatan. Untuk mendirikan dan memliharanya membutuhkan dana/modal, sementara untuk mengisinya memang membutuhkan modal, tapi juga dapat mendatangkan modal, tergantung pada kreativitas pengelolanya.

Dalam konteks itulah, sudah eranya mengurus masjid secara professional, bukan hanya semata sebagai wadah penadah sedekah, tapi juga pengelola maslahah (ummat) dan yang terakhir inilah yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Namun untuk menempatkan atau mewujudkan masjid yang tidak hanya ibadah-oriented ini tidak mudah, sebab, pada umumnya masjid terkena problem laten, yakni anggaran rutin operasional masjid yang tidak memadai. Masjid memerlukan kebutuhan rutin untuk membayar listrik, membeli alat perawatan dan lain-lain. Sementara pada sisi lain, sumber pembiayaan masih terbatas dari kotak amal, baik yang bersifat harian, mingguan, tahunan atau sumber incidental dari donatur atau sumber-sumber dan cara-cara konvensional lainnya. Sumber pembiayaan yang berasal dari kotak amal tersebut dalam prakteknya hanya bias menutup 40% kebutuhan masjid. Sebagai akibatnya, pengurus masjid sering kali tombok atau merogoh kocek sendiri. Kalau sudah seperti ini maka masjid dan pengelolanya tidak akan mampu mengembangkan masjid dan member pelayanan kepada masyarakat. Dari sini saja dapat dipahamai mengapa jumlah masjid yang banyak belum signifikan dalam turut serta member kemaslahatan masyarakat.

Karena itu cara-cara penggalangan dana secara konvensional meski masih boleh diteruskan, namun cara-cara yang lebih baik dan prodktif perlu dikembangkan. Untuk cara yang terakhir ini sebenarnya sudah banyak masjid yang dapat dijadikan contoh.

Sebagaimana umumnya, masjid pada umumnya dibangun di atas tanah wakaf. Dengan logika wakaf, tanah masjid, baik yang belum dibangun atau bagian dari masjid dapat digunakan untuk usaha produktif, sejauh tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Karena itu, kalau memungkinkan, seandainya tanah wakafnya terbatas dan belum ada tambahan, tanah wakafnya tidak semuanya dibangun untuk masjid atau dibangun ke atas, dengan skema, atas masjid, bawah untuk tempat usaha. Masjid Muhammadiyah Bangkulu dapat dijadikan contoh, sehingga masjid ini bukan saja dapat mengembangkan lembaga pendidikan sampai setingkat SMU, tapi juga sudah tidak ada lagi gelar kotak amal jalanan dalam masjid ini. Contoh lainnya adalah masjid Istiqomah di Bandung. Masjid yang berdiri dua lantai di atas lahan 5000 meter ini telah mengembangkan berbagai usaha. Lantai atas digunakan sebagai tempat shalat, sementara laintah bawahnya ada sekolah dan aula yang dapat disewa untuk berbagai kegiatan hajatan. Di Yogyakarta, masjid yang dapat dijadikan contoh adalah masjid Jogokaryan. Masjid ini telah mengembangkan berbagai lini usaha, antara lain pasar murah, TV dan lain-lain.

Masjid al-Azhar Kairo, Mesir dengan sejumlah tanah wakafnya telah dikembangkan untuk usaha yang berorientasi profit, antara lain disewakan untuk kantor baik swasta maupun pemerintah. Karena itu wajar kalau al-Azhar sudah lama menjadi ikon “mesin uang” pendidikan yang digunakan untuk member fasilitas beasiswa untuk seluruh mahasiswa dari seluruh pelosok dunia, termasuk nusantara.

Orientasi produktif pengelolaan wakaf masjid telah dipayungi Undang-Undang Wakaf. Pada pasal 43 ayat 2 tertulis:

Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf dapat dilakukan secara produktif”. Penjelasan pasal tersebut adalah: “Dengan cara pengumpulan , investasi, penanaman modal, produksi, kemitraan, perdagangan, agrobisnis, pertambangan, perindustrian, pengembangan teknologi, pembanguna gedung, apartemen, rumah susun, pasar swalayan, pertokoan, perkantoran, sarana pendidikan, sarana kesehatan, dan usaha yang tidak bertentangan dengan syari’ah”.

Cara seperti tersebut di atas relative belum banyak ditempuh oleh pengelola atau takmir masjid. Selama ini takmir masih terbatas mengembangkan cara-cara penggalangan dana secara konvensional, seperti kotak amal, proposal, membuat bazaar murah, pengajian umum dan lain-lain. Pengalaman menunjukkan, semua cara tersebut tidak menghasilkan dana yang mencukupi bahkan untuk sekedar merawat masjid, apalagi mengembangkan.

Maka, sudah saatnya masjid melayani bukan dilayani. Sudah saatnya masjid mandiri dan tidak membebani masyarakat, meski mereka ikhlas mau beramal.

Penutup:

Sebagai penutup, saya kutipkan sebuah ayat dari QS. at-Taubah [9]: 108:

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

108. janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamn masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Yang perlu dihidupkan terus terhadap orang-orang beriman dan sudah menjalankan agamanya dengan baik adalah bagaimana mendorong mereka untuk memberikan “pancing” atau modal, seperti tanah wakaf, bukan sesuatu yang habis pakai. Dengan akumulasi modal /wakaf, masjid akan berkembang menjadi “badan usaha dunia-akhirat (BUDA)” yang akan memberi manfaat secara luas kepada masyarakat.

Berita Terkait

Berita Terpopuler