Perempuan dan Penyatuan Kalender Islam

Kajian seputar perempuan telah banyak dilakukan oleh para peneliti baik dari dalam maupun luar negeri. Namun sepengetahuan penulis kajian terhadap peran perempuan dalam pengembangan studi astronomi Islam, khususnya berkaitan penyatuan kalender Islam belum ada yang melakukan. Tulisan singkat ini ingin melihat bagaimana peran perempuan dalam pengembangan studi astronomi Islam perspektif sejarah peradaban Islam, untuk memperingati hari Kartini, 21 April 2016/ 13 Rajab 1437 yang lalu sekaligus untuk menyongsong Ramadan 1437. Di antara urgensi penulisan topik ini untuk melihat dan memposisikan perempuan secara proporsional.

Sepanjang penelusuran terhadap sumber-sumber primer belum ditemukan karya yang mengulas tentang peran perempuan dalam pengembangan studi astronomi abad pertengahan atau abad keemasan. Salah satu karya penting yang dapat disebut adalah “Tarikh al-Ulum al-‘Arabiyyah” ditulis oleh Wail Ghali (2005). Di dalamnya ditampilkan tokoh-tokoh perintis dan pengembang sains Islam, termasuk bidang astronomi Islam. Pada buku setebal 738 halaman tersebut tidak ditemukan tokoh perempuan yang terlibat dalam pengembangan studi astronomi Islam. Karya lain yang representatif adalah “Ilm al-Falak Tarikhuhu inda al-‘Arab fi al-Qurun al-Wusta” ditulis oleh Carlo Nallino (1993) juga tidak ditemukan ulasan tentang peran perempuan dalam pengembangan studi astronomi Islam. Begitu pula buku “Khazanah Astronomi Islam Abad Pertengahan” karya Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar yang sangat komprehensif mengungkap kontribusi para ilmuwan muslim terhadap perkembangankajian astronomi Islam tidak ditemukan uraian yang menggambarkan kontribusi kaum perempuan.

Keadaan ini berlangsung cukup lama. Dalam literatur studi astronomi Islam tercatat bahwa ketertarikan kaum perempuan di bidang astronomi Islam mulai tampak pada era modern. Kesadaran ini mulai tampak sejak berdirinya “Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP)” pada tahun 1998/1419. Salah satu tokoh perempuan yang terlibat dalam kepengurusan ICOP adalah Basma Dhiab. Sosok yang ramah dan murah senyum ini merupakan salah seorang tokoh dibalik perkembangan dan kemajuan ICOP. Di kawasan Timur Tengah kaum perempuan banyak yang terlibat dalam pelaksanaan observasi hilal awal bulan kamariah, selain itu juga melakukan berbagai penelitian seputar astronomi Islam. Hasil-hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan dalam Muktamar Falak ke 1 dan ke 2 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab.

Pada Muktamar Falak ke 2 tercatat sepuluh tokoh perempuan yang hadir, yaitu : Basma Dhiab (Jordan), Hend Ghanim (Jordan), Sanaa Mustafa Abdo (Jordan), Fatma Al-Maamari (Oman), Hanan Al-Seabia (Oman), Moza Reberaki (Oman), Abeer Al-Mozaini (Oman), Ramlah Al-Bandi (Saudi Arabia), Rahab Al-Qudaihy (Saudi Arabia), dan Humeyra Nur Azlek (Turki). Sebagian mereka ada yang mempresentasikan hasil risetnya, seperti Basma Dhiab yang berjudul “The Role of satellite channels and forums in fusing the astronomical culture” dan Sanaa Mustafa Abdo dengan judul “ Survey of awareness regarding the moon, the crescent and the new month”.

Di Malaysia perkembangan studi astronomi Islam, khususnya di Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (APIUM) Kuala Lumpur juga banyak melibatkan kaum perempuan. Hampir setiap tahun jumlah mahasiswi (perempuan) yang mengambil program studi astronomi Islam lebih banyak dibandingkan mahasiswa (laki-laki). Tenaga pengajar bidang astronomi Islam pun lebih banyak kaum perempuan dibandingkan laki-laki. Program studi astronomi Islam telah melahirkan master dan doktor perempuan. Para alumni program studi ini menjadi tenaga pengajar di almamater dan tenaga ahli bidang astronomi Islam di berbagai wilayah mufti di Malaysia. Penyebaran alumni ini mendorong keterlibatan kaum perempuan dalam memajukan studi astronomi Islam di Malaysia.

Dalam perjalanannya para tenaga pengajar di APIUM telah memetakan potensi yang dimiliki dalam mengembangkan studi astronomi Islam. Hal ini dilakukan agar kajian yang dikembangkan lebih menantang, fokus, dan mendalam. Bidang astronomi Islam memiliki cakupan yang sangat luas dan tidak mungkin semuanya hanya dilakukan perorangan. Disinilah pentingnya pemetaan potensi dan mengembangkan pendekatan integrasi-interkoneksi.

Menyadari luasnya bidang studi astronomi Islam para tenaga pengajar di APIUM memetakan potensinya, seperti tenaga pengajar A mengembangkan instrumen astronomi Islam, tenaga pengajar B mengembangkan manuskrip astronomi Islam, tenaga pengajar C mengembangkan software astronomi Islam, tenaga pengajar D mengembangkan studi kalender Islam dan seterusnya. Masing-masing memiliki “kekhususan” tetapi tidak lupa menyapa dan silaturrahim dengan bidang kajian yang lain sehingga perkembangan studi astronomi Islam semakin menarik, diminati, dan menghasilkan karya-karya yang monumental.

Hal lain yang menarik adalah suasana dan proses belajar-mengajar yang humanis sehingga tercipta keakraban antara mahasiswa dan tenaga pengajar. Keterlibatan mahasiswa dalam pelbagai projek penelitian dan observasi awal bulan kamariah mendorong juga terciptanya suasana yang lebih akrab. Kondisi ini berbeda dengan mata kuliah lain, hubungan mahasiswa dan tenaga pengajar “relative” memiliki jarak.

Selanjutnya di Indonesia, ketertarikan kaum perempuan dalam studi astronomi Islam juga tampak melalui berbagai penelitian yang dihasilkan mahasiswa di lingkungan PTAIN. Penelitian seputar kalender Islam banyak dilakukan oleh mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan IAIN Raden Intan Lampung. Hasil penelitian dimaksud antara lain, Lasinem “Perbedaan Pendapat Para Ulama Mengenai Rukyat dan Hisab dalam Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan (1990)”, Eni Zulaeni “Masalah Hisab Rukyat di Indonesia (1993)”, Noni Atiyah “Peranan Badan Hisab-Rukyat Departemen Agama RI dalam Menentukan Awal Bulan Qamariyah (1993)’, Ana Fitriana “Wujudul Hilal sebagai Kriteria Penentuan Awal Bulan Kamariyah Menurut Hisab Hakiki K. Wardan (1998), dan Salvi Gustina “Sistem Penentuan Awal Bulan Qamariyah menurut Saadoeddin Djambek dan Mohammad Ilyas (2003)”.

Ketertarikan kaum perempuan Indonesia dalam studi astronomi Islam terus meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi setelah dibuka program beasiswa dari Kementerian Agama RI yang ditempatkan di IAIN Walisongo Semarang (sekarang berubah menjadi UIN Walisongo Semarang). Program ini telah meluluskan master dan doktor perempuan di bidang astronomi Islam. Bahkan telah didirikan “Komunitas Falak Perempuan Indonesia (KFPI)”. Tentu saja perkembangan yang menggembirakan ini perlu diapresiasi dan pemikiran-pemikiran kaum perempuan tentang penyatuan kalender Islam perlu dipertimbangkan serta keterlibatannya dalam berbagai forum penyatuan kalender Islam dimaksimalkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas kaum perempuan Indonesia menginginkan adanya kalender Islam yang mapan dan dapat diterima semua pihak. Kaum perempuan mengalami kesulitan jika terjadi perbedaan dalam mengakhiri Ramadan karena terkait persiapan lebaran dan open house yang akan dilaksanakan. Pernyataan senada pernah disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika menyampaikan sambutan pembukaan “Simposium Internasional Upaya Penyatuan Kalender Islam Internasional” pada tanggal 22 Syakban 1428/4 September 2007 di Hotel Sahid Jaya Jakarta. Menurutnya ketika terjadi perbedaan dalam memulai Idul Fitri yang paling “menderita” adalah kaum perempuan. Kadang mereka sudah mempersiapkan opor dan lain-lain untuk lebaran, ternyata lebaran ditunda akibatnya opor yang sudah siap dihidangkan menjadi basi. Sebaliknya jika lebaran diajukan mereka mengalami kesulitan untuk mempersiapkan hidangan untuk lebaran bersama keluarga.

Peristiwa di atas pernah dialami oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang beberapa tahun yang lalu. Sementara itu, kaum perempuan yang menolak penyatuan kalender Islam, salah satu alasannya khawatir jika telah terjadi penyatuan maka tradisi rukyat dan hisab akan hilang dan tidak ada yang mengembangkannya. Argumentasi ini sangat menarik dan menunjukkan perhatian kaum perempuan terhadap studi astronomi Islam luar biasa.

Akhirnya dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa peran perempuan di era modern dalam pengembangan studi astronomi Islam sangat signifikan. Dengan demikian dalam upaya penyatuan kalender Islam keterlibatannya dalam berbagai forum perlu dimaksimalkan dan memperoleh porsi yang memadai.

Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

Oleh : Prof. Dr. Susiknan Azhari

Guru Besar Fakultas Syari'ah dan Hukum

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Berita Terkait

Berita Terpopuler