“LaBel UIN SUKA Gelar Webinar Series 2020 : Sakit dan Pandemi Perspektif Budaya Lokal”

Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABEL) UIN Sunan Kalijaga mengelar kembali Webinar Series Label 2020 yang membahas mengenai Dredah Nagari : Penyakit dan Pandemi dalam Perpektif Jawa. Diskusi Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABEL) yang biasanya dilaksanakan setiap bulannya, sempat terhenti pada awal Agustus lalu, tetapi di akhir November ini diskusi ini kita mulai kembali dengan 3 bahasan utama, Pandemi Perpektif Jawa, Papua dan Borneo. Hal ini disampaikan oleh Dr. Soehada selaku ketua Laboratorium Religi dan Budaya Lokal (LABEL) UIN Sunan Kalijaga.

Pada Webinar serias yang diselenggarakan 22 November 2020 kali ini membahas mengenai promblematika penyakit dan pandemi dalam perpektif Jawa. Pematerinya, Dr. Maharsi, M.Hum dosen Fakultas Adab dan ilmu Budaya sekaligus Sekretaris LabeL UIN Sunan Kalijaga. Kemudian, Muh. Bagus Febriyanto, S.S. M. Hum Penghageng Pakualaman/ Dosen FADIB UIN Sunan Kalijaga. Kegiatan ini dihadiri oleh 40 orang. Peserta dari beragam latar belakangnya, ada mahasiswa, alumni, dosen maupun masyarakat dari luar.

Dalam pemaparannya, Dr. Maharsi membahas mengenai wabah dalam perpektif Jawa, mulai dari beberapa naskah kuno yang dipaparkan bahwa pandemi atau pagebluk bagi orang Jawa merupakan ketidakseimbangan dalam kehidupan kita. Maka, menurut dosen Fakultas Adab ini penyakit bagi sandangane bagi wong Jowo sulit dilepaskan. Sehingga banyak-nya ritual-ritual bagi orang Jawa dalam menghadapi pagebluk itu. Diantaranya, ruwatan dengan gununungan yang dilakukan oleh orang Jawa sebagai solusi diberikan keselamatan. Ujar pria yang aktif menulis tentang kebudayaan Jawa ini.

Muh. Bagus Febriyanto, S.S. M.Hum menyampaikan tentang pandangan pagebluk di masa lampau. Ternyata dalam naskah-naskah kuno djawa mencatat bahwa wabah itu sejak dulu ada. Misalnya, flu Spanyol, Disentri, Kolera, Malaria. Ia menjabarkan dengan konteks mitigasi orang Jawa. "Ternyata, cara orang mitigasi orang Jawa menghadapi sudah teruji, hal ini dibuktikan banyaknya naskah kuno yang menulis perilaku orang Jawa dalam menangani suatu wabah", ujar Bagus.

"Konsep kearifan lokal orang Jawa dalam memaknai suatu wabah menjadi perhatian kita semuanya. Selain, pendekatan medis itu yang begitu modern dipakai, akan tetapi cara orang Jawa dengan kidung-kidunya atau dengan ramuan Jamu yang mujarab harus tetap digunakan. Ini penting karena pendekatan Barat selalu mengedapan rasionalitas, tetapi melakukan pendekatan orang timur yang selalu menggunakan roso. Ini memang bertolak belakang. Namun jika digabungkan, saya kira sangat bagus. Ujar", Dr. Maharsi.

“Semoga webinnar series semacam ini menjadi solusi konstruktif di tengah pandemi yang butuh banyak perpektif untuk membantu pemerintah agar cepat berakhir, dan diskusi-diskusi selanjutnya harapan animo peserta yang meliputi mahasiswa, alumni dan para dosen bisa turut serta membina dan membesarkan LaBel kedepannya",tutur Soehada. ( Doni/Atho’ilah)