Sambutan Pelantikan Wakil Dekan Fakultas Dan Wakil Direktur Pascasarjana Di Lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Assalamualaikum Wr.Wb.

Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap orang-orang. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah orang-orang itu dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan orang-orang itu dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka berserahlah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang berserah diri.

Pelantikan ini adalah implementasi atau praxis dari pidato pelantikan Wakil Rektor, Dekan, Direktur Pascasarjana. Prinsip ta’adul, tasawut dan tawazun: Justisia, moderasi, dan equilibrium. Seluruh pejabat ada 12 dibagi 6 dan 6, untuk asset bangsa organisasi yang berjasa kemerdekaan bangsa itu kita perlakukan secara hormat dan adil. Baik yang aktif dalam dua organisasi atau tidak sempat aktif, baik yang pengurus atau anggota biasa, baik yang kental atau sekedar tipis-tipis, atau tak terkait sama sekali. Semua punya hak yang sama. Sedangkan susunan di dekanat adalah 4 personil: 1 dekan 3 wadek. Kita bagi 2 dan 2. Jumlah total ada 24 Wakil Dekan, menjadi 12 12. Pascasarjana menawarkan 1 1 dari 2 posisi Direktur dan Wakil Direktur. Dua organisasi asset bangsa kita tempatkan pada posisi yang seharusnya dan diangkat derajatnya, tidak ada yang merasa kalah dan dikalahkan. Tidak ada yang merasa dua asset bangsa itu bisa digunakan atas nama interest individu. Tentu ada kompromi sana dan sini, itu seni kita. Yang menang tidak mengambil semuanya, yang kalah tidak kehilangan harapan. Yang beruntung tepo seliro, yang ditolong juga harus berterimakasih. Tidak main mutlak-mutlakan, menang-menangan, pokoknya dan harga mati. Semua harus kompromi.

Para Wakil Dekan dan Wakil Direktur ini seperti jodoh kita. Saya terus terang sudah menyaksikan dan menjalani pacaran waktu masih muda berkali-kali. Sewaktu kita jatuh cinta dan saling mengagumi sehidup semati, kita serasa tak terpisahkan. Tetapi kenyataan kehidupan jauh lebih perkasa dari mimpi dan keinginan kita. Pacar kita ternyata bukan jodoh kita. Kita dijodohkan istri kita. Nah kita harus terima itu. Terimalah dan beradaptasilah.

Anda para Dekan, Direktur, mungkin sudah jatuh cinta pada para calon tertentu. Ini adalah calon Wakil Dekan atau Asdir saya. Tapi jodoh lebih berkuasa, alam mengaturnya, taqdir berkata lain. Karma lain. Dharma pun lain. Para calon Anda mungkin belum ditaqdirkan belum dikarmakan. Maka amor fati. Terimalah nasib. Cintailah dan peluklah erat-erat. Rezeki kita ya itu.

Saya singgung juga dalam sambutan pertama pelantikan para Wakil Rektor, Dekan, dan Direktur bahwa kemampuan adaptasi dan fleksibilitas dituntut untuk kerjasama dan saling memahami. Mungkin Anda perlu beradaptasi dengan para Wakil dan Asisten Anda.

Mari belajar dari sejarah binatang punah dan bertahan hidup jutaan tahun.

Tyrannossaurus Rex (atau T-rex) adalah genus Dinosaurus terapoda, adalah makhluk terbuas tujuh puluh juta tahun yang lalu. Semua jenis dinosaurus disantapnya. Tidak ada yang berani melawan. Semua reptilia, mammalia, tumbuhan, dan jenis-jenis lain menjadi makanan sehari-hari. T-rex berada pada apex predator, atau puncak makanan dalam piramida biologis waktu itu. Tetapi coba sekarang cari dimana itu T-rex? Punah. Hanya tinggal fosil kan. Karena tentu gejala alam berupa bencana, perubahan iklim, mateor yang menghujani bumi. Dan T-rex tidak bisa beradaptasi dan punah.

Konon nyamuk (Culicidae) dan semut (Formicidae)itu sudah ada tujuh puluh juta tahun yang lalu. Mereka bertahan sampai saat ini. Ketika terjadi hujan mateor mereka sembunyi dan selamat. Terjadi perubahan iklim mereka beradaptasi. Saat makanan seditit mereka mengecilkan tubuh. Ayam (Gallus gallus domesticus) adalah masih se DNA dengan T-rex dan ayam yang jadi makanan kita sehari-hari itu bertahan sampai sekarang.

Yang terkuat punah, yang agak lemah tapi beradaptasi bertahan hidup tujuh puluh juta tahun.

Padi (Oryza sativaL.) yang kita makan sehari-hari itu adalah jenis rerumputan. Khusus padi sangat bekerjasama dengan manusia, juga gandum tentunya. Padi memberi makanan sumber karbohidrat. Upahnya manusia sangat menyayangi padi. Mengairi, mencabut rumput yang lain, dan memupuknya. Sebagian benih disimpan petani untuk ditanam. Tidak hanya itu, saat ini sudah banyak rekayasa hibrida padi untuk menjadi lebih efektif dan efesien agar padi lebih mulia lagi. Nah, kolaborasi antara padi dan manusia saling tergantung dan saling memanfaatkan. Manusia mengambil biji padi, padi dimulyakan, dikembangkbiakkan, dan dimakan sehari-hari.

Para Dekan dan Direktur jadilah ayam, nyamuk, semut, jangan jadi t-rex, pemakan segala dan galak. Akhirnya punah kan. Jangan ingin menang terus dalam diskusi, pertemuan RKU, rapat, ngobrol santai, atau bergurau. Sekali-kali mengalahlah. Berikan sebagian porsi klaim kepada lawan bicara. Jangan ngotot terus, nanti otot Anda putus loh. Bermurahlah hati, bersyukurlah jangan merasa hebat terus dan selalu menekan teman bicara. Jangan tunjukkan kehebatan terus dan egois membela diri terus. Lihatlah dengan cara jadilah orang lain, jangan kepentingan sendiri terus yang dipikir dan dibela. Negosiasilah dengan cantik jangan ingin menang sendiri dan merasa benar terus. Jangan jadi binatang buas seperti tyrex, bijaklah seperti semut nyamuk, dan ayam sayur. Yang murah hati hidup terus, yang jagoan punah kok.

Para Wakil Dekan dan Asisten Direktur jadilah seperti padi, bermanfaat untuk Dekan dan Direktur yang akan menyayangi Anda. Anda akan dirawat, dikembangbiakkan, karir Anda nanti akan ditopang dan Anda akan menjadi Rektor juga pada saatnya.

Antara Dekan dan Wadek, Direktur dan Wadir harus saling mengangkat, jangan sampai ada saling menjatuhkan. Ada misalnya laporan ini kurang ini dan kurang itu ke saya. Atau laporan kelemahan ini dan itu. Jangan lapor gitu-gitu ah. Tolong pecahkan relasi Anda dalam tim Anda, saling beradaptasi, saling memahami, dan menjadi tim yang baik. Berjanjilah itu sudah menjadi jodoh Anda, terimalah. Mereka bukan pacar Anda, mereka adalah jodoh istri atau suami Anda. Rawatlah, sayangilah.

Ini kisah Jawa kuno tentang Ki Ageng Pemanahan yang minum air kelapa Ki Ageng Giring di Gunung Kidul. Kelapa itu berkata yang meminumnya akan menurunkan raja-raja. Ki Ageng Giring memetiknya dan membawanya pulang. Tapi dia tinggal dulu di rumah. Tamunya Pemanahanhaus, terus meminumnya. Ki Giring tentu kecewa, tapi apa mau dikata. Semoga para cawadek dan ca-asdir yang tidak beruntung, ikhlas menerima. Air kelapa tidak diminumnya, karena diminum temannya sendiri.Terimalah, seperti Ki Ageng Giring menerima Ki Ageng Pemanahan sebagai teman setia berketurunan.

Maafkan para sesepuh pimpinan organisasi yang ada di UIN Sunan Kalijaga, mungkin terjadi sedikit silang sengkarut komunikasi, karena pesan bisa datang dari mana saja. Mungkin kurang sedikit efektif dalam komunikasi, karena ada info yang berbeda antara ini dan itu. Saya berusaha komunikasi sebaik mungkin. Tapi kadang pesan bisa tak terkendali. Saya hormati aset UIN Sunan Kalijaga dua organisasi besar dan ada juga organisasi yang tidak besar. Tapi saya berusaha agar dua organisasi besarini tidak diatasnamakan kepentingan tertentu, tahulah jawabnya. Kadang ada yang merasa memiliki dua organisasi besar ini dan menekan yang lemah. Yang lemah bisa di eks-komunikasikan, dikeluarkan, dan dianggap tidak mewakili dua organisasi besar. Saya harus adil dan bijaksana.

Saya teringat dialog di Republik(Siyasah dalam versi Ibn Ruysd) karya Plato antara Socrates dan mungkin orang-orang muda yang mencari kebenaran tentang makna adil.

Keadilan itu dikaitkan dengan empat hal:

  • Menurut Cephalus keadilan adalah perbuatan baik dan jujur;
  • Polemarchus menunjukkan bahwa keadilan adalah menolong teman dan menyerang musuh, karena dalam konteks perang ya harus menang di era Yunani kuno, membela pasukan sendiri dan menyerang musuh adalah keadilan;
  • Trasyimachus berpendapat keadailan adalah memihak yang lebih kuat;
  • Trasymachus menunjukkan bahwa ketidakadilan itu lebih menguntungkan daripada keadilan.

Nah kita belajar dari buku Republik Plato bahwa, Cephalus itu benar, jujur, baik itu keadilan yang benar. Pandangan Polemarchus tidak sesuai dengan konteks saat ini, kita tidak punya musuh dan tidak perlu menyakiti siapapun, semua teman dan semua aset harus dihargai, dua organisasi besar dan selain dari dua organisasi besar adalah aset. Semua harus ditempatkan sesuai dengan tempatnya. Trasymachus juga kurang tepat, jangan sampai kita memihak hanya yang kuat, bahkan buku saya terkahir berjudul Membela Yang Lemah. Suara yang berjumlah sedikit, minoritas, terpojokkan harus didengar. Suara mayoritas suara umum diperhatikan, tapi jangan lupa yang lemah. Surat al-Ma’un juga sudah mengingatkan kita:

Orang yang memanipulasi agama adalah yang menghardik si yatim dan melupakan si miskin. Artinya ini bisa di-Fazlur-Rahman-kan, di kontekskan, di-Cak-Nur-kan, di hermeneutikkan, di-Amin Abdullah-kan, di-YudianWahyudian-kan, di-Sahironkan bahwa yatim dan miskin itu bisa tafsirkan sebagai kaum minoritas, yang papa. Jangan lupa suara minoritas ya. Jangan selalu mendengar yang merasa kuat terus, yang lemah juga harus di dengar suaranya. Tolong lah yang lemah.

Trasymachus dalam Republik Plato masih menyinggung lagi, bahwa ketidakadilan itu lebih menguntungkan daripada ketidakadilan. Nah ini juga tidak bisa kita terima begitu saja, kalau kita tidak adil mungkin membahagiakan sebagian orang dengan tuntutan interes pribadi, tetapi percayalah itu sementara. Dalam jangka panjang ketidakadilan akan meruntuhkan kita.

Ini laporan awal perlu penelitian. Di UIN Sunan Kalijaga terjadi homogenisasi level mahasiswa. Mereka tambah seragam dari etnis, asal, dan mungkin latar belakang. Bayangkan dulu sangat beragam, Hasby Asshiddiqy dari Aceh, Muin Umar Aceh, Syaifan Nur Aceh Langsa, Khoiruddin Nasution dan Maragustam dari Batak. Kira-kira 70 persen mahasiswa kita sudah dari Jawa. Ini tugas wadek 3 juga para Dekanuntuk menarik mahasiswa Nusantara, luar Jawa. Tidak hanya satu warna ya, heterogenkan lagi UIN, Tarik mahasiswa dari berbagai latar belakang, etnis, mazhab, bahasa, budaya, pulau untuk masuk UIN. Nusantarakan UIN lagi. Beragamlah UIN. Miniaturkan Indonesia UIN. Begitu seterusnya.

Pupuh139,bait5 Kitab Sutasoma:

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Buddha dan Siwa adalah dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa diketahui?
Hakekat Jina (Buddha) dan Siwa adalah satu
Berlainanlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Sebagi pertanggungjawaban publik berikut proses pemilihan yang terjadi:

  • Syarat administrasi
  • Reputasi dan catatan akademik yang mudah dilacak di portal dan website
  • Loyal dan watak kolaboratifnya terhadap Dekan dan Rektor, kemampuan bekerjasama dengan Dekan dan Direktur, ini juga nilai dan modal, kesetiaannya (karena jumlahnya 24, sedangkan relasi masih bertingkat ini saya belum bisa menjamin). Kita lihat dan tolong para Wadek buktikan ini. Bahkan ada yang belum pernah saya jumpai.
  • Jujur, amanah, itu juga reputasi, ini harapan saya. Tidak semua data saya punyai itu valid. Kadang informasi dari A begini, B begitu. Karena jumlah Wadek-wadek itu 24 maka tidak semua sempat saya validasi. Kalau saya kaku tidak percaya pada para dekan, lah kan tidak pernah selesei pemilihannya. Saya putuskan secepat mungkin, karena sudah ada RKKAL 2021 yang harus disusun. Inilah formasi terbaik itu.
  • Stabilitas politik, ingat ada prinsip tawasut, tawazun, dan ta’adul: moderasi, equilibrium, dan justisia. 2 2 di rektorat 6 6 rektorat dan dekanat 2 2 di dekanat: 2 2 6 6 2 2, total wadek ada 24: saya bagi persis 12 12. Direktur dan Asisten Direktur 2, saya bagi 1 1. Persis.
  • Pola komunikasi, saya belajar banyak bagaimana komunikasi antar individu, organisasi, kelompok. Berusaha efektif, tapi tidak menyinggung. Tentu saya tidak bisa komunikasi ke semua orang, waktu saya habis. Saya melalui beberapa kurir/rasul/messenger/herald. Kadang efektif kadang tidak. Ada kasus sulit menerima tertentu, saya harus memutar cara agar diterima. Pemilihan wadek tidak hanya soal siapa yang minat, tetapi juga siapa yang menolak. Komunikasi tidak hanya soal ambisi, tetapi soal motif dan model penolakan. Maka ini merupakan puzzle atau teka-teki yang harus saya pecahkan dengan cara efektif dan dengan solusi win-win. Tentu tidak puas ada. Saya melihat ada pola komunikasi seperti web, rumit, kompleks dan semua haurs dijalani dengan berbagai kemungkinan dan hasil. Banyak hasil yang tak terduga. Banyak resiko yang tak terduga juga. Jadi komunikasi ini sangat rumit, tidak sekedar antar Rektor, Warek, Dekan dan Wadek, ada faktor-faktor diluar yang harus masuk perhitungan. Dan beban-beban, resiko-resiko itu kita bagi bersama Rektor, Warek, Fakultas dan Pascasarjana. Tidak ada yang steril dari resiko. Tidak ada yang hanya orangnya sendiri. Tidak ada yang sebelah semua.
  • Menang bukan berarti memiliki semua, tetapi harus berbagi. The winner takes all tidak berlaku. Kalah bukan berarti kehilangan segalanya, tetap ada ruang. The winner should share, the looser should not lost hope. Semua ada tempat dan bisa dibicarakan. Bisa dikomunikasikan, tetapi caranya harus kreatif.

Saya tidak minta apapun dan tidak ada yang memberi saya apapun selama proses pemilihan, Warek, Dekan, Wadek, Direktur, Wadir. Semua saya pillih gratis. Musyawarah, konsultasi, komunikasi. Dan saya tidak minta apapun setelah upacara ini. Dan sampai saat ini tidak ada yang memberi saya apapun untuk mempengaruhi pendapat saya. Saya harap begitu. Semua dari hati Nurani. Saya minta kebaikan Anda, kejernihan hati, loyalitas, kejujuraan, ketulusan, kemurahan hati mendukung kepemimpinan saya. Suara saya, suara Anda. Anda dukung saya selama 4 tahun. Jangan memperlihatkan retak tim kita. Tim harus solid. Jika Anda tidak setuju, temui saya. Mas Rektor. Pak Rektor. Mas saja. Pak saja. Gus. Cak. Kang. Den baguse dan lain-lain. Atau itu ini. Silakan panggil yang nyaman bagi Anda. Anda tahu cara menyampaikan bil hikmah wa mauidah hasanah (dengan bijak dan baik). Anda tahu itu. Jangan menyakiti, jangan tersakiti. Jangan menyinggung dan jangan tersinggung.

Cerita tentang jabatan tidak hanya tentang rebutan, kompetisi. Tetapi lebih pada pola komunikasi. Tidak semua orang menginginkan jabatan di kampus ternyata, saya tahu persis setelah saya menjabat Rektor. Saya tawarkan ke beberapa orang supaya mengikuti peluang ini, sebagai Warek, Dekan, Direktur, Wadek, atau Wadir. Ini catatan saya orang-orang zuhud dan sufi yang menolak Jabatan: Dakwah 1; Ushuluddin 2; Adab 2; Syariah 1; Saintek1. Saya hormati ketulusan para zuhud ini.

Alasan tidak mau mendaftar karena keluarga, ingin fokus soal lain, bosan karena sudah berkali-kali, karena solidaritas atau izin kelompok. Saya hormati itu semua. Saya tidak memaksa, ini perlu keikhlasan. Saya hormati sikap zuhud mereka, pilihan mereka selama 4 tahun.

Ya tentu ada juga yang terang-terangan mengajukan diri pada jabatan, bagi saya ini juga mulia, gentle, berani dan jujur. Jadi saya menyukai keterusterangan di depan, bukan diam-diam di belakang. Kadang ada yang berminat tapi sedikit memutar, ya unik juga sih.Kita nikmati cara muter-muter itu. Saya berusaha Anda mendapatkan yang diinginkannya: tidak jabat, jabat, semi jabat, semi tidak, super duper semi jabat. Silakan.

Ada juga yang bolak-balik dengan suara berbeda, kadang mau jabat, balik lagi tidak mau, balik lagi beda lagi, mengatakan ke orang-orang sekitar tidak, lalu mengatakan ke orang lain lagi mau. Ini membingungkan. Tapi itulah hidup. Tidak semuanya mulus dan lurus.

Saya minta maaf, saya mempunyai keterbatasan waktu dan pemahaman. Tidak semua saya ajak komunikasi. Kadang melalui perantara, seperti zaman kuno dulu. Pakai kurir berkuda menyampaikan pesan para raja. Kita kan sudah naik kuda to. Suara dan pesan sering tidak jelas, menimbulkan selahfahaman atau silang sengkarut. Yang mbulet, saya ajak komunikasi, cari benang kusut. Karena saya merasa dekat, saya ungkapkan agak-agak keras lah. Saya tunjukkan prinsip saya. Saya tunjukkan bahwa idealisme harus dipertahankan. Jangan goyah. Jangan goyang kanan dan kiri: prinsip 2 2-6 6-2 2- serta 12 12 dan 1 1 saya terapkan secara disiplin. Semoga dimengerti.

Mungkin ada yang protes itu pembagian tidak persis 12 12 dari 24 wakil Dekan karena itu, golongannya diragukan. Itu tidak masuk ini. Karena ingat dalam persaingan politik ada istilah eks-komunikasi, mengeluarkan anggota kompetitor. Keanggotaan kelompok didelegitimasi oleh sesama anggota karena banyak faktor. Maka kalau kita dengar ada istilah secara kultural, sturktural, semi kultural. Semua jenis saya akomodasi dalam tim UIN Sunan Kalijaga. Bahkan dalam sesama struktural juga masih dibagi lagi versi sana dan sini. Jadi kategoritasi itu jauh lebih cair dan dinamis.

Ingat juga drama pengorbanan dalam penaklukan kota Troy oleh Yunani, Raja Agememnon mengorbankan putrinya sendiri, Iphigenie, untuk menenangkan gelombang laut dan membujuk para dewa agar bisa menyeberang dari Aulis ke Troy. Korban itu juga untuk menunjukkan kepada para pasukkannya agar semangat perang muncul. Putrinya sendiri dikorbankan. Pasukan terkenalnya adalah Achilles, pelari cepat, jendral hebat. Troy ditaklukkan. Nah, kita juga harus berkorban. Di setiap fakultas dan unit ada political baggage, posisi tertentu yang bersifat pengamanan, walaupun ukuran tetap akademis. Para Dekan dan Direktur harus menerima political baggage sebagai pengorbanan atas posisi yang diterima dari Rektor. Sebagai Rektor saya banyak berkorban orang-orang dekat saya, maafkan saya. Saya ingin menaikkan semangat pasukan. Para Dekan dan Direktur juga mengorbankan orang-orang kepercayaannya sebagaimana Agememnon mengorbankan putrinya di pantai Aulis.

Semua kreteria, baik organisasi maupun golongan, harus kembali pada akademik. Semuanya. Jadi ada lah kompromi sedikit-sedikit, tetapi akademik harus nomer satu. Karena itulah kita hidup didunia ini sebagai civitias akademika UIN Sunan Kalijaga.

Yang lebih penting mari sukseskan target-target dan goal-goal.

Anda harus loyal pada Rektor, UIN, dan bangsa. Tidak ada loyalitas yang lain di kantor dan urusan kantor. Anda harus mendukung saya, menjaga saya. Saya pun menjaga karir Anda, dan juga tulus pada sampean-sampean semua. Tolong kita saling berbagi dan mendukung ya.

Para dekan dan wadek suskeskan program saya yang enam kemarin ya:

  1. UIN Sunan Kalijaga untuk bangsa, meliputi sumbangan UIN untuk bangsa Indonesia.
  2. UIN Sunan Kalijaga mendunia, yaitu program-program internasionalisasi dan linkage.
  3. Peningkatan IT dan big data, yaitu secara besar-besaran kita migrasi dari era manual ke arah lebih digital, sudah dimulai dengan BKD online, dan kita satukan data-data kepegawian, perpustakaan, LP2M, dan data-data mahsiswa, dosen, pegawai dan lainnya.
  4. Pengembangan sains dan teknologi bernilai agamis
  5. Inklusif, akomodatif, pro keberagaman
  6. Menyederhanakan birokrasi cepat, efesien, akuntable

Yang sangat mendesak adalah:

  1. RKKAL 2021 harus segera selesai, ditunggu perencanaan, anggap saja ini rapat pertama Anda, terutama wadek 2 harus segera menyelesaikan RKKAL 2021.
  2. Pembuatan video seluruh jurusan untuk matakuliah. Karena kuliah fisik tidak tahu kapan, maka mari giatkan pembuatan video segala cara. Ada yang formal, melalui kamera bagus dan standard. Jangan halangi juga yang tidak formal seperti menggunakan handphone. Upload di Youtube atau media sosial, agar mahasiswa kita terbantu belajarnya. Pikirkan membuat studio untuk shooting. Standardkan itu. Misalnya tiap dosen shooting 10 menit untuk setiap kuliah sudah bagus itu. Upload. Ada yang terbuka umum, ada yang dikunci hanya untuk mahasiswanya.
  3. Menghidupi jurnal-jurnal di fakultas, identifikasi dosen muda, SK-kan dengan tandatangan Rektor, tugaskan semua dosen muda menjadi pengurus jurnal. Alihkan energi mereka ke jurnal jangan bermain-main tidak jelas, apalagi politik sana dan sini.

Selamat bekerja, selamat beradaptasi dan bekerjasama!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Di susun oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga YogyakartaProf. Dr.phil. Al Makin, S.Ag., M.A.

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler