Meluruskan Kesalahan Penulisan Tokoh Bersejarah IAIN

Dr. H.Syihabuddin Qalyubi, Lc M. Ag

Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel ini telah dimuat Dimedia online Republika, Tgl5 Mei 2021

Pada era 2010-an dunia pertelevisian dihebohkan dengan serial sinetron Putri Tertukar, karya Sinemart Productions, yang dibintangi Amira (Nikita Willy) dan Zahira (Yasmine Wildblood) memiliki kehidupan yang berbeda. Amira hidup sederhana bersama kedua orang tuanya, Ihsan (Sultan Djorghi) dan Utari (Marini Zumarnis). Sedangkan Zahira hidup mewah bersama kedua orang tuanya, Prabu (Atalarik Syach) dan Aini (Vonny Cornelia). Serial sinetron ini pada tahun 2011 mendapat penghargaan kategori Acara Sinetron dan Acara Televisi.

Tampaknya kesalahan tokoh dalam sinetron berbeda dengan kesalahan tokoh sejarah, mungkin akibatnya alih-alih mendapatkan penghargaan malah bisa menimbulkan kesalahan sejarah. Dalam jurnalAl-Ma’arif lil Buhuts wa al-Dirasat al-Tarikhiyyahdisebutkan bahwa menurut Ibn Khaldun kesalahan penulisan sejarah antara lain disebabkan kesalahan yang disengaja dan kesalahan yang tidak disengaja.

Kesalahan sejarah yang disengaja adalah seluruh informasi dusta yang dibuat, dikarang, dan disebarkan para penelikung sejarah digunakan untuk mempromosikan kelompok atau misinya, atau demi kemanfaatan yang akan diperoleh.

Informasi buatannya itu diupayakan para penipu untuk mengecoh masyarakat demi untuk mencapai tujuan tertentu. Kesalahan sejarah yang tidak sengaja adalah realita yang ada berbeda dengan informasi yang ditulis para penulis sejarah, yang mungkin saja ditulis atas dasar niat yang tulus, namun mereka tanpa memahami dan memverifikasi apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat.

Kesalahan macam pertama merupakan kesalahan yang sangat biadab karena bisa merusak alur sejarah dan peradaban. Sedangkan kesalahan macam kedua sekalipun tidak disengaja, tetapi akibat keteledorannya akan mengaburkan sejarah. Para mahasiswa atau pun para peneliti perlu kecermatan dalam menggunakan referensi sebagai rujukan penulisan ilmiah. Tidak bisa hanya mengandalkan informasi atau data yang tertera dalam internet.

Tahun lalu Ahmad Zaenudin menulis sebuah artikel berjudul "Sejarah Wikipedia dan Bisakah Artikel-Artikelnya Dipercaya", dia menukil pendapat Jimmy Wales pendiriWikipediabahwa Wikipedia lebih terkenal dibandingkanThe New York Times.Wikipediaberada di posisi ke-14 situs web paling populer di dunia. Di sisi lainNew York Times, media asal Amerika Serikat berada di posisi ke-96. Sayangnya, meskipun populer, kredibilitas artikel-artikel yang dimuat Wikipedia diragukan.

Massachusetts Institute of Technology (MIT), dalam aturan soal kutipan karya ilmiah bagi mahasiswanya, tegas menyebut bahwa “Wikipedia bukanlah sumber yang dapat dipercaya. Sebaiknya Wikipedia tidak dijadikan rujukan karya ilmiah. (Termasuk di dalamnya data atau informasi tentang sejarah). Ahmad Zaenuddin memberikan contoh tentang cukup banyak temuan konten di Wikipedia yang keliru menghadirkan informasi, di antaranya unggahan yang menyatakan bahwa senator Robert Kennedy mungkin dibunuh asistennya sendiri.

Lalu, ketika Font Calibri menjadi barang bukti dalam kasus korupsi di Pakistan pada 2017, informasi tentang Font ini di Wikipedia diubah 35 kali oleh entah warganet mana di jagat maya ini. Sebetulnya saya sendiri sudah lama menemukan kejanggalan penulisan sejarah dalam Wikipedia, terutama dalam penulisan nama dan pencantuman foto rektor ke-3 IAIN Sunan Kalijaga.

DalamWikipediadituliskan dua orang yang berbeda sebagai Rektor ke-3 IAIN Sunan Kalijaga yaitu: Prof Mr R H A Soenarjo (lihat entri R Sunarjo), dan Prof Mr Sunario Sastrowardoyo (lihat entri Sunario Sastrowardoyo). Dalam Wikipedia disebutkan bahwa Prof Mr R H A Soenarjo dilahirkan pada 15 Mei 1908 di Sragen. Ayahnya adalah seorang penghulu pada zaman kolonial Belanda, Raden Iman Nasiruddin Imamdipuro.

Pekerjaan pertama yang dia tempuh yaitu sebagai pegawai kantor Pusat Statistik di Jakarta dari 1937-1941. Kemudian, dia menjadi panitera di Mahkamah Islam Tinggi dari 1941-1946. KH Wahid Hasjim, sebagai Menteri Negara Urusan Agama, menunjuk Mr Narjo sebagai Sekretaris Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri yang kedudukannya sebagai pejabat tinggi Departemen Agama. Beliau ditugaskan untuk menyusun peraturan tentang PTAIN. Selama menjadi Sekteratris PTAIN, dia menjadi dosen pada mata kuliah asas-asas hukum tata negara dan asas-asas hukum perdata.

Mr Narjo bergabung ke Partai Nahdatul Ulama. Ali Sastroamidjojo menunjuk dia sebagai Menteri Dalam Negeri menggantikan Hazarin dimana dia mulai menjabat pada 19 November 1954. Setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, dia kembali ke Departemen Agama dan ditugaskan untuk memperbaiki PTAIN dan ditunjuk sebagai ketua. Kemudian, dia mengusulkan untuk menggabungkan PTAIN Yogayakrta dan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) Jakarta menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Usulan dia diterima presiden dan pada 24 Agustus 1960, IAIN resmi didirikan di Yogyakarta dengan nama Al Jamiah Al Islamiyah Al Hukumiyah di Yogyakarta. Pada awal masa kepemimpinan beliau, IAIN hanya terdapat di Yogyakarta dan Jakarta dan dengan Peraturan Presiden No 27 tahun 1963, jumlah IAIN semakin meningkat dan pada 1970 terdapat 14 IAIN. Mr Narjo juga menjabat sebagai ketua IAIN Yogyakarta sampai Juni 1972.

Di samping itu, dalamWikipediadisebutkan lagi tokoh bernama Prof Mr Sunario Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 28 Agustus 1902, meninggal di Jakarta, 18 Mei 1997 pada umur 94 tahun), dia adalah salah satu tokoh Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah menjabat sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Sunario yang beragama Islam dan berasal dari Jawa Timur ini menikah dengan gadis Minahasa beragama Protestan yang ditemuinya saat berlangsung Kongres Pemuda 1928. Dia disebutkan sebagai salah satu tokoh yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Konggres Pemuda II.

Politisi Partai Nasionalis Indonesia (PNI) ini disebutkan juga sebagai kakek artis Dian Sastrowardoyo. Sunario wafat pada 1997 di di RS Medistra, Jakarta. Dia pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Inggris periode 1956-1961. Setelah itu diangkat sebagai guru besar politik dan hukum internasional, lalu menjadi rektor Universitas Diponegoro, Semarang (1963-1966) dan menjadi rektor IAIN Al-Jami'ah Al-Islamiyah Al-Hukumiyah (1960-1972) yang merupakan cikal bakal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tampak sekali dalam Wikipedia disebutkan dua tokoh sejarah yang berbeda untuk jabatan rektor IAIN Yogyakarta dalam kurun waktu yang sama.

Berkaitan dengan penulisan sejarah, Kemdikbud menerbitkan Permendikbud 72 tahun 2016 tentang Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah dengan tujuan untuk memberikan acuan dalam penulisan tokoh sejarah. Pedoman Penulisan Tokoh Sejarah berkaitan erat dengan arah pembangunan nasional Indonesia dan upaya mendukung gerakan revolusi mental.

Dalam Bab III Meode Penelitian Tokoh Sejarah disebutkan langkah verifikasi atau kritik sumber, antara lain dengan kritik internal yaitu dengan cara penilaian intrinsik terhadap sumber-sumber; dan membanding-bandingkan kesaksian dari berbagai sumber. Untuk menverifikasi data sejarah yang berbeda ini saya merujuk tiga sumber yaitu Prof R.H A Soenarjo tulisan Machasin dalam bukuLima Tokoh Pengembangan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,diterbitkan Pusat Penelitian IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1998, Profil Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1951-2004 , SUKA Press, 2004, dan Prof Soenarjo.

Dari ketiga referensi itu didapati informasi bahwa yang pernah menjadi rektor IAIN Sunan Kalijaga itu adalah Prof Mr RH A Soenarjo bukan Prof Mr Sunario Sastrowardoyo. Prof Mr.R.H.A Soenarjo, seorang tokoh NU ini, lahir di Sragen 15 Mei 1908, dia belajar agaama kepada ayahnya sendiri dan pernah mengaji di Pesantren Manba’ul Ulum, Jamsaren, untuk beberapa waktu, kemudian dia mengaji kepada KRTP Tafsiranom di Pengulon Solo.. Pak Narjo meninggal pada 14 Februari tahun 1996 di Yogyakarta dan dikebumikan di Sragen Jawa Tengah.

Penulis sendiri masuk IAIN pada 1972, sehingga bisa melihat langsung rektor IAIN ketika itu. Namun untuk memperkuat data penelusuran ini penulis mewawancarai Siti Asfiyah Ismi (bu Wiwik) asal Sragen, mahasiswi Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga angkatan 1970 dan Syekh Mustofa Mas’ud (Cak Ud) Ketua Dema IAIN Sunan Kalijaga periode 1969-1973. Dari wawancara dengan kedua informan itu dapat disimpulkan bahwa yang pernah jadi Rektor IAIN Sunan Kalijaga adalah Prof Mr R H.A Soenarjo.

Baca Juga :Takjilan Ala Mesir

Sejatinya kemungkinan terjadi kesalahan seperti itu Wikipedia sudah mengantisipasinya, yaitu pada bagian akhir ada bab Penyangkalan Umum. Di situ disebutkan, bahwa Wikipedia tidak dapat menjamin keabsahan informasi yang ditemukan. Isi artikel mana pun mungkin baru saja diubah, dirusak, atau diganti seseorang yang opininya tidak sesuai dengan pengetahuan di bidang yang terkait. Selanjutnya disebutkan bahwa sebelum menggunakan konten sejenis ini, mohon pastikan bahwa Anda (pembaca) memiliki hak untuk menggunakannya di bawah hukum perundang-undangan yang berlaku di tempat Anda untuk kepentingan yang Anda maksudkan.

Anda (pembaca) adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab bahwa Anda (pembaca) tidak melanggar hak personalitas orang lain. Di bagian akhir Penyangkalan, Wikipedia menyebutkan bahwa seperti sumber informasi yang ditulis masyarakat umum lainnya, selalu ada potensi kekeliruan di dalam artikel Wikipedia, bandingkan informasi yang Anda (pembaca) dapat dengan sumber-sumber lain.

Oleh karena itu marilah kita luruskan kesalahan penulisan sejarah ini, antara lain dengan menggunakan informasi dari ensilopedia on line seperti Wikipedia ini sebagai informasi awal yang masih dibutuhkan konfirmasi dan verifikasi informasi dari sumber-sumber lainnya.

Baca Juga :Orasi Ilmiah Mensyukuri Kelahiran UIN Sunan Kalijaga Ke-69, Rektor Ingatkan Pesan Ir. Soekarno dan Tradisi Popular Sunan Kaljaga

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler