Kepergian Prof. Hamim Ilyas meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sosok ulama, akademisi, sekaligus pemikir Islam progresif itu wafat pada Sabtu, 23 Mei 2026 di usia 65 tahun, setelah menjalani perawatan akibat sakit yang dideritanya dalam beberapa waktu terakhir. Di mata kolega, murid, dan para sahabatnya, Prof. Hamim bukan sekadar dosen, melainkan mata air ilmu yang tak pernah kering.
Pada hari itu, langkah kaki para pelayat memenuhi halaman rumah duka Wajah-wajah sendu tampak para tokoh-tokoh menyatu dalam suasana kehilangan yang begitu dalam. Sabtu, 23 Mei 2026, menjadi hari yang sulit dilupakan oleh sivitas akademika kampus itu. Salah satu putra terbaiknya, Hamim Ilyas, berpulang menghadap Sang Khalik.
Bagi banyak orang, Prof. Hamim adalah ilmuwan. Namun bagi murid-murid dan rekan sejawatnya, beliau adalah guru kehidupan.
Di ruang-ruang kelas, ia dikenal tenang. Tutur katanya lembut, tetapi pemikirannya tajam dan mendalam. Cara pandangnya luas, lahir dari perjalanan panjang sejak masa kecilnya di lingkungan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, sebelum kemudian melanjutkan studi di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga, jurusan Tafsir Hadis.
Pengabdiannya tidak berhenti di ruang akademik. Di organisasi Masyarakat Muhammadiyah, beliau dikenal sebagai intelektual yang mendedikasikan hidupnya bagi pencerahan umat. Amanah besar yang diembannya sekarang sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, melanjutkan estafet kepemimpinan dari Prof. Syamsul Anwar, yang juga merupakan akademikisi UIN Sunan Kalijaga.
Namun di balik capaian besar itu, Prof. Hamim tetaplah sosok sederhana. “Beliau itu humoris, ramah, murah senyum. Joke-joke beliau sering kami sebut sebagai ‘ilmu dalam’,” kenang A Hashfi Luthfi, M.H., Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.
Sejak diangkat menjadi CPNS pada 2009, Hashfi mengaku banyak belajar langsung dari Prof. Hamim. Salah satu kenangan yang paling membekas adalah tradisi “Diskusi Rabu”, forum rutin yang berlangsung setiap pekan pada 2016–2020.
Di forum itulah, menurut Hashfi, pemikiran Prof. Hamim sering membuat siapa pun terpukau. “Kadang kami takjub dengan orisinalitas pandangan beliau. Cara beliau melihat persoalan sering melampaui apa yang biasa kami pikirkan,” ujarnya.
Bagi Hashfi, Prof. Hamim bukan sekadar senior akademik. Ia adalah guru yang mengajarkan ketawadhuan melalui tindakan nyata. Meski murid-muridnya telah banyak menjadi profesor, Prof. Hamim justru enggan mengurus jabatan guru besar. “Beliau pernah bilang, guru besar itu seperti begawan. Beliau merasa belum pantas,” tutur Hashfi.
Baru pada masa kepemimpinan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Ali Sodiqin, Prof. Hamim akhirnya bersedia mengurus proses guru besar setelah dibujuk secara perlahan. Takdir berkata lain. Surat keputusan guru besar itu turun hanya beberapa hari sebelum masa purna tugasnya tiba. Kerendahan hati itu terus melekat hingga akhir hayatnya
Kesedihan serupa juga dirasakan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga, Prof. Sodik. Saat memberi sambutan upacara pelepasan jenazah, Ia menyebut Prof. Hamim bukan hanya meninggalkan ilmu, tetapi juga jejak batin yang hidup dalam karya-karyanya seperti buku almarhum "Fiqih Akbar", ketika membaca tulisan-tulisan beliau, rasanya seperti mendengar nasihat yang masuk ke ruang batin kita,” ucapnya.
Menurutnya, Prof. Hamim adalah begawan ilmu, teladan kesederhanaan tingkat tinggi. Sosok yang tidak pernah meninggikan diri, meski keilmuannya diakui banyak kalangan.
Ucapan duka juga datang dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Ia menyebut wafatnya Prof. Hamim Ilyas kehilangan tokoh besar, bukan hanya bagi keluarga dan kampus, tetapi juga bagi Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia. “Beliau sosok sederhana, pendiam, tetapi sangat mendalam keilmuannya,” kenangnya.
Menurutnya, Prof. Hamim merupakan salah satu pemikir keislaman yang berhasil membawa gagasan keagamaan lebih membumi dan mencerahkan. Salah satu kontribusi penting terakhirnya adalah keterlibatan dalam peluncuran Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah.
Di mata Prof Haedar, Prof. Hamim Ilyas telah meninggalkan “jejak emas” yang akan terus hidup melalui ilmu dan murid-muridnya.
Kepergian itu bahkan menggema hingga Tanah Suci. Calon jamaah haji Indonesia di Makkah melaksanakan salat gaib untuk almarhum di masjid hotel tempat mereka menginap. Dari kota suci itu, doa-doa dipanjatkan agar Prof. Hamim mendapat husnul khatimah dan ditempatkan di surga terbaik Allah SWT.
Kini, sang guru telah pergi. Namun senyumnya, petuahnya, dan keluasan ilmunya masih tinggal di benak banyak orang.
Di ruang-ruang kelas, di forum-forum diskusi, dan dalam buku-buku yang diwariskannya, nama Prof. Hamim Ilyas akan terus hidup—menjadi cahaya bagi generasi yang datang setelahnya.(humassk)