IMG-20260224-WA0103.jpg

Minggu, 22 Februari 2026 09:05:00 WIB

0

Melalui Tanwir Ramadan, Dosen KPI UIN Sunan Kalijaga Paparkan Strategi Dakwah di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, batas antara kebenaran dan kepalsuan kian kabur. Setiap hari, linimasa dipenuhi konten yang tampak meyakinkan, sebagian membawa pesan kebaikan, sebagian lain menyebarkan prasangka, kebencian, bahkan disinformasi. Padahal, sebagaimana makanan yang dikonsumsi setiap hari akan menjadi darah dan membentuk tubuh, konten yang terus-menerus kita lihat perlahan membentuk cara berpikir, sikap, dan tindakan. 

Dalam situasi seperti ini, dakwah tidak bisa lagi bertumpu pada cara-cara konvensional semata. Jika dahulu pesan keagamaan banyak disampaikan melalui mimbar dan majelis taklim, kini ia dituntut menyesuaikan diri dengan ekosistem digital, masuk ke ruang-ruang media sosial, memahami ritmenya, serta merespons tantangan zaman dengan strategi yang tepat..

Kegelisahan inilah yang diangkat Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Taufik Rahman, M.Sos., dalam Tanwir (Tausiyah, Nasihat, dan Wawasan Ilmu Ramadan) bertajuk “Strategi Komunikasi Dakwah di Era Digital: Menghadapi Tantangan Disinformasi dan Membangun Kepercayaan”, Sabtu (21/2/2026), di Masjid kampus setempat. 

Mengawali paparannya, Taufik mengutip prinsip Al-Qur’an tentang karakter umat terbaik, yakni mengajak kepada kebajikan, mencegah kemungkaran, dan berlandaskan iman kepada Allah. “Mengajak kepada kebajikan membutuhkan ilmu. Jika kita tidak memahami apa yang kita sampaikan, orang tidak akan yakin. Begitu pula mencegah kemungkaran harus diwujudkan dalam keteladanan, bukan sekadar ujaran,” ujarnya.

Taufik juga menjelaskan, dalam setiap aktivitas, termasuk dakwah, manusia umumnya berfokus pada tiga hal mendasar, yakni apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, dan kapan waktu yang tepat untuk mengeksekusinya. Pertanyaan tentang “apa” melahirkan arah dan perencanaan. Aspek “bagaimana” menuntut strategi, metode, dan pendekatan yang tepat agar pesan dakwah tidak berhenti sebagai wacana. Sementara “kapan” merujuk pada ketepatan momentum. Tanpa sensitivitas terhadap waktu dan situasi, gagasan yang baik sekalipun berisiko kehilangan relevansinya.

Dalam konteks penyebaran konten, ia menekankan dua langkah strategis, yakni menutup peluang keburukan yang biasa dapat dilakukan oleh pejabat yang berwenang, serta memproduksi konten baik dalam jumlah lebih banyak. “Konten buruk mungkin kita lewati sekali. Namun ia bisa diproduksi berulang-ulang, bahkan hingga ratusan kali. Apakah kita mampu men-skip sebanyak itu setiap saat? Sayangnya tidak selalu demikian,” ujarnya.

Konten yang terus muncul dan dikonsumsi tidak pernah benar-benar hilang. Ia menetap dalam pikiran, membentuk cara pandang, lalu perlahan memengaruhi sikap dan tindakan. Karena itu, menurutnya, apa yang terlihat di ruang digital tidak bisa dianggap sepele, sebab paparan yang berulang memiliki daya pengaruh yang kuat dalam jangka panjang.

Karena itu, mahasiswa sebagai generasi digital native dituntut semakin sadar dalam memilah informasi sekaligus aktif memproduksi konten positif yang kreatif, relevan dengan perkembangan zaman, dan tetap berakar pada nilai-nilai dakwah. Dalam merumuskan konten dakwah yang efektif, Taufik menawarkan beberapa strategi. Pertama, touching, yakni menghadirkan pesan yang menyentuh sisi rasa manusia, Kedua, moving, yaitu konten yang tidak berhenti pada kesan, tetapi mampu menggerakkan audiens untuk melakukan tindakan nyata. Ketiga, sleeping, yakni konten yang layak dikonsumsi sebelum tidur, banyak orang mengakses gawai menjelang istirahat malam, dan berpotensi masuk ke alam bawah sadar serta memengaruhi suasana batin dan cara berpikir.

Selain memproduksi konten, ia juga menekankan pentingnya literasi digital saat menerima informasi. Setiap pesan, menurutnya, perlu diuji apakah mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan meningkatkan iman. Setelah itu, periksa integritas pengirim serta verifikasi kebenaran isinya. “Jika sudah jelas dan valid, barulah disebarkan. Jangan ikut menyebarkan sesuatu yang belum pasti,” katanya.

Di tengah ledakan informasi digital, pesan itu terasa semakin relevan. Bagi Taufik, dakwah di era media sosial menuntut konsistensi dalam menghadirkan nilai. Jika konten positif diproduksi secara berkelanjutan dan mampu menjangkau ruang-ruang digital yang strategis, maka ia tidak hanya menjadi penyeimbang arus konten negatif, tetapi juga perlahan membentuk ekosistem informasi yang lebih sehat. Dengan cara itulah, dakwah di ruang digital dapat benar-benar terwujud dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.(humassk)