WhatsApp Image 2026-06-09 at 16.24.05.jpeg

Selasa, 09 Juni 2026 16:24:00 WIB

0

Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga Bahas Peran Strategis Matematika dalam Ekonomi Syariah Berkelanjutan

Matematika tidak lagi dipandang sekadar ilmu angka dan rumus, tetapi menjadi fondasi penting dalam menjawab berbagai persoalan strategis masyarakat, termasuk pengembangan ekonomi syariah yang berkelanjutan. Perspektif tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertema “Kontribusi Matematika dalam Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Syariah Berkelanjutan” yang digelar bersamaan dengan peluncuran Program Studi Magister Matematika Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (9/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teatrikal Lantai 1 FST UIN Sunan Kalijaga ini diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan praktisi. Seminar menjadi bagian dari rangkaian peluncuran Program Studi Magister Matematika yang resmi dibuka sebagai upaya memperkuat pengembangan keilmuan matematika sekaligus menjawab kebutuhan sumber daya manusia di berbagai sektor strategis.

Seminar menghadirkan dua narasumber yang memiliki kepakaran di bidang ekonomi syariah dan matematika terapan. Narasumber pertama, Dr. Priyonggo Suseno, Ph.D., Dosen Universitas Islam Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY, memaparkan materi berjudul “Kontribusi Matematika dalam Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Syariah Berkelanjutan.”

Dalam paparannya, Priyonggo menjelaskan bahwa perkembangan ekonomi syariah telah memasuki fase yang semakin kompleks dan membutuhkan dukungan pendekatan ilmiah yang kuat. Menurutnya, matematika memiliki peran penting dalam menerjemahkan prinsip-prinsip syariah ke dalam model ekonomi yang dapat diuji secara empiris dan diaplikasikan dalam berbagai kebijakan.

Ia menguraikan empat fase perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, mulai dari penerjemahan prinsip-prinsip Al-Qur'an dan Hadis ke dalam etika ekonomi pada era 1970-an, pemurnian sistem keuangan dari unsur-unsur haram pada 1990-an, restrukturisasi produk keuangan syariah agar tidak sekadar meniru sistem konvensional, hingga fase beyond banking yang berfokus pada inovasi dan rekayasa keuangan tingkat lanjut pasca 2010.

“Matematika menjadi instrumen penting untuk memodelkan perilaku konsumen dalam batasan moral, mengukur dampak kebijakan ekonomi syariah, hingga menjelaskan konsep keberkahan atau barakah dalam aktivitas ekonomi secara lebih terukur,” jelasnya.

Priyonggo juga menyoroti keselarasan antara maqasid syariah, perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Menurutnya, ekonomi syariah tidak hanya berbicara tentang halal dan haram, tetapi juga tentang keadilan, kesejahteraan sosial, dan keberlanjutan.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Danang Teguh Qoyyimi, Dosen Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua Bidang Kajian Statistika IndoMS Wilayah DIY dan Jawa Tengah, menyampaikan materi berjudul “Keuangan Haji Kita: Ibadah, Matematika, Keberlanjutan, dan Ekosistem Keuangan Syariah.”

Danang menjelaskan bagaimana matematika, statistika, dan ilmu aktuaria berperan penting dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan dana haji Indonesia yang menghadapi tantangan kompleks akibat panjangnya masa tunggu keberangkatan jamaah yang saat ini telah mencapai lebih dari 27 tahun di sejumlah daerah.

Menurutnya, pengelolaan dana haji tidak hanya berkaitan dengan investasi, tetapi juga menyangkut proyeksi demografis, tingkat kematian, inflasi, perubahan nilai tukar, serta berbagai risiko yang harus diperhitungkan secara cermat melalui pendekatan kuantitatif.

“Keberlanjutan dana haji memerlukan pemodelan yang kuat. Di sinilah matematika dan aktuaria berperan untuk memproyeksikan kewajiban di masa depan, mengelola risiko, dan memastikan dana tetap cukup untuk melayani jamaah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga memperkenalkan berbagai pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan keuangan syariah modern, mulai dari pemodelan stokastik, optimasi portofolio, analisis skenario, hingga teknik peramalan yang digunakan untuk mengevaluasi dampak kebijakan dan kecukupan dana.

Lebih lanjut, Danang menekankan pentingnya penguasaan keterampilan pemecahan masalah, analisis data, pemrograman komputasi, dan kemampuan berpikir matematis bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam pengembangan industri halal dan keuangan syariah.

Diskusi yang dipandu oleh Dr. Mohammad Farhan Qudratullah, dosen Program Studi Matematika UIN Sunan Kalijaga, berlangsung interaktif. Peserta mengajukan beragam pertanyaan mengenai efektivitas program bantuan pemerintah dalam perspektif ekonomi syariah, inklusivitas ekonomi Islam bagi non-Muslim, pengelolaan dana haji, hingga peluang pemanfaatan matematika dalam pengembangan industri halal dan teknologi berbasis etika.

Seminar juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara matematikawan, ekonom syariah, regulator, dan praktisi industri untuk mengembangkan model-model inovatif yang mampu memperkuat ekosistem keuangan syariah nasional.

Melalui peluncuran Program Studi Magister Matematika dan penyelenggaraan seminar nasional ini, UIN Sunan Kalijaga menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan matematika yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dalam menjawab tantangan pembangunan, termasuk penguatan ekonomi syariah yang berkeadilan dan berkelanjutan. (humassk)