UIN SUKA

Senin, 19 Januari 2026 14:54:00 WIB

0

Merayakan ISRA MI’RAJ : PERJALANAN CAHAYA dan Dunia PENDIDIKAN INKLUSIF yang Memanusiakan ( Dr. Asep Jahidin Koordinator PLD UIN Sunan Kalijaga )

“Mi’raj” nya dunia pendidikan adalah terjadi ketika minggu lalu di UIN Sunan Kalijaga, seorang mahasiswa difabel tingkat akhir dengan penuh percaya diri bersaksi, menegaskan disabilitasnya di hadapan para penguji Skripsi, ia berkata :

“Ya, saya seorang difabel intelektual dengan Down Syndrome...”

Kalimat itu bukan pembelaan… saya yakin Itu adalah sebuah statemen pernyataan cahaya… dan ia secara individu menjadi cahaya karena ia diizinkan untuk hadir sebagai dirinya sendiri di dunia pendidikan formal

Mahasiswa difabel tersebut mungkin tidak berhasil menyamai standar mahasiswa lain… ya, memang tidak perlu harus seperti itu

Saya merasa yakin Pada momen itulah, dunia pendidikan sedang mengalami Mi’raj-nya : dari kuasa akademik menuju empati keilmuan, dari seleksi kepintaran menuju penerimaan keragaman manusia…

Mahasiswa difabel intelektual dengan Down Syndrome itu, bertahun-tahun ia dianggap “tidak mampu”, “tidak siap”, dan “tidak layak diuji” … sekarang dengan wajah tegak dia menegaskan eksistensinya di hadapan dunia akademik …. Di situlah Cahaya Nabi bekerja , meski tanpa disebutkan nama Nabi, tetapi terasa akhlaknya… itulah peristiwa “Mi’raj” dalam dunia Pendidikan formal

Kita tahu… Risalah Nabi adalah membebaskan manusia dari penindasan, dan salah satu penindasan paling tersembunyi hari ini adalah:

“Kamu boleh ada dunia pendidikan, tapi jangan mengganggu sistem. ”

Inklusi berkata sebaliknya:

“Sistemlah yang harus berubah agar semua manusia bisa tumbuh.”

Saya sering ditanya oleh kawan-kawan tentang inklusi… ya, Inklusi pendidikan tidak dijalankan dengan cara mengejar yang tertinggal, inklusi dijalankan dengan melepaskan hambatan-hambatan

Karena kita semua sudah tahu... sistem pendidikan sering kali gagal menjadi cahaya bukan karena kurang cepat, tetapi karena terlalu berat dibebani oleh standar tunggal … bahkan cara menilai mahasiswa saja sampai diatur oleh sistem hingga menjadi sedemikian rumit…

…Sebut saja satu contoh misalnya sistem OBE, itu dalam perasaan saya nyaris membuat proses pembelajaran menjadi seperti MESIN PEMBUAT NILAI …dan hampir kehilangan proses transfer pengetahuan yang penuh kesadaran (ini kritik saya terhadap sistem penilaian OBE)…Implementasi OBE yang terlalu menekankan keterukuran capaian belajar berisiko mereduksi proses pembelajaran menjadi mekanisme produksi nilai, sehingga mengaburkan dimensi reflektif, relasional, dan kesadaran transformatif dalam transfer pengetahuan...

Lalu apa makna pendidikan inklusif? ...ya singkatnya itu tadi, Pendidikan sering gagal  karena terlalu berat oleh aturan administratif yang bahkan saya rasa terkadang tidak ada kaitannya dengan ilmu yang dipelajari

Terlalu banyak standar tunggal.

Terlalu banyak ukuran normal.

Terlalu sedikit pelepasan…

Apa yang perlu dilepaskan oleh sistem Pendidikan yang inklusif? …Adalah:

Ilusi bahwa semua harus sama.

Keyakinan bahwa nilai hanya lahir dari system tunggal.

Ketakutan pada perbedaan.

Nanti,… dunia pendidikan mulai memancarkan cahaya. Ketika semua beban itu mulai dilepas

Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan ruang dan waktu Nabi Muhammad. Ia adalah perjalanan cahaya, cahaya yang membawa risalah, harapan, dan keberanian untuk manusia yang selama ini disingkirkan.

Dari sinilah gagasan saya tentang Cahaya Nabi lahir: bahwa kenabian adalah kehadiran cahaya yang mengangkat martabat siapa pun, termasuk difabel.

Difabel adalah manusia yang sering diletakkan di ruang gelap oleh sistem, bukan oleh Tuhan. Cahaya Nabi hadir untuk mereka yang terpinggirkan ini, termasuk : budak, perempuan, anak, orang miskin dan dalam konteks tadarus ini tentu saja, difabel.

Maka, difabel adalah subjek cahaya, bukan objek belas kasihan. Dia terang…

Menjadi terang bukan berarti “menjadi normal”... Menjadi terang berarti:

berani hadir dengan identitas diri,

diakui pengetahuannya,

didengar suaranya,

...dan diberi ruang untuk tumbuh.

Dalam pendidikan tinggi , cahaya Nabi hadir ketika:

…dosen tidak hanya menguji, tetapi memahami,

…kurikulum tidak hanya seragam, tetapi fleksibel,

…kampus tidak hanya megah, tetapi juga ramah…

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa Allah tidak takut pada perjalanan yang dibilang “mustahil” oleh manusia.

Pendidikan inklusif pun hemat saya harusnya demikian… semua pasti ada jalan. dan selama masih ada difabel yang harus “menyesuaikan diri” agar diterima, artinya cahaya itu belum sepenuhnya sampai.

Maka tadarus kita minggu ini bukan hanya merayakan Isra Mi’raj, tetapi juga menyalakan cahaya.

…Karena setiap difabel yang diberi ruang untuk tumbuh,

adalah lanjutan perjalanan, Isra Mi’raj cahaya Nabi di bumi.