UIN SUKA

Senin, 20 Juli 2026 09:01:00 WIB

0

KEMARIN DAN ESOK ADALAH HARI INI: Membaca Final Piala Dunia 2026 dalam Cahaya Inklusi : Dr. Aseh Jahidin, Koordinator Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga


 Tadarus Difabel Minggu ke-93

 Kemarin dan esok

adalah hari ini.

Bencana dan keberuntungan

sama saja.

Langit di luar,

langit di badan,

bersatu dalam jiwa.

WS Rendra, 1975

 

Puisi Rendra itu tiba-tiba muncul di ingatan saya saat nyeruput kopi panas pagi ini, sambil menunda ngantuk, setelah menyaksikan final Piala Dunia 2026 dini hari tadi.

Kemarin adalah perjalanan panjang Lionel Messi.

Seorang anak kecil dari Rosario yang dulu diragukan karena tubuhnya yang kecil dan punya hambatan pertumbuhan, tetapi kemudian menjadi salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola.

Satunya lagi, dunia diperkenalkan dengan Lamine Yamal, seorang anak muda dari keluarga bersahaja yang tumbuh di era berbeda, dengan mimpi dan perjalanan yang berbeda. Dan final piala dunia 2026  ini adalah ruang tempat semuanya bertemu.

Kali ini saya menonton final Piala Dunia tanpa berharap siapa juaranya. Meski harus telat nulis tadarus ini hahaaa… Saya tidak sedang mencari siapa yang harus menang. Saya sedang menikmati sejarah kemanusiaan.

Dua puluh tahun yang lalu, seorang bayi bernama Lamine Yamal dimandikan oleh seorang pemain muda bernama Lionel Messi dalam sebuah kegiatan amal. Hari ini, bayi itu telah tumbuh dan menghadapi Messi di final Piala Dunia. Cerita terbesar bukan hanya tentang siapa yang menang.

Cerita termenariknya adalah bagaimana sepak bola mempertemukan dua manusia...

Inklusi bukan membuat semua orang menjadi sama.

Inklusi adalah memberi ruang agar setiap orang dapat tumbuh dengan dirinya sendiri.

Dengan hasil akhir 1-0 yang seperti kode binari itu… Messi tetap menjadi Messi.

Yamal tetap menjadi Yamal.

Tidak semua orang harus menang dengan cara yang sama. Mungkin itulah pesan terdalam dari sepak bola pagi ini

Trofi akan berpindah tangan.

Rekor akan berubah.

Generasi akan berganti.

Tetapi penghormatan kepada sesama manusia harus tetap tinggal.

Kopi pagi selepas Piala Dunia Hari ini. 20 Juli 2026