Piala Dunia FIFA 2026 telah resmi menutup tirainya. Turnamen olahraga terbesar di muka bumi ini kembali menyedot perhatian miliaran pasang mata dari berbagai belahan dunia. Edisi kali ini menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya digelar di tiga negara—Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada—serta diikuti oleh 48 negara peserta, format baru yang membuat kompetisi semakin kompetitif dan penuh kejutan. Selama 39 hari, dunia disuguhi pertandingan-pertandingan berkualitas, lahirnya bintang-bintang baru, drama kemenangan dan kekalahan, hingga berbagai kontroversi yang menghiasi setiap fase turnamen. Pada akhirnya, Timnas Spanyol tampil sebagai kampiun setelah menundukkan juara bertahan Argentina dalam laga final yang berlangsung sengit hingga babak tambahan waktu.
Namun, sebagaimana setiap perhelatan besar lainnya, Piala Dunia bukan hanya menyisakan catatan statistik, rekor, dan siapa yang mengangkat trofi. Sepak bola ternyata tidak hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi juga tentang akidah, rasa syukur, dan keadilan Di balik setiap pertandingan, tersimpan pula nilai-nilai dakwah yang berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah sehingga layak untuk direnungkan bersama.
Menempatkan Allah di Atas Segalanya
Momen pertama datang dari Timnas Senegal pada fase penyisihan grup. Di tengah peringatan cuaca ekstrem dan ancaman badai di New Jersey, Amerika Serikat, pelatih Pape Thiaw tetap membawa para pemain dan stafnya, termasuk Sadio Mané, untuk menunaikan Salat Jumat di sebuah Islamic Center. Padahal, otoritas keamanan dan FIFA telah mengimbau seluruh delegasi agar tetap berada di hotel demi alasan keselamatan. Keputusan tersebut memunculkan pertanyaan dari para jurnalis. Jawaban Pape Thiaw kemudian menjadi perhatian dunia.
"Apakah ada yang lebih penting daripada salat? Anda takut kepada angin, tetapi kami takut kepada Tuhan yang menciptakan angin. Kami datang ke sini untuk bermain sepak bola, tetapi kami tidak boleh melupakan kewajiban menyembah Allah. Bahkan jika hari ini kami bermain di final sekalipun, kami tetap akan pergi Salat Jumat meskipun harus kehilangan gelar."
Kalimat itu bukan sekadar pernyataan emosional. Ia adalah cerminan tauhid yang hidup dalam tindakan. Pape Thiaw menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak menjadikan prestasi, jabatan, maupun popularitas sebagai prioritas tertinggi. Semua itu berada di bawah ketaatan kepada Allah.
Di era ketika banyak orang rela mengorbankan prinsip demi karier, keuntungan, atau pengakuan publik, sikap tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran kesuksesan seorang muslim bukanlah seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, tetapi seberapa kokoh ia berdiri dalam ketaatan kepada Rabb-nya. Prestasi terbesar bukanlah mengangkat trofi, melainkan menjaga iman ketika godaan dunia datang silih berganti.
Ketika Gol Berujung Sujud Syukur
Pelajaran kedua hadir melalui selebrasi yang dilakukan sejumlah pemain muslim setelah mencetak gol. Lamine Yamal, penyerang muda Spanyol, melakukan sujud syukur setelah membobol gawang Arab Saudi pada fase grup. Hal yang sama dilakukan gelandang Swedia, Yasin Ayari, usai mencetak gol ke gawang Tunisia. Bahkan ketika Abdelhamid Sabiri memastikan kemenangan Maroko melalui adu penalti atas Belanda, para pemain Singa Atlas serempak bersujud syukur di tengah lapangan Estadio Monterrey, Meksiko.
Di tengah budaya selebrasi yang sering kali identik dengan euforia berlebihan, sujud syukur menghadirkan pesan yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan bukan semata hasil kerja keras manusia, melainkan karunia Allah yang patut disyukuri.
Rasulullah SAW juga mencontohkan hal tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Bakrah dan dicatat oleh Abu Dawud disebutkan bahwa setiap kali Nabi menerima kabar yang menggembirakan, beliau segera bersujud syukur kepada Allah. Demikian pula ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengabarkan banyaknya masyarakat Bani Hamdan di Yaman yang memeluk Islam, Rasulullah SAW langsung bersujud sebagai ungkapan syukur atas nikmat tersebut.
Di sinilah letak pelajarannya. Banyak orang mudah mengingat Allah ketika berada dalam kesulitan, tetapi lupa bersujud ketika berada di puncak keberhasilan. Padahal, justru kemenangan sering kali menjadi ujian yang lebih berat daripada kekalahan. Kesombongan dapat lahir dari prestasi, sedangkan syukur menjaga hati agar tetap rendah dan menyadari bahwa semua keberhasilan berasal dari Allah. Sujud syukur bukan sekadar gerakan tubuh, melainkan deklarasi bahwa tidak ada kemenangan tanpa izin-Nya.
VAR Mengingatkan Kita pada Pengadilan Allah
Pelajaran ketiga datang dari kontroversi keputusan wasit yang mewarnai sejumlah laga penting, salah satunya pertandingan babak 16 besar antara Argentina dan Mesir. Wasit asal Prancis, François Letexier, menjadi sorotan setelah membatalkan gol Mesir melalui tinjauan VAR karena dianggap terjadi pelanggaran sebelum gol tercipta. Menjelang akhir pertandingan, Mohamed Salah juga terjatuh di kotak penalti setelah berduel dengan pemain Argentina. Tim Mesir meminta penalti, namun wasit memilih melanjutkan pertandingan tanpa meninjau VAR. Keputusan-keputusan tersebut memicu protes keras dan memunculkan perdebatan panjang.
Fenomena ini mengingatkan kita pada satu kenyataan: seadil apa pun sistem yang dibuat manusia, tetap ada kemungkinan terjadi kekeliruan. Teknologi secanggih VAR pun masih bergantung pada penilaian manusia yang memiliki keterbatasan. Karena itu, tidak semua keputusan akan memuaskan semua pihak.
Namun, di atas semua pengadilan manusia, ada Pengadilan Allah yang tidak pernah salah. Allah adalah Hakim Yang Mahabijaksana dan Mahadil. Tidak ada satu amal pun yang luput dari penilaian-Nya, sekecil apa pun kebaikan atau keburukan yang dilakukan seorang hamba. Inilah makna firman Allah pada penutup Surah At-Tin ayat 8:
"Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?"
Kesadaran akan adanya pengadilan Allah semestinya melahirkan sikap yang lebih hati-hati dalam menjalani hidup. Jika keputusan manusia terkadang dapat dipengaruhi oleh keterbatasan informasi, persepsi, atau bahkan kekeliruan, maka keputusan Allah sepenuhnya didasarkan pada ilmu yang sempurna, keadilan yang mutlak, dan tidak akan pernah keliru. Karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya berusaha terlihat baik di hadapan manusia, tetapi harus benar-benar baik di hadapan Allah. Sebab pada akhirnya bukan opini publik yang menentukan nasib kita, melainkan keputusan Sang Hakim Yang Mahaadil.
Sepak Bola Lebih dari Sekadar Permainan
Piala Dunia memang telah berakhir dengan lahirnya satu juara. Namun, bagi seorang muslim, kemenangan sejati bukanlah mengangkat trofi, melainkan ketika setiap peristiwa mampu menambah keimanan dan menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sepak bola hanyalah pertandingan yang berlangsung selama 90 menit, sedangkan kehidupan adalah perjalanan panjang menuju akhirat yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Jika pertandingan sepak bola memiliki aturan, wasit, dan peluit akhir, maka kehidupan pun memiliki syariat sebagai pedoman, Allah sebagai Hakim Yang Mahaadil, serta hari hisab sebagai akhir dari seluruh perjalanan manusia. Pada saat itulah, bukan popularitas, harta, maupun prestasi dunia yang menjadi penentu, melainkan keimanan dan amal saleh yang telah dikerjakan.
Karena itu, jangan hanya menjadi penonton yang menikmati pertandingan, tetapi jadilah hamba yang mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Di balik kisah tentang menjaga salat, sujud syukur, maupun kontroversi keputusan wasit, terdapat pelajaran tentang tauhid, syukur, dan keyakinan akan keadilan Allah. Inilah yang membedakan cara pandang seorang mukmin: setiap peristiwa bukan sekadar tontonan, melainkan sarana untuk semakin mengenal Allah, memperkuat iman, dan mempersiapkan diri meraih kemenangan yang hakiki, yaitu ridha Allah SWT dan surga-Nya.
Dosen Program Studi Matematika FST UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Direktur CENDI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pembina Yayasan Al Ishlah Terpadu, dan Pengurus MPW PWM DIY.