100_20181019_FGD.jpg
Wahyu Muryadi saat memberikan materi Branding PTKIN

Kamis, 18 Oktober 2018 00:51:54 WIB

0

FGD dengan Pentolan Gatra dan Tempo, Humas PTKIN Harus Hebat di Era Disrupsi 4.0

Humas PTKIN se-Indonesia berkumpul di hotel Golden Tulip, Pasar Baru, Jakarta Pusat, mengikuti  Focused  Group Discussion (FGD), 17-18/18. Tiga orang tim humas dari UIN Sunan Kalijaga didampingi Kabag. Tata Usaha, Muhammad Mahyudin, S.H., M.A., tidak ketinggalan mengikuti forum ini. FGD yang digelar Ditjen Pendis, Kementerian Agama RI ini menghadirkan narasumber pentolan  Gatra, Mujib Rakhman  dan pentolan Tempo, yang juga Host TV-One,  Wahyu Muryadi.

FGD dibuka Sekretaris Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, Dr. Imam Syafe’i. Dalam arahannya antara lain menyampaikan, kehumasan PTKIN saat ini dituntut untuk benar benar menemukan strategi dan terobosan dalam membranding   perguruan tingginya masing masing. Sehingga bisa membentuk  image  masyarakat yang terus mengingat dan mengenal betul lembaga kita,  dimulai  dari  personal  branding. Dalam arti   personality  humas  tidak  mengandalkan  personality   pimpinan. Siapapun pimpinannya, humas harus memiliki karakter yang kuat  dari  personality   sendiri. Humas yang  personalitynya kuat, akan berpengaruh positif terhadap lingkungannya, dari struktur yang paling bawah sampai ke level pimpinan.

Kemudian ciptakan materi-materi publikasi yang  merupakan keunggulan dan kekhasan lembaga, hingga menancap di benak masyarakat. Disamping itu terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi. “Dunia berkembang sangat cepat dengan kecanggihan TI. Oleh karenanya respon terus perubahan dengan langkah langkah kreatif sehingga bisa menciptakan yang pertama, Seperti contohnya yang telah dilakukan Ditjen Pendis,” kata Dr. Imam.  Menurut Imam, Program santri berprestasi adalah yang pertama, kemudian diikuti program Bidikmisi dari kementerian Ristekdikti. Program perkemahan santri nusantara adalah yang pertama, kemudian diikuti program-program pemerintah lainnya yang menggunakan istilah nusantara. Program 5000 Doktor juga yang pertama, tambah Dr. Imam.

"Jadikan semua yang  ada di sekeliling kita sebagai sumber belajar agar bisa menjadi humas-humas yang hebat dengan  personality  yang  kuat," demikian harap Dr. Imam.

Sementara itu, Wahyu Muryadi antara lain menyampaikan, masih banyak humas membranding  institusinya dengan cara-cara yang tidak menarik. Ingat,  branding  yang salah bisa jadi blunder (menjatuhkan  reputasi institusi), kata Wahyudi.

Tugas humas membangun kepercayaan bagi institusi secara terus menerus, value-nya adalah kepercayaan masyarakat dan reputasi lembaga. Sementara arah  branding  ke  depan, tidak lagi berwujud virtual. Oleh karena itu, yang  perlu dilakukan kehumasan adalah  memaksimalkan  website  dan medsos. Namun tetap perlu menjalin hubungan baik dengan media massa (baik cetak dan elektronik), demikian jelas Wahyudi.

Mujib Rakhman dari Gatra mengkritisi cara-cara membangun citra institusi dari kehumasan PTKIN melalui press release yang dinilainya masih bersifat konservatif. Masih menampilkan berita berita seremonial. Menurut Mujib, trend  pemberitaan PTKIN perlu dikembangkan ke arah pengungkapan isu-isu yang menonjol di kampus, sehingga menjadi sajian yang  menarik bagi masyarakat. Dalam kegiatan seremonial, bukan rangkaian acaranya yang  diungkap, tetapi cermati dan ambil  angel  yang  menonjol, tampilkan keunikannya, sehingga berita menjadi hidup.

Hari kedua FGD, peserta diajak memahami arahan dari Ditjen Pendis, Prof. Dr. Khomaruddin Amin, Ph.D., dan praktek pembuatan vlog (video blog),  dengan terlebih dahulu dikenalkan teori, teknik dan strategi proses pembuatan video  dengan  smartphone  oleh  Abdul Malik M.Sn., seorang praktisi pembuatan video. Khomaruddin Amin dalam arahannya menyampaikan, banyak masyarakat, terlebih  di negara-negara tetangga yang belum memahami bahwa Kementerian Agama RI mengelola banyak sekolah dan PT yang memiliki banyak keunggulan. Mereka hanya mengetahui bahwa Kementerian  Agama  itu hanya mengurusi haji dan pernikahan. Maka kehumasan PTKIN perlu terus kerja ekstra untuk mempromosikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di bawah naungan kementerian agama. Kehumasan PTKIN perlu terus meningkatkan kemampuan bagaimana memanfaatkan internet untuk mempromosikan institusi masing-masing.

Bercermin dari pengalamannya  mengunjungi  beberapa PT ternama di dunia.  Sebelum berkunjung ia membayangkan betapa hebatnya universitas berkelas dunia tersebut. Ternyata setelah masuk di dalamnya, kehebatan itu tidak tampak. Artinya orang memahami kehebatannya  dari nilai-nilai  yang mereka publikasikan. PTKIN bisa mencontoh strategi publikasi mereka. Oleh karena itu, Humas  PTKIN perlu mengeksplore maksimal kekayaan akademik, keunggulan-keunggulan, dan marwah yang dimiliki PTKIN kepada masyarakat dunia. Seperti temuan riset, kegiatan mahasiswa, proses belajar mengajar, soft skill dan hard skill, kualitas dosen, kekuatan karakter civitas akademika, capaian kompetisi akedemik-non akademik, kiprah dalam pemberdayaan masyarakat, kurikulum, infrastruktur dan lain-lain.  Oleh karena itu,  Khomaruddin  Amin berharap kehumasan PTKIN memaksimalkan potensi dan memaksimalkan keahlian memanfaatkan teknologi informasi dalam rangka membangun citra Kementerian Agama mencapai reputasi dunia, demikian harap Prof. Khomaruddin  Amin.

Menanggapi forum ini,  Mahyudin berharap, agar bisa  memaksimalkan peran Humas UIN Sunan Kalijaga dalam merangkul semua elemen civitas akademika dan  berperan serta mensuport tugas-tugas kehumasan dengan menyampaikan  materi-materi publikasi seperti press release, video kegiatan, hasil-hasil kompetisi, karya riset dan sebagainya, untuk diolah oleh Humas  menjadi materi publikasi yang menarik dalam rangka membangun citra UIN Sunan Kalijaga. (tim humas)