Krisis lingkungan, kerusakan alam, hingga ancaman ketahanan pangan yang terjadi hari ini bukan sekadar kebetulan, melainkan konsekuensi dari cara manusia memperlakukan bumi. Dalam lanskap itulah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengambil posisi aktif dengan menjadikan ekoteologi sebagaimana digaungkan Kementerian Agama Republik Indonesia, sebagai landasan dalam membangun kesadaran ekologis berbasis nilai keagamaan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui keterlibatan dalam UI GreenMetric World University Rankings, sebagai bagian dari upaya mendorong kampus berkelanjutan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan nilai-nilai keislaman dalam praktik nyata.
Dalam kerangka ini, LPPM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Lokakarya UI GreenMetric di Aula Convention Hall, Rabu (29/4/2026), diikuti sekitar 56 pimpinan perguruan tinggi. Mengusung tema “Green Campus, Bright Future: Integrasi UI GreenMetric dalam Mewujudkan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi”, forum ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus penegasan arah baru Perguruan Tinggi Keagamaan dalam merespons isu keberlanjutan.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, menegaskan bahwa penyelenggaraan lokakarya ini tidak sekadar forum akademik, melainkan penanda kuat arah baru PTKIN dalam merespons isu keberlanjutan.
“Kami merasa sangat berbahagia dipercaya sebagai host. Kepercayaan ini memotivasi kami untuk terus meningkatkan posisi dalam UI GreenMetric. Tahun lalu kami pertama kali bergabung dan alhamdulillah dinobatkan sebagai peserta baru terbaik,” katanya.
Di sisi lain, Rektor menempatkan isu keberlanjutan sebagai agenda yang melampaui sekadar pemeringkatan. Menurutnya, UI GreenMetric adalah instrumen yang mendorong transformasi tata kelola kampus secara menyeluruh. “Isu keberlanjutan lingkungan saat ini bukan lagi sekadar wacana, tetapi telah menjadi agenda global yang menuntut komitmen nyata dari semua pihak, termasuk perguruan tinggi,” ungkapnya.
Dalam perspektif PTKIN, lanjutnya, komitmen tersebut memiliki dimensi yang lebih dalam. “Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, kita memiliki tanggung jawab moral dan teologis. Islam mengajarkan konsep khalifatullah fil ardh, bahwa manusia adalah pemimpin di bumi yang berkewajiban menjaga keseimbangan dan kelestarian alam,” tegasnya,
Karena itu, peningkatan capaian UI GreenMetric, menurutnya, tidak semata soal peringkat, melainkan bagian dari implementasi nilai-nilai keimanan dalam praktik nyata. “PTKIN tidak boleh sekadar menjadi peserta, tetapi harus menjadi pelopor. Kita harus serius, sistematis, dan terukur dalam membangun kampus hijau,” ujarnya. Upaya tersebut, lanjutnya, mencakup kebijakan energi, pengelolaan limbah, transportasi ramah lingkungan, hingga integrasi isu keberlanjutan dalam kurikulum dan riset.
Meski demikian, ia mengakui bahwa transformasi menuju kampus berkelanjutan bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan sendiri. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci. “Diperlukan kolaborasi, berbagi praktik baik, serta sinergi antar PTKIN agar kita dapat melangkah lebih cepat dan lebih efektif,” katanya.
Ia pun mendorong seluruh pimpinan PTKIN untuk menjadikan UI GreenMetric sebagai bagian dari strategi institusional. “ Ini harus menjadi bagian dari arah kebijakan kampus, dengan target yang jelas, tim yang solid, dan keterlibatan aktif seluruh sivitas akademika,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama Ketua UI GreenMetric, Vishnu Juwono, menyoroti bahwa dunia saat ini berada pada fase percepatan perubahan. Krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, tetapi realitas yang sedang berlangsung. Dalam konteks itu, universitas dituntut mengambil peran lebih dari sekadar pusat pengetahuan.
“Sebanyak 800 perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama, jika digerakkan secara kolektif, bukan hanya menjadi kekuatan nasional, tetapi juga global. Di sinilah ekoteologi menjadi krusial, menghadirkan agama sebagai kekuatan moral dalam menjaga keseimbangan alam,” ungkapnya.
Menurutnya, banyak kampus telah berbicara tentang green campus, namun PTKIN memiliki peluang melangkah lebih jauh, yakni menuju ethical transformation, mengintegrasikan pengetahuan (knowledge) dengan kebijaksanaan (wisdom).
Sementara itu, Inspektur Wilayah III Kementerian Agama, Syafi'i, mengingatkan bahwa upaya keberlanjutan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh komponen, termasuk lembaga keagamaan, sebagaimana gagasan ekoteologi yang dibumikan oleh Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.
“Agama harus kita jadikan sebagai paradigma dalam berinteraksi dengan alam. Ini bukan hanya soal program, tetapi harus menjadi sikap, kesadaran, dan gerakan Bersama, dari perencanaan, pelaksaan, hingga evaluasi,” tegasnya.
Lokakarya ini juga diisi dengan penandatanganan komitmen implementasi SDGs, sesi panel yang membahas indikator UI GreenMetric, serta kunjungan ke berbagai fasilitas unggulan UIN Sunan Kalijaga, mulai dari pengolahan sampah hingga layanan difabel yang terintegrasi dalam ekosistem kampus berkelanjutan.
Bagi UIN Sunan Kalijaga, langkah menuju kampus hijau bukanlah proyek sesaat, melainkan bagian dari transformasi jangka panjang. Di tengah percepatan perubahan global, kampus tidak lagi cukup menjadi ruang produksi pengetahuan. Ia dituntut hadir sebagai agen perubahan yang tidak hanya memahami dunia, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjaganya.(humassk)