Dalam pendidikan kedokteran modern, dosen berperan sebagai tutor yang memfasilitasi mahasiswa mengembangkan penalaran klinis, berpikir kritis, serta membangun kemandirian belajar melalui pembelajaran berbasis masalah.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Workshop Tutor Problem Based Learning (PBL) yang diikuti dosen dan laboran Program Studi Kedokteran pada Kamis (9/7/2026) di Fakultas Kedokteran. Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi universitas dalam mempersiapkan penyelenggaraan Program Studi Kedokteran sekaligus memastikan mahasiswa angkatan pertama memperoleh pengalaman belajar yang selaras dengan standar pendidikan kedokteran modern.
Workshop menghadirkan tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) sebagai perguruan tinggi pendamping. Seluruh materi dirancang tidak hanya untuk memperkuat pemahaman konseptual mengenai Problem Based Learning, tetapi juga membekali dosen dengan keterampilan menjadi tutor yang mampu mengarahkan proses berpikir mahasiswa secara sistematis.
Mengawali workshop, Prof. Dr. dr. Tri Nur Kristina, DMM., M.Kes., menjelaskan bahwa pendidikan kedokteran modern telah bergeser dari pembelajaran yang berpusat pada dosen (teacher-centered learning) menuju pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning).
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa didorong untuk aktif mengidentifikasi masalah, menganalisis kasus, berdiskusi, belajar mandiri, dan melakukan refleksi terhadap pengetahuan yang diperoleh. Perubahan paradigma ini menempatkan dosen bukan sebagai sumber utama informasi, melainkan fasilitator yang membimbing mahasiswa menemukan pengetahuan dan membangun penalaran klinisnya sendiri.
"Mahasiswa tidak hanya mengetahui apa yang harus dipelajari, tetapi juga memahami bagaimana cara mempelajarinya dan mengapa pengetahuan tersebut penting," jelasnya.
Ia menegaskan, keberhasilan implementasi Problem Based Learning sangat ditentukan oleh kualitas tutor dalam memfasilitasi proses belajar. Tutor tidak dituntut memberikan jawaban, tetapi mampu memancing rasa ingin tahu, mengarahkan diskusi, serta mendorong mahasiswa berpikir kritis dan sistematis ketika menghadapi suatu persoalan klinis.
Penguatan peran tutor tersebut diperdalam melalui paparan Dr. dr. Neni Susilaningsih yang membahas metode Seven Jumps in Problem Based Learning, yaitu tahapan diskusi tutorial yang menjadi kerangka utama dalam pendidikan kedokteran.
Ia menjelaskan bahwa proses pembelajaran berlangsung melalui tujuh langkah yang saling berkaitan, mulai dari klarifikasi istilah, identifikasi masalah, analisis berdasarkan pengetahuan awal, penyusunan hipotesis dan peta konsep, perumusan tujuan belajar, belajar mandiri, hingga sintesis hasil pembelajaran. Keseluruhan tahapan tersebut dirancang untuk melatih mahasiswa berpikir secara logis, sistematis, dan berbasis penalaran ilmiah.
Menurutnya, keberhasilan metode tersebut sangat bergantung pada kemampuan tutor menjaga dinamika diskusi tanpa mengambil alih proses berpikir mahasiswa.
"Tutor bukan pemberi kuliah, bukan pemberi jawaban, dan bukan penguji. Tutor bertugas membimbing proses belajar, memberikan pertanyaan terbuka, menjaga dinamika diskusi, serta menjadi teladan profesionalisme dan etika," ujarnya.
Sementara itu, dr. Ryan Halleyantoro, MSi.Med., Sp.Park., menyoroti pentingnya penyusunan skenario kasus (problem setting) dalam Problem Based Learning. Ia menjelaskan bahwa kualitas skenario akan menentukan kualitas proses belajar mahasiswa.
Menurutnya, skenario yang baik tidak sekadar menyajikan kasus klinis, tetapi mampu memicu mahasiswa mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesis, menelusuri literatur ilmiah, serta mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
"Skenario bukan sekadar soal atau cerita klinis, tetapi menjadi pemicu utama yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, mengidentifikasi masalah, mencari literatur ilmiah, serta membangun pengetahuan secara mandiri," jelasnya.
Tidak berhenti pada penyampaian paparan, workshop dilanjutkan dengan simulasi tutorial Problem Based Learning. Dalam sesi ini, salah seorang dosen berperan sebagai tutor, sementara peserta lainnya menjadi mahasiswa. Melalui simulasi tersebut, peserta mempraktikkan secara langsung teknik memfasilitasi diskusi, mengelola dinamika kelompok, mengajukan pertanyaan pemantik, serta memberikan arahan tanpa mendominasi proses belajar mahasiswa.
Pendekatan berbasis praktik tersebut memberikan pengalaman nyata bagi para dosen mengenai implementasi Problem Based Learning sebagaimana akan diterapkan dalam proses pembelajaran mahasiswa Program Studi Kedokteran UIN Sunan Kalijaga.
Penguatan kompetensi dosen sebagai tutor atau fasilitator menjadi salah satu fondasi penting dalam persiapan akademik UIN Sunan Kalijaga menjelang dimulainya perkuliahan Program Studi Kedokteran.
Melalui workshop ini, universitas memastikan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan kemampuan bernalar secara klinis, berpikir kritis, bekerja sama, serta belajar secara mandiri. Kompetensi tersebut menjadi bekal utama bagi mahasiswa untuk berkembang sebagai calon dokter yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang terus berkembang.(humassk)