Perjalanan pendidikan tinggi tidak selalu berjalan dengan cara yang sama bagi setiap mahasiswa. Bagi Oricho Delaokta, wisudawan Cumlaude yang dikukuhkan dalam wisuda periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu (12/8/2026) dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menyelesaikan studi menjadi perjalanan yang mempertemukan tantangan, dukungan, sekaligus pengalaman berharga sebagai mahasiswa difabel tunarungu.
Oricho menyelesaikan studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta setelah menjalani perkuliahan sejak 2022 hingga 2026. Dalam perjalanannya, ia menghadapi sejumlah tantangan, terutama berkaitan dengan bahasa, komunikasi, dan budaya dalam lingkungan perkuliahan.
“Saya mempunyai masalah tentang bahasa, kemudian tentang komunikasi, dan tentang budaya di dalam perkuliahan saya,” ujar Oricho melalui Rifki, relawan juru bahasa isyarat (JBI) dari Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tantangan tersebut tidak membuat Oricho berhenti melangkah. Dukungan dari lingkungan kampus menjadi salah satu bagian penting dalam prosesnya mengikuti perkuliahan. Ia merasakan bagaimana dosen berupaya menyesuaikan proses pembelajaran agar materi dapat dipahami dengan baik.
“Dosen ketika menjelaskan kuliah itu pelan-pelan dan saya bisa memahami inti perkuliahan tersebut,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Oricho untuk menyelesaikan pendidikan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kehadiran PLD, juru bahasa isyarat, relawan, serta dukungan dosen menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang membantu mahasiswa difabel mengikuti proses akademik.
Hal tersebut juga dirasakan oleh Rianti Agustini, ibu Oricho, yang hadir langsung dari Kutai, Kalimantan Timur bersama dengan keluarga dalam acara kelulusan anaknya. Menurutnya, keputusan keluarga memilih UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta didasarkan pada lingkungan kampus yang dinilai ramah terhadap mahasiswa difabel, terutama dengan keberadaan PLD.
“Alasan utama kami memilih UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta karena kampus ini sangat ramah difabel dan memiliki Pusat Layanan Difabel (PLD). Kami merasa di sini anak kami mendapatkan ruang, dukungan, serta fasilitas yang inklusif untuk berkembang,” tutur Rianti.
Menurut Rianti, pendampingan PLD memberikan dukungan yang sangat berarti selama Oricho menjalani perkuliahan. Kehadiran JBI dan relawan membantu Oricho mengikuti proses belajar-mengajar, sementara para dosen juga dinilai kooperatif dalam memahami kebutuhan mahasiswa difabel.
“Pendampingan dari PLD sangat luar biasa dan sangat membantu. Adanya juru bahasa isyarat dan teman-teman relawan di PLD membuat anak saya bisa mengikuti proses belajar-mengajar dengan lancar. Dosen-dosennya juga sangat kooperatif dan memahami kebutuhan mahasiswa difabel,” jelasnya.
Bagi keluarga, keberhasilan Oricho mencapai wisuda menjadi kebanggaan sekaligus momen emosional. Rianti mengaku merasa bangga, bahagia, dan terharu melihat perjuangan anaknya sejak awal kuliah hingga akhirnya mengenakan toga.
“Perasaan saya sangat bangga, sangat bahagia, dan terharu yang tak terhingga. Melihat perjuangan anak saya dari awal kuliah sampai akhirnya bisa berdiri di sini dan diwisuda hari ini,” ungkapnya.
Sementara bagi Oricho, wisuda menjadi momen yang menghadirkan dua perasaan sekaligus. Ia mengaku bahagia karena telah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga merasa sedih karena harus meninggalkan berbagai kenangan selama menjalani masa perkuliahan sejak 2022.
“Tentu senang ketika sudah wisuda di hari ini. Namun, saya juga sedih karena masih punya kenang-kenangan dari masa kuliah tahun 2022 hingga tahun 2026,” ujarnya.
Pengalaman Oricho menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan kesempatan untuk masuk perguruan tinggi, tetapi juga bagaimana lingkungan akademik memberikan dukungan agar setiap mahasiswa dapat mengikuti proses pembelajaran dan berkembang sesuai potensinya.
Bagi Oricho, keberadaan lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Ia pun mengajak mahasiswa difabel yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi untuk tidak ragu menempuh pendidikan dan memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan.
“Untuk teman-teman difabel yang ingin daftar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mungkin bisa belajar tentang agama, tentang ilmu budaya, dan lain-lain. Pokoknya macam-macam ilmunya,” pesannya.
Pesan serupa disampaikan Rianti kepada para orang tua yang memiliki anak difabel. Ia berharap para orang tua tidak merasa minder atau membatasi cita-cita anak karena kondisi yang dimiliki.
“Jangan pernah berkecil hati atau minder. Tetap berikan dukungan penuh, semangat, dan percaya pada potensi anak-anak kita. Dengan lingkungan yang inklusif dan dukungan yang tepat, anak-anak kita juga pasti bisa berprestasi dan menggapai cita-citanya,” pesannya.
Oricho adalah satu potret bagaimana keberagaman mahasiswa dan inklusivitas menjadi bagian dari kehidupan akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Melalui dukungan layanan difabel, sivitas akademika, serta lingkungan pembelajaran yang adaptif, mahasiswa dengan berbagai kondisi dan latar belakang memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan menyelesaikan pendidikan tinggi. (humassk)