Memasuki dunia perkuliahan menghadirkan tantangan yang berbeda bagi setiap mahasiswa. Bagi mahasiswa difabel, proses adaptasi juga berkaitan dengan akses terhadap materi pembelajaran, komunikasi, mobilitas, dan lingkungan sosial yang mendukung. Karena itu, inklusivitas tidak cukup diwujudkan dengan membuka pintu penerimaan mahasiswa, tetapi perlu hadir dalam setiap tahap perjalanan akademik mereka.
Semangat tersebut mewarnai pelaksanaan Sosialisasi Pembelajaran (SOSPEM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu–Kamis (26–27/8/2026). Kegiatan yang menjadi jembatan transisi dari bangku sekolah menuju dunia perkuliahan itu dilaksanakan secara klasikal di setiap fakultas. Masing-masing kelas didampingi oleh dua fasilitator.
Melalui Pusat Layanan Difabel (PLD) di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UIN Sunan Kalijaga memberikan pendampingan agar mahasiswa difabel dapat mengikuti seluruh rangkaian SOSPEM secara aksesibel. Pendampingan berlangsung sejak mahasiswa memasuki kelas hingga kegiatan berakhir dan disesuaikan dengan kebutuhan setiap peserta.
Mahasiswa tunanetra dan mahasiswa dengan hambatan mobilitas, misalnya, memperoleh bantuan untuk mengakses ruang kegiatan. Sementara itu, mahasiswa Tuli didampingi relawan yang bertugas sebagai notetaker dan, sesuai kebutuhan, membantu komunikasi menggunakan bahasa isyarat. Pendampingan juga diberikan kepada mahasiswa autistik, mahasiswa dengan ADHD, serta mahasiswa dengan ragam kebutuhan lainnya.
Dukungan tersebut melibatkan para mahasiswa yang tergabung sebagai relawan PLD. Sebelum menjalankan tugas, mereka memperoleh pembekalan, termasuk pelatihan bahasa isyarat, agar dapat memberikan pendampingan secara tepat dengan tetap menghormati pilihan dan kemandirian mahasiswa difabel.
Koordinator PLD UIN Sunan Kalijaga, Dr. Asep Jahidin, menjelaskan bahwa pendampingan dalam SOSPEM dilandasi semangat penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas di perguruan tinggi sebagai bagian utuh dari warga negara.
“UIN Sunan Kalijaga terus berupaya memberikan dukungan terbaik untuk merawat dan mengembangkan ekosistem inklusi melalui berbagai layanan, salah satunya pendampingan mahasiswa difabel selama mengikuti SOSPEM,” ujarnya.
Salah seorang relawan PLD, Muhamad Rizkana Agnia Adnin, awalnya mendaftarkan diri sebagai pendamping mahasiswa Tuli. Kini, dalam menjalankan perannya sebagai relawan, ia turut mendampingi mahasiswa difabel dengan beragam kebutuhan. Ketertarikannya menjadi relawan tumbuh setelah melihat peran PLD dalam membangun lingkungan kampus yang inklusif..
“Saya sangat takjub dengan keberadaan PLD karena menunjukkan kesungguhan UIN Sunan Kalijaga dalam membangun lingkungan yang inklusif. Karena itu, saya ingin belajar berkomunikasi, mengenal lebih dekat, dan mendampingi teman-teman Tuli,” ungkapnya.
Semangat kerelawanan juga ditunjukkan Nia, mahasiswa Tuli Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, yang kini duduk di semester lima. Nia bukan semata-mata penerima layanan, tetapi juga turut mengambil peran sebagai relawan PLD.
Berbekal ketertarikan dan keterampilannya dalam bidang media serta penyuntingan visual, Nia membantu produksi konten dan desain. Dalam pelaksanaan SOSPEM, ia turut mendukung kebutuhan media kegiatan dengan kemampuan desain dan penyuntingan visual yang dikuasainya.
“Saya senang bisa ikut berkontribusi sebagai relawan PLD. Melalui kemampuan di bidang media dan desain, saya ingin membantu kegiatan sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Tuli juga memiliki ruang untuk berkarya dan mengambil peran di lingkungan kampus,” ungkap Nia melalui bahasa isyarat.
Keterlibatan Nia memperlihatkan bahwa ekosistem inklusif dibangun melalui relasi yang setara. Mahasiswa difabel memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya sekaligus memiliki ruang untuk berkontribusi, berkarya, dan mendampingi mahasiswa lainnya.
Pendampingan dalam SOSPEM menjadi salah satu wujud bahwa akses pendidikan bukan sekadar kesempatan untuk diterima di perguruan tinggi. Akses juga berarti memastikan setiap mahasiswa dapat hadir, mengikuti pembelajaran, mengembangkan potensi, serta mengambil peran secara bermartabat dalam kehidupan kampus.
Di UIN Sunan Kalijaga, inklusivitas terus diupayakan agar menjadi budaya yang hidup di ruang kelas, dalam kegiatan kemahasiswaan, dan melalui interaksi sehari-hari seluruh warga kampus.(humassk)