WhatsApp Image 2026-09-21 at 15.39.42.jpeg

Senin, 21 September 2026 16:19:00 WIB

0

UIN Sunan Kalijaga Hidupkan Jejak Sejarah melalui Pameran Arsip Perdana

Lembar-lembar surat kabar itu telah menguning dimakan usia. Di dekatnya, foto-foto hitam putih merekam wajah, gedung, dan peristiwa dari sebuah masa yang terasa jauh. Buku-buku lama, dokumen resmi, hingga majalah mahasiswa tersusun di Lobi Gedung PAU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (21/9/2026).


Pagi itu, lobi gedung bukan lagi sekadar ruang perlintasan. Ia menjelma lorong waktu yang membawa pengunjung kembali ke lebih dari tujuh dekade silam, ketika perguruan tinggi Islam negeri pertama di Indonesia masih berupa gagasan yang perlahan diperjuangkan menjadi kenyataan.


Jejak tersebut dihadirkan melalui Pameran Arsip bertajuk “RINTISAN: Jejak yang Tak Terhapus, Lintas Waktu 1951–1961: Membaca Ulang Akar Identitas”. Pameran ini menjadi pameran arsip pertama yang diselenggarakan UIN Sunan Kalijaga, sekaligus sebagai yang pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN).


Tidak ada arsip yang dibiarkan berdiri sebagai benda mati. Setiap foto, potongan berita, buku, dan dokumen ditempatkan sebagai bagian dari sebuah cerita besar, tentang lahirnya pendidikan tinggi Islam negeri dan orang-orang yang bekerja di baliknya.


Cerita itu dimulai melalui sebuah lini masa. Tahun-tahun di dalamnya menghubungkan kepingan perjalanan dari pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI) pada 1945, lalu berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada 1948, hingga pemisahan Fakultas Agama UII untuk dinegerikan oleh pemerintah di bawah Kementerian Agama.


Dari proses panjang itulah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta lahir. PTAIN resmi berdiri pada 26 September 1951 dengan Prof. K.H.R. Mohammad Adnan sebagai rektor pertamanya. Tanggal tersebut kemudian menjadi penanda penting dalam perjalanan UIN Sunan Kalijaga hingga hari ini.

Dari lini masa, langkah pengunjung diarahkan menuju deretan surat kabar lama. Di sana, sejarah PTAIN hadir melalui bahasa pers pada masa awal republik.


Surat kabar Asia Raya menyimpan jejak pendirian Sekolah Tinggi Islam. Kedaulatan Rakyat memuat maklumat Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta, sedangkan Suara Rakyat merekam peresmian PTAIN oleh Menteri Agama K.H. Wahid Hasjim. Surat kabar Merdeka turut mengabarkan pembukaan perguruan tinggi Islam tersebut.

Dalam edisi Kedaulatan Rakyat tahun 1953, pengunjung dapat membaca pemberitaan mengenai Dies Natalis ke-2 PTAIN. Huruf-huruf dalam potongan surat kabar itu mungkin telah memudar, tetapi kabar yang dibawanya tetap hidup, bahwa kelahiran PTAIN bukan sekadar peristiwa di lingkungan kampus, melainkan bagian dari percakapan publik pada tahun-tahun awal Indonesia merdeka.


Jika surat kabar mencatat peristiwa melalui kata-kata, deretan foto koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menghadirkan wajah dan suasananya.

Salah satu foto memperlihatkan gedung PTAIN di kawasan Sekip, Yogyakarta. Foto lainnya mengabadikan penyerahan dokumen PTAIN kepada Menteri Agama K.H. Wahid Hasjim oleh ketua panitia peresmian perguruan tinggi Islam.

Di dalam bingkai yang sama, tampak Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Sardjito. Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan bahwa pendirian PTAIN memperoleh perhatian besar dari pemimpin nasional dan daerah pada masa itu.

Sosok Prof. K.H.R. Mohammad Adnan pun hadir dalam beragam peristiwa yang melampaui ruang kampus. Salah satu foto merekam dirinya sebagai Mantan Ketua Misi Haji saat menyerahkan bendera Merah Putih yang pernah berkibar di Padang Arafah kepada Presiden Soekarno.


Dalam foto lain, Prof. Adnan tampak berpidato pada peringatan Isra Mikraj. Di antara para tamu yang hadir, terlihat Fatmawati menyimak jalannya acara.

Ada pula rekaman visual ketika Presiden Soekarno memberikan kuliah umum di PTAIN pada 1952. Foto-foto berikutnya membawa pengunjung menyaksikan suasana Dies Natalis ke-2 PTAIN dan kunjungan Wakil Perdana Menteri Mesir yang didampingi Wakil Perdana Menteri II Harsono Tjokroaminoto.

Pemikiran Prof. Muchtar Jahja juga hadir melalui 22 buku cetak yang dipamerkan. Salah satunya berjudul Pertumbuhan Akal dan Memanfaatkan Naluri Kanak-Kanak. Koleksi tersebut memperlihatkan keluasan perhatian Muchtar Jahja terhadap pendidikan, perkembangan manusia, dan kehidupan keagamaan.


Karya Prof. K.H.R. Mohammad Adnan mengenai peringatan hari-hari besar Islam turut dihadirkan. Begitu pula naskah pidato Menteri Agama saat peresmian PTAIN dan pidato Ketua Fakultas PTAIN, K.H. Mohammad Adnan.

Di antara dokumen resmi dan karya para tokoh, tersimpan jejak kehidupan mahasiswa PTAIN pada masa awal. Jejak itu ditemukan dalam buku tahunan mahasiswa pertama PTAIN Yogyakarta yang koleksinya berada di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY serta Perpustakaan Nasional.

Pameran juga menghadirkan Criterium, majalah bulanan mahasiswa perguruan tinggi Islam. Dari halaman-halamannya, pengunjung dapat membayangkan dinamika intelektual anak-anak muda pada masa itu, tentang apa yang mereka pikirkan, diskusikan, dan tuliskan ketika republik ini masih berusia belia.

Di balik tertatanya seluruh koleksi itu, terdapat proses pencarian yang panjang. Kepala Unit Arsip UIN Sunan Kalijaga, Wahyu Setianingsih menuturkan bahwa tim sengaja memilih periode 1951–1961 sebagai fokus pameran.

Perjalanan UIN Sunan Kalijaga telah membentang selama 75 tahun. Rentang tersebut terlalu panjang untuk dipadatkan seluruhnya dalam satu pameran. Karena itu, tim memilih memulai dari masa rintisan, periode ketika dasar-dasar institusi diletakkan.

Ketika penelusuran dimulai, lanjut Aning, tim bertolak dari dua nama, yakni Prof. K.H.R. Mohammad Adnan dan Prof. Muchtar Jahja. Pencarian berlangsung perlahan. Satu informasi membawa mereka kepada informasi berikutnya. Hingga kemudian diketahui bahwa salah seorang cucu Prof. Adnan merupakan dosen UIN Sunan Kalijaga. Dari pertemuan itu, jalur komunikasi dengan keluarga mulai terbuka. Tim akhirnya terhubung dengan putra-putri Prof. Adnan yang tinggal di Jakarta dan Amerika Serikat.

Pencarian keluarga Prof. Muchtar Jahja menghadirkan cerita yang tidak kalah mengharukan. Tim sempat menerima informasi bahwa ahli warisnya sudah tidak ada. Harapan untuk menghadirkan suara keluarga nyaris berhenti di sana.

Namun, sekitar dua pekan menjelang pameran, datang kabar bahwa putra Prof. Muchtar Jahja masih hidup. Pertemuan dengan keluarga besar pun akhirnya terwujud.

Aning juga menceritakan kesulitan serupa ketika tim menelusuri pemberitaan mengenai perjalanan STI, UII, Fakultas Agama UII, hingga proses penegeriannya menjadi PTAIN. Pencarian dari satu sumber ke sumber lain akhirnya mempertemukan tim dengan pemberitaan Asia Raya dan berbagai surat kabar lama yang membantu menyambungkan kembali potongan sejarah kelembagaan.

Perjalanan pencarian tersebut dirangkum dalam sebuah video dokumenter. Tayangan itu menghadirkan kesaksian keluarga kedua rektor serta Dr. Damami, dosen UIN Sunan Kalijaga yang menulis manuskrip mengenai sejarah universitas.

Suara keluarga memberikan lapisan yang lebih personal pada dokumen-dokumen resmi. Sejarah yang semula tampak sebagai deretan tahun dan keputusan berubah menjadi kisah tentang orang tua, keluarga, perjuangan, serta warisan pemikiran yang tetap dikenang oleh generasi penerusnya.

Aning menuturkan, arsip kerap dibayangkan sebagai tumpukan kertas lama yang lusuh dan membosankan. Melalui pameran ini, anggapan tersebut ingin diubah. Foto, surat kabar, buku, dan dokumen lama dirangkai menjadi sebuah cerita agar pengunjung dapat menikmati arsip, memahami informasi di dalamnya, sekaligus merasakan kembali suasana masa lalu.

Di tengah usia ke-75 UIN Sunan Kalijaga, arsip-arsip itu membawa satu pengingat, universitas besar tidak tumbuh dalam semalam. Ia dirintis melalui gagasan, keberanian mengambil keputusan, ketekunan membangun kelembagaan, dan kerja sunyi orang-orang yang percaya bahwa Indonesia membutuhkan perguruan tinggi Islam negeri.

Tujuh puluh lima tahun kemudian, jejak tersebut kembali berbicara dari Lobi Gedung PAU. Generasi hari ini dapat melihat seberapa jauh UIN Sunan Kalijaga telah melangkah, sekaligus memahami akar yang harus tetap dijaga ketika universitas bergerak menuju masa depan.(humassk)