Perjalanan alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menunjukkan bahwa pendidikan di kampus tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan studi. Nilai, karakter, dan kemampuan belajar yang dibangun selama berada di almamater terus dibawa untuk berkiprah di berbagai bidang kehidupan dan memberi kontribusi bagi masyarakat.
Pesan
tersebut mengemuka dalam sarasehan bertajuk “Dari UIN Jogja: Merajut Sinergi
untuk Masa Depan Indonesia (Best Practice
Kontribusi Alumni)” yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan IKASUKA 2026,
Sabtu (26/9/2026), di Convention Hall Lt. 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Forum yang dimoderatori Prof. Dr. Imam Machali ini menghadirkan sejumlah alumni
yang kini menempati posisi strategis di berbagai institusi.
Rektor
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam sambutannya menegaskan bahwa perjalanan UIN
Sunan Kalijaga merupakan perjalanan transformasi yang panjang. Berdiri sejak
1951, UIN Sunan Kalijaga terus berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi
yang berupaya memperkuat kiprahnya di tingkat nasional maupun global.
Dalam
perkembangan tersebut, penguatan kualitas akademik dan riset menjadi salah satu
perhatian utama. Rektor menekankan bahwa orientasi riset tidak semata-mata
diarahkan pada kuantitas publikasi, tetapi juga pada research impact atau dampak yang dihasilkan bagi masyarakat dan
perkembangan ilmu pengetahuan.
Transformasi
juga terlihat dari pengembangan akademik UIN Sunan Kalijaga melalui penambahan
berbagai program studi baru, termasuk hadirnya Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar kampus untuk
merespons kebutuhan masyarakat sekaligus memperluas kontribusi perguruan
tinggi.
Di
tengah proses tersebut, alumni menjadi bagian penting dari perjalanan
almamater. Rektor menyampaikan bahwa dukungan alumni turut membantu membuka
jejaring dan mempercepat berbagai proses pengembangan kelembagaan, termasuk
dalam komunikasi dan proses birokrasi dengan kementerian terkait. Karena itu,
Rektor berharap hubungan antara kampus dan alumni terus diperkuat untuk
mewujudkan pengembangan UIN Sunan Kalijaga di masa mendatang.
Kisah
para alumni yang hadir dalam sarasehan memperlihatkan beragam jalur pengabdian
setelah menyelesaikan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga.
Dr.
Muhammad Syukron Habiby, Senior Vice President PT Bank Syariah Indonesia Tbk.,
merupakan alumni bidang Hukum Islam. Ia berbagi pengalaman tentang perjalanan
kariernya yang berkembang dari latar pendidikan keislaman menuju dunia
profesional dan perbankan.
Menurutnya,
dunia kerja setelah lulus memiliki ruang yang sangat luas. Karena itu, alumni
perlu membekali diri dengan kemampuan yang memungkinkan mereka berkompetisi
dalam lingkungan global, salah satunya kemampuan berbahasa Inggris. Ia juga
menyoroti pentingnya membangun jejaring alumni secara terencana dan kuat agar
dapat menjadi kekuatan bersama bagi almamater.
Sementara
itu, Prof. Dr. Masnun Tahir, M.Ag., Rektor UIN Mataram sekaligus alumni
Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, mengajak para alumni untuk tidak melupakan
almamater setelah memasuki dunia profesional.
Ia
menekankan pentingnya kontribusi nyata alumni, baik melalui pemikiran,
jejaring, maupun dukungan lainnya. Baginya, keberadaan alumni bukan sekadar
menjadi catatan perjalanan lulusan, tetapi dapat menjadi kekuatan yang ikut
mendorong kemajuan institusi.
Prof.
Masnun juga mengingatkan pentingnya menjaga silaturahmi lintas kelompok dan
organisasi. Nilai yang diperoleh selama menjadi bagian dari UIN Sunan Kalijaga,
menurutnya, menjadi bekal bagi alumni untuk membangun relasi, menjembatani
perbedaan, dan hadir di tengah masyarakat.
Pengalaman
serupa disampaikan Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A., alumni Tafsir Hadis IAIN
Sunan Kalijaga yang lulus pada 2004 dan kini berkiprah sebagai Wakil Ketua
Komisi IX DPR RI.
Nihayatul
menilai pendidikan di UIN Sunan Kalijaga tidak hanya memberikan bekal keilmuan,
tetapi juga membentuk mental pembelajar. Bekal tersebut membuat seseorang mampu
beradaptasi ketika memasuki bidang pekerjaan yang berbeda dari latar belakang
akademiknya.
Dalam
tugasnya di Komisi IX DPR RI, ia bersinggungan dengan berbagai isu teknis,
antara lain kesehatan, ketenagakerjaan, kependudukan, BPJS, BPOM, dan Badan
Gizi Nasional. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa lulusan dengan latar
pendidikan keislaman memiliki ruang untuk terus belajar dan berkontribusi di
berbagai bidang.
Nihayatul
juga membuka peluang sinergi antara jejaring alumni dengan berbagai lembaga
mitra, termasuk peluang pengembangan beasiswa di bidang kesehatan, khususnya
untuk pendidikan dokter spesialis dan dokter gigi.
Sementara
itu, Syarifuddin, S.Ag., M.E., Pimpinan BAZNAS RI Bidang Riset, Pengembangan,
Perencanaan, dan Inovasi, menyoroti pentingnya keberanian dalam mengambil
peluang dan kemampuan beradaptasi dalam perjalanan karier.
Ia
mengingatkan bahwa setiap orang memiliki jalan dan strategi masing-masing.
Karena itu, alumni perlu berani menghadapi lingkungan baru, mengambil
kesempatan, dan terus mengembangkan kemampuan setelah mendapatkan kesempatan
tersebut.
Lebih
jauh, ia menekankan pentingnya karakter dan soft
skill sebagai bekal dalam menjalani kehidupan profesional. Pesannya
sederhana: di mana pun berada, seseorang perlu menjalankan tugas dan tanggung
jawab dengan sungguh-sungguh serta memberikan kontribusi terbaik.
Pesan
mengenai kapasitas alumni juga disampaikan Ihsanuddin, Direktur Perencanaan
Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan. Alumni UIN Sunan
Kalijaga dari bidang Akidah dan Filsafat ini mengisahkan perjalanan kariernya
yang tidak selalu berjalan linear, hingga akhirnya dipercaya menempati posisi
strategis di BPJS Ketenagakerjaan.
Pengalamannya
menunjukkan bahwa latar pendidikan tidak membatasi ruang pengabdian seseorang.
Dengan ketekunan, kemampuan belajar, keberanian mengambil peluang, serta
kemauan untuk terus berkembang, alumni UIN Sunan Kalijaga dapat berkiprah di
berbagai sektor.
“Di
mana pun berada, jadilah yang terbaik,” menjadi salah satu pesan yang ia
tekankan kepada para peserta, khususnya mahasiswa yang masih menempuh
pendidikan.
Beragam
pengalaman tersebut memperlihatkan satu benang merah: hubungan antara perguruan
tinggi dan alumni tidak berakhir pada seremoni kelulusan. Ia dapat berkembang
menjadi jejaring pengetahuan, kerja sama, pengabdian, dan kontribusi yang
saling menguatkan.
Bagi
UIN Sunan Kalijaga, kiprah para alumni di berbagai bidang sekaligus menjadi
bagian dari rekam jejak dampak pendidikan yang diberikan kampus. Alumni hadir
sebagai akademisi, profesional, birokrat, legislator, pemimpin lembaga, hingga
penggerak filantropi, membawa nilai dan pengalaman yang diperoleh dari
almamater ke ruang pengabdian masing-masing.
Melalui
forum IKASUKA 2026, semangat tersebut kembali dipertegas: kemajuan UIN Sunan
Kalijaga bukan hanya menjadi tanggung jawab kampus, tetapi juga ruang
kontribusi bersama seluruh keluarga besar almamater.
Dari
ruang-ruang kuliah di UIN Sunan Kalijaga, para alumni menempuh jalan yang
beragam. Namun, pada satu titik, berbagai jalan itu kembali bertemu: untuk
menjaga silaturahmi, berbagi pengalaman, dan bersama-sama merajut kontribusi
bagi masa depan Indonesia. (humassk)